Pengantar Box Jutawan

Pengantar Box Jutawan
PESAN SIDANG


__ADS_3

Mendapat kabar dari irt kala mas Hari pergi ke club untuk minum, Mikha mengancam untuk pergi dari rumah. Apalagi mendengar kenyataan bising saat ia menelepon Eri yang membohongi tak jadi meeting.


Mikha merasa kesal, ia mengemas barang dengan sebuah koper. Berniat untuk tinggal beberapa malam di rumah Osin. Tak jauh dari kompleknya. Hanya beda blok, dan Osin cukup gugup membantu.


"Mikha, lo yakin ga mau bilang sama pak Hari, nanti kalau gue di pecat, gue gimana sama pak bos?"


"Ga perlu, dia aja bisa senaknya main pergi ke club. Dalam keadaan gue hamil besar, dia bisa seenaknya pergi gitu aja?" kesal Mikha merasa dibohongi.


Asisten meminta nyonya untuk sabar dan menjaga emosi. Tapi tetap saja, Mikha yang terpasang emosi ia jadi keras kepala. Hingga Mikha melihat lima puluh sembilan detik lagi, waktu hampir habis telah dua puluh menit belum juga pria itu sampai.


"Tidak ada waktu, bibi titip rumah ya. Lagi pula Tuan Bram, tidak akan pulang. Ia langsung ke eropa sejak pagi!"


"Baik bu, kalau ibu mau makan apa atau butuh sesuatu bilang saja bu kabari saya. Saya antar ke rumah bu Osin ya nyonya."


"Ya bi makasih."


Hingga lama, Mikha segera mendorong koper dengan rasa tak percaya. Ia merasakan sesuatu yang melilit.


"Mikha, lo kenapa. Please jangan bikin gue takut!"


"Perut gue sakit Osin, aduh!"


Bibi dan Osin yang melihat. Ia membawa Mikha duduk di sofa. Hingga memberikan air hangat untuk minum. Dengan bantal berukuran kotak, untuk menyangga punggung. Hingga beberapa menit, rasa sakit itu hilang.

__ADS_1


Tarik nafas Nyah! inget nyonya jangan emosi berlebihan. Bisa aja tuan sedang tidak pergi kesana, bisa saja bibi salah dengar. Bibi minta maaf ya nyah.


"Gak, bibi ga salah. Tetap awasi tuan kalau bibi dengar yang aneh aneh, kabari pada saya!" hela nafas Mikha memerintah.


Sementara Osin, ia cukup terkejut. Melihat dan mengingat jika pernikahan itu tidaklah mudah. Bagi dirinya yang berpasangan saja. Membuat ia semakin runyam untuk berkomitmen ke jenjang serius. Tapi melihat Mikha, semarah tadi ia jadi memikirkan jika Hari sama saja dengan pria seperti Eri.


Tak lama, dari ujung sudut. Eri membawa Hari dengan senyum sumringah. Terlihat biasa saja, tapi jelas Mikha tak mudah di bohongi. Kala pria itu masuk dengan mata yang berputar seperti ban oleng yang siap di lempar.


"Sayang. Mas pulang, jangan marah ya. Mas tadi antar Eri ke wanitanya. Benarkan Er?" tawa kedip mata.


"Huaaah. Bbbp-bukan begitu, kami ga benar benar kesana kok bu bos. Benar, tadi itu ..Awwwhk." Eri menahan sakit, kala kakinya di injak.


Mendengar hal itu membuat Mikha marah, ia melupakan keberadaan Osin dan Eri. Sedang asisten juga yang melihat ikut nimbrung.


"Sayang, jangan tinggalkan mas. Mas janji, mas tidak akan membuat masalah lagi. Mas janji tidak akan kepo dengan urusan Eri dan menjodohkannya dengan Osin lagi. Mas janji akan .." mulut Hari di tutup. Lalu tersenyum kala melihat Eri dan Osin menaikan alis.


Dengan tampak jelas, Mikha menarik suaminya ke kamar. Meminta bantuan pada Eri agar membawa Hari duluan keruang kamarnya.


"Eri, bawa ke kamar dua. Jangan ke kamar utama!"


Mikha menutup bibir, dan hidung karena bau alkohol yang menyedak di indra penciumannya.


Dengan berat hati, Eri membantu. Meski ucapan mas Hari masih saja blur dan ngaur. Hal itu membuat Osin pamit, karena dirinya mendapat pesan dari ibunya Ryo saat ini.

__ADS_1


"Mikha, lihat lo kaya gini. Kayaknya pak Hari takut sama istri ya. Ga jauh beda kaya sinetron di dunia perfilman."


"Hah, alibi. Gue gak yakin, nasib gue kalau ga lagi hamil. Gue udah tinggal pergi liburan."


"Mikha, mama Rea minta ketemuan. Gue pamit ya, lo selesain dengan kepala dingin ya. Ga baik, kabur kaburan udah nikah!"


Mikha mengerenyitkan alis, bisa bisanya tadi ia menceramahi Osin. Kini berbalik Osin kembali menceramahinya. Hingga ia juga senyum dan berkata agar Osin baik baik saja.


"Serius, lo udah ga sakit lagi?"


"Gak, kejadian tadi cuma sakit biasa. Kontraksi biasa yang gak lama, kontraksi palsu. Udah ya, gue makasih lo udah dateng Osin."


"Oke bye."


Beberapa puluh menit kemudian Mikha masuk ke kamar utama. Ia mengunci pintu kamar, kala dirinya tak ingin satu kamar dengan mas Hari, penuh dengan bau yang aneh. Hingga di mana ia meletakan ponsel dan melihat kembali.


[ Bu Mikha, terdakwa Lena ingin bertemu. Apa ibu bersedia hadir, semua agar sidang banding sempurna dan terdakwa tidak akan mendapat potongan hukuman Ringan.] pesan dari Pengacara.


Menatap pesan itu, Mikha terdiam dan menimang nimang untuk hadir. Ia tahu, bagaimana Lena dengan dirinya yang sedang hamil besar, apa ia sanggup menerima kesedihan dan ketakutan lagi.


Jujur Mikha inginkan Lena dan Dani tetap dapat hukuman setimpal, tampak pengurangan sekalipun. Tapi tersangka juga hamil seperti dirinya, yang membuat Mikha bingung meski Lena saat ini hamil tiga bulan sementara ia hamil tua, jiwa kepedulian Mikha dan kasihan pun mulai ada.


Tapi mengingat aksi kejahatan Lena dan Dani padanya serta Mas Hari tragedi saat itu, membuat Mikha berfikir dua kali, bahwa kejahatan Lena sudah melampaui batas.

__ADS_1


Tbc.


__ADS_2