
"Izinkan gue pergi ke eropa, salah satu tempat!"
"Baiklah Ayo!"
Hingga beberapa hari kemudian, ditemani Eri di hotel yang sama, Eri benar benar setia kala itu mendampingi kemauan Osin yang keras kepala.
Malam ini, Osin telah duduk di taman. Ia menghampiri berbagai sebuah restoran yang mirip seperti club. Dengan melihat bangunan besar di penjuru kota. Ia menunggu kedatangan Ryo yang tak lain, menunggu hubungannya ingin di bawa pergi ke mana.
Dengan berat hati, sudah empat jam ia menunggu tak ada batang hidung pun yang muncul. Osin benar benar kesal, mengapa ia kenal dengan Ryo yang seperti anak kecil saat merajuk. Ia tak dewasa, dan juga memikirkan dirinya yang telah jauh.
JLEGEEER !!! HUJAN RINTIK TURUN SEMAKIN LEBAT.
Osin menatap dagunya kala sebuah payung hitam, telah memayungi membuat kepala rambut tak jatuh terkena air hujan. Belum lagi sebuah mantel, dan Eri datang dengan kilat meminta Osin untuk pulang. Meski tak ingin, awalnya, Osin memohon ingin tetap menunggu Ryo dan bicara kepastian.
Osin akhirnya dengan berat hati, harus meletakkan surat dengan sebuah tulisan di bangku panjang. Dengan tulisan untuk Ryo, dengan berat hati ia segera berdiri dan menerima rangkulan Eri, yang tak mana ia juga sempat bersin bersin kala cuaca semakin ekstrim.
Osin tak menyangka, jika nasibnya harus begini. Ia ingin sekali berbicara dengan menatap wajah, meminta maaf dan meski hubungan mereka harus putus di tengah jalan. Osin sadar, ia putus asa dan mau tidak mau hanya Eri kini yang harus terima. Tidak ada lagi, kebahagiaan untuk berkomitmen selain menerima Eri.
"Pria itu tidak akan mau menemuimu, sudah berapa kali aku bilang padamu. Jangan buang waktumu!"
"Tapi, aku hanya mencoba. Mamanya seorang wanita dan ibu. Aku harus bagaimana Eri? Setidaknya aku bisa menjelaskan dan bertatap apa yang harus aku terima."
"Sudahlah, ayo masuk! Di luar sangat dingin!"
HAAACIH ..HAAACIH!!
Eri membantu memberikan mantel, dengan berat hati Osin menerima balutan mantel berbulu itu dengan senyum dan lembut. Ada rasa kesedihan mendalam, kala Osin tak bisa memutuskan untuk bertemu. Ia begitu sakit, merasakan sesak kala ia merasa cinta tapi di acuhkan.
Kenapa setiap aku mencintai dalam, pria selalu membuatku sakit? Apa aku di takdirkan tak bisa untuk mencintai dan saling mencintai seperti pasangan umumnya. Benak Osin menunduk dan bersandar menghadap kaca. Kala dirinya hanya diam tak ingin menoleh ke arah tatapan Eri saat mobil itu melaju.
__ADS_1
"Bandara sekarang pak!" hembusan teriakan Eri yang meminta supir untuk cepat mengantarnya. Tapi raut wajah Osin, tetap saja tak bergeming sepatah kata pun.
"Aku tahu, aku bukan tipemu. Tapi aku pria yang bertanggung jawab dan bekomitmen untuk setia tak melukaimu Osin." deru batin Eri menatap Osin.
Sementara dari ujung, Ryo dengan balutan jas hujan hitam. Ia kembali menatap taman yang telah di janjikan. Ia begitu berkaca kaca akan kesedihan, ia harus membuka lipatan surat itu dengan kekecewaan.
"I'm sorry Osin. I did all this to you," saya minta maaf padamu Osin, telah melakukan semua padamu.
Ryo dari jauh, harus menelan pahit, kala dirinya harus melepas Osin tanpa pertemuan kembali. Ryo yang belum siap sebagai calon ayah dan berkomitmen, meski ia punya rasa.
'Gue tahu, apa yang terbaik buat lo. Dari itu gue minta Eri buat tanggung jawab sama lo, gue salah udah melukai dan membuat bekas di tanda hati dan mungkin sakit, tapi gue akan hilang dari hadapan lo Osin. Ga perlu lagi kita bertemu dengan tatapan penuh arti dan senyuman, cukup orang asing sama seperti awal tak mengenal' batin Ryo, yang meminta tuan Bram, untuk ditugaskan di eropa yang bebas.
Ryo mengambil kertas dari bangku dengan sengaja. Ia segera membawanya kedalam saku jas tak akan terkena air. Melihat mobil hitam yang di tumpangi Osin dan Eri sudah semakin jauh. Jauh dari lubuk hatinya, sangat sakit kala dirinya harus melepas Osin. Ia harus bertukar perasaan, kala melihat Eri mencintai Osin.
'Gue harap lo benar benar bisa membahagiakan Osin!' Ryo, melangkah pergi, karena sampai saat ini Osin tidak tahu tentang keluarga Ryo dan Eri.
***
Mikha tengah masih mode merajuk, kejadian mas Hari, membuat ia sakit dan sesak. Ia sengaja duduk di teras rumah menunggu mas Hari pulang dari kantor. Tubuh Mikha akhir akhir ini semakin lelah, ia sudah tak bisa lagi ke kantor karena sudah hamil besar. Ia juga tak perlu khawatir kala dirinya tak ada di samping mas Hari. Ada Rani asisten rumah yang lebih mengerti.
Sebuah bel berbunyi membuat ia bingung, siang hari ia memikirkan siapa tamu yang datang. Namun karena bibi di rumah sedang kepasar. Ia memberanikan diri untuk membuka gerbang.
CEKLEG!!
"Dani, gila kamu bisa sampai kesini? Pergi kamu!" Mikha menutup gerbang, namun cekatan tangan itu kembali menahan.
"Aku minta waktu sebentar saja. Please Mikha, aku memang buronan karena kabur ingin bertemu denganmu!"
"Dani, kamu pria picik gila yang aku temui. Untuk apa kamu datang lagi dan bisa bisanya kamu melangkah kerumahku yang baru?"
__ADS_1
"Tidak penting, aku mudah mencarimu meski beribu alamat kamu pindah Mikha. Tapi maukah kamu menemani teman hidupku, meski rintangan tiba aku berusaha berusaha selalu di sisimu. Tolong pertimbangkan! tinggalkan Hari, yang cacat itu! Suamimu itu akalnya sedikit hilang, bahkan salah satu tangannya palsu."
"Cukup! Pergi dari sini Dani!"
"Cabut gugatan itu, dan kembali lah padaku Mikha!"
Mikha diam termenung apa ini nyata?? ia pun diam seribu basa tak menjawab. Merasa kesal akan dirinya saat ini menatap pria tak tahu diri.
Aku tahu, masalahmu sulit dan masih menata hati, tapi aku akan berlapang hati, asalkan kamu bersedia selalu bersamaku dan menemani. Jadilah teman hidupku, kita bisa bersama sama Mikha. Hari, selamanya akan gila, tangan plastik itu, apa kamu tega melihat anak anak nanti melihat ayahnya tak sempurna?"
Mikha hanya diam. Seolah ingin menolak tak sanggup, menerima pun takut itulah dipikirannya. Hatinya sangat marah akan perkataan Dani yang begitu menusuk.
Dani tahu, wajah Mikha ingin mengatakan sesuatu. "Jika kamu diam apa kamu menerimanya?" ungkap Dani.
Plaaagh!! menjijikan kamu Dani, enyahlah jangan pernah kamu datang tepat di wajahku lagi!!
Mikha berjalan meninggalkan gerbang, ia berusaha ingin segera masuk kedalam rumah. Tapi nahas, Dani menarik tangannya seolah tak terima akan sikap Mikha.
"Kamu ga bisa kaya gini sama aku, Mikha ingat sejak dulu kamu banyak di bantu oleh siapa. KELUARGAKU MIKHA?" teriak marah Dani..
"Tidak, pergi kamu Dani, tolong!!"
Teriakan Mikha membuat dirinya semakin menahan kesakitan. Hingga di mana ia mencoba menahan dan melangkah tangga bebatuan.
Aauwwh!! sakit mendalam kala kakinya terbentur. Tak sengaja Dani membuat kaki Mikha terluka, hingga di mana sebuah cairan begitu saja merembes dari pangkal kaki atas yang terlihat kebawah mata kaki.
Sakit!! Sakit, Aaaaaakhwh!! bibi .... !!! teriak Mikha menahan satu tangan ke sebuah dinding batu pohon rindang. Sementara satu tangan menahan area sensitif karena ia memakai dress balutan seperti daster bermotif berwarna Abu abu..
Dani yang panik, ia seolah tahu jika Mikha akan melahirkan, berniat mendiamkan tanpa membantu. Tapi kala Mikha lagi lagi berteriak dan pagar yang terbuka. Seluruh warga datang termasuk bibi dari pasar datang melihatnya.
__ADS_1
NYONYAA .. YA AMPUN, TOLONG NYONYA SAYA , NYONYA SAYA MAU MELAHIRKAN!!!
Tbc.