Pengantar Box Jutawan

Pengantar Box Jutawan
WAJAH PALSU BRAM


__ADS_3

Jingga dan Bram mereka bisa mengobrol satu sama lain seperti sekarang ini saat keduanya sudah duduk di kursi pesawat! mereka hanya punya waktu sebentar untuk boarding, tadi. Jadi agak hectic, bahkan tak di hampir telat. jadi saat ini memang stres free untuk Bram.


"Ya susah!" Bram memang tidak ada yang tertarik di sana!


"Ih, jangan bikin gemes deh aku pengen tahu!"


Jingga memaksa, sehingga Bram menggerakkan tangannya merogoh saku celananya


"Nah coba liat ini, deh!"


Sebuah foto ada di layar ponsel! foto yang membuat Jingga berdesir di dalam hatinya.


'Jadi ini cewek yang bikin Bram jatuh cinta? Huh, dulu aku melihat dia emang keren sih! tapi kenapa sekarang aku ngelihat dia nyeri hatiku ya? kek pelakor mo rebut suami orang?'


Jingga tak paham tapi dia tidak suka dengan pemandangan di hadapannya, Hingga ..


"Hemm, kayak gitu mana ada keren-kerennya? aku aja nggak suka!" seru Jingga ketus


"Heish, dilihat dari manapun juga dia cantik istimewa tau!"


Kata-kata Bram ini membuat Jingga berkedip menahan gemas.


Apalagi!


"Coba kau lihat matanya, Jingga! coba lihat juga bagaimana cara dia menatap dengan mata elangnya. Wajahnya yang terpahat sempurna dan terlihat cool ini kelihatan indah banget tau, Jingga!"


"Ahh, tau ah!" Jingga menjauhkan handphone Bram darinya! greget sangat hati Jingga.


"Nggak ada keren-kerennya! masih kerenan juga aku!"


"Anak manja kayak kamu itu nggak ada guna! mana ada keren!" sindir Bram makin bikin Jingga ingin menggerus wajahnya.


"Ih, apa tadi? enak aja!" Jingga merengut. 'Awas nanti kau menyesal menolakku, Bram! Kau tahu, wanita sepertiku sangat ditunggu oleh pria.”


"Kalau begitu uberlah pria yang memang menunggumu.”


'Asem!' pekik hati Jingga, susah sekali mendapat perhatian kakunya Bram.


Saat di sindir Bram dengan senyum di bibirnya lalu dia mengalihkan lagi pandangan matanya menatap foto di handphonenya, ketika pesawat kini sudah full power untuk take off! sama dengan full powernya senyum di wajah Bram.

__ADS_1


"Kalau ngeliat wajahnya, secape apapun semua rasa pegal itu hilang! ada harapan untuk tetap bersemangat hidup selama kami ada di dunia yang sama, meski tak bersama, itu cukup dan aku selalu bahagia karena pernah bersama dengannya, menghabiskan waktu bersama dan bisa jatuh cinta padanya."


'Gila sih, aku kalah sama yang kaya gituan di mata Bram!'


ingin rasanya Jingga berteriak saat itu juga! Bagaimana tidak kesal? dia sudah merayu Bram setengah mati dari tadi, membujuk Kenan agar ia pulang supaya bisa berdua saja dengan Bram. Akan tetapi tidak ada senyum semanis senyum Bram memandang foto Elea! gondok sangat, jiwa bersaing wanitanya terasa tersaingi.


'Awas ya, Bram! someday, Aku pasti bisa bikin hatimu jatuh cinta padaku!' batin Jingga. Gerutu Jingga memuncak di dalam hatinya


lalu aku bisa membuatmu jatuh cinta kepadaku meski kau tak cinta kepadaku...


Beri sedikit waktu agar cinta datang karena terbiasammmmmp..


"Diem, diem! sember suaranya, bikin malu juga, lagi take off ini, bukan jet pribadi sih!"


"Hmmmph!"


Jingga terpaksa menyikut-nyikut tubuh Bram, karena mulutnya yang sedang di bekap.


"Haaah, apaan sih! nyanyi juga nggak boleh gitu? itu lagunya Tata Janeeta, aku pen denger aja!"


"Tuh, kan.. tuh! anak kecil kayak gini mana tahu! udah jelas itu lagunya Dewa 19!" seru Bram membuat Jingga mengerlingkan netranya.


"lagi ngapa sih, aku lagi nyanyi juga diganggu?" protes Jingga lagi.


"Heish, nyanyinya nyindir aku kan? sampai kapanpun juga aku nggak akan suka sama dirimu, Jingga!" Bram bicara sambil menggoyangkan handphonenya dan menunjukkan foto yang masih ada di sana.


"Wah, kau benar-benar menyesal nanti kalau memang ada orang yang menyukaiku, Bram.”


"Berarti sekarang belum ada kan? Ga laku ya?”


Jedug!


'Nah sakit kan kejedot!' untung pas sekali pesawat menabrak awan! jadi seakan-akan Jingga mendapat hiburan, melihat Bram memegang kepalanya. Tadi memang kurang smooth take off-nya. Karena pengaruh cuaca juga.


“Bukan belum ada, Bram! tapi aku belum mau membuka diri. Jangan-jangan kau yang tidak laku ya?”


"Banyak yang suka tapi aku nggak suka! cintaku cuman buat Kamu semata!"


Bram pun menutupi wajahnya karena malas, benar benar kembar tidak identik dan benar benar sikap yang jauh dari Elea. Penat Bram kala itu.

__ADS_1


'Sumpah nyebelin banget! kalau aku harus bersaing sama cewek nggak masalah lah! tapi ini Aku harus bersaing sama ... ish!' sungguh harga diri Jingga sebagai wanita tercabik-cabik di sini! apa yang kurang dari dirinya? padahal Elea dan dirinya sama saja.


"Aku jamin ya, Bram suatu saat nanti kau pasti akan suka sama aku!" Jingga masih ngancem-ngancem.


"Terserah kau sajalah. Tapi nanti kalau aku nggak suka dan tetap kayak gini, jangan nyesel! ntar nangis lagi!” goda Bram jujur dia juga tidak bisa menahan tawa untuk yang satu ini


'Bocah, bocah! Hahaha! mau sampai kapanpun kau mencoba tetap Elea yang ada di hatiku! the only one and only,' bisik hati Bram yang memang sesuai dengan ucapannya barusan! dia sangat pede dengan ini dan sudah mengantongi kembali handphonenya, yang memang sudah di airplane mode.


"Lihat nanti kau akan menyesal kalau aku sudah bersama pria lain, loh Bram.”


"Justru aku merasa bahagia tak harus repot-repot ke New York untuk berpura-pura jadi pacarmu.”


"Huh terserah kau sajalah!”


"Fokus! Tadi kau ingin membicarakan tentang ayahmu kan, Jingga?"


Bram ingat sesuatu dan Jingga langsung menjentikkan jarinya


"Oh iya!”


Dia pun menceritakan semua yang memang harus diketahui oleh Bram, semua rahasia itu. Supaya Bram tidak salah bicara nanti di depan ayahnya dan juga demi keberhasilan rencananya.


"Apa kau mengerti, Bram?"


"Pertanyaan ini sudah kau ulang berkali-kali dari saat kita naik pesawat ini sampai sekarang pesawat sudah mendarat, masa ya aku ga ngerti? otakku kan lebih gede prosesornya!"


Perjalanan selama sembilan jam itu dihabiskan oleh Jingga dan Bram banyak membahas masalah Tuan Tjandra! Pria yang cukup mengerikan untuk Jingga! seorang yang begitu dihargai di keluarganya dan pengambil keputusan terbesar!


"Iya, apa kau paham?”


"Tak perlu kau pikir. Ayo kita bersiap turun!"


Mereka sudah ada di bandara dan hati Jingga pun juga semakin berdegup.


"Kau yakin bisa meyakinkan ayahku kan, Bram?"


Jingga memegang tangan Bram, dia tidak berani minta gendong seperti Kenan yang manis, karena kakinya sudah tidak terlalu sakit. Lagi pula mereka sudah tidak ada di pasir dan mereka juga tidak buru-buru. Bram ga masalah jalan kaya siput juga. Ia juga datang karena banyak yang harus ia selidiki dengan Tjandra dibalik dalang s kontruksi, sehingga mendekat pada Jingga yang manja, harus ia tahan.


TBC.

__ADS_1


__ADS_2