Pengantar Box Jutawan

Pengantar Box Jutawan
S2 SIASAT SENA


__ADS_3

"Siren, serius ini bucket untukmu, tapi tanpa nama, eh tunggu! lihat ini ada kartu ucapan dari tuan Daru, oh my goss .. rasanya pria itu seperti hantu, apa dia tidak bosan melawan keluarga suamimu?"


"Hah, serius. Dia datang pasti mau hancurin, yang aku juga ga ngerti."


"True." ujar Mikha.


"Sepertinya aku harus bicara dengan Daru, jangan berlebih seperti ini bagaimanapun aku sudah bersuami, jika Damar tahu, mungkin aku akan lelah seharian. Dan jika Dady Bram, mertuaku tahu, bisa perang senapan."


"Lelah seharian .. maksudmu Sir?"


"Ah lupakan! bukan apa apa," memicik pura pura.


Tak begitu lama, tiba saja ponsel Siren berdering, terlihat suami tercintanya, di layar ponsel. Siren membuka layar ponsel dan wajah Damar terpampang jelas, video call.


"Hubby .. sudah dirumah?" senyum Siren.


"Sayang sedang apa, .. dan jelaskan berita hari ini?" wajah kesal Damar, tiba saja bagai petir, menutup panggilan vcall hanya


mengintrogasi peringatan.


Gleuk.


"Berita apa .. ?" wajah Siren kebingungan, karena ponsel sudah dimatikan, oleh suami tercinta.


"Siren! lihat jangan berduka berita ini pasti suamimu salah paham."


Teriak Mikha, yang menguping tak sengaja mendapat notif berita. Siren pun membacanya, sebuah berita tak masuk akal.


"Lho, ini kan ketika aku kembali dari toilet, dan ini tadi saat menerima bucket bunga yang aku pikir tamu itu loh Mik..,"

__ADS_1


Siren mendera nafas menatap Mikha kala itu yang lemas.


"Siren, aku cuma mau ucapkan! yang tabah ya!"


"Huaaaah..." lemas Siren.


Sementara Siren, diam kaku dan bersandar ke kasur lemas.


"Huft ... aku pasti kuat benarkan Mikha, aku akan tabah ketika Damar dan mertuaku mengecam kelak di mansion."


Siren menguatkan dirinya sendiri, kala itu pada sahabatnya, sesekali melihat Mikha menelepon suaminya namun tak ada jawaban. Mikha berusaha menjelaskan pada suaminya, yakni Hari Hartanto, si paman Damar tentunya, bisa saja melibatkan Hari, ia bisa meredakan Bram yang akan murka, karena di kira menantunya menyelingkuhi putranya, maklum usia tua mertua Siren, membuat asumsi jika berita selalu dipercaya.


Di Berbeda Tempat.


Setelah pulang kantor Damar, meeting diluar acara. Pikirannya benar benar bercabang mengapa berita itu mengganggunya, ingin sekali menyusul Siren, tapi meeting belum berakhir, dan masih banyak pertemuan penting lainnya, yang melibatkan Dady Bram, untuk menyelesaikan perusahaan, baru pribadinya.


Saat selesai, Damar mengikuti minum bersama, dengan para investor yang sedikit bermasalah. Karena persaingan akan menarik dana kembali, tentu saja itu membuat Damar tak bisa berfikir baik, bahkan ketika mendapati berita mengejutkan istrinya masuk media bersama si Daru gila. Tapi paman Hari, meminta Damar sukseskan project penting.


Meski Siren menelepon, ia sedang meeting terpaksa ia mematikan ponsel nya, karena waktu yang tidak tepat pikirannya terbagi.


Hingga pertemuan itu, Damar meminum wine berlebih ketika acara selesai, sakin penat Damar menerima ajakan klien untuk minum sesaat.


"Sena pergilah biarkan aku sendiri sudah cukup lembur mu, tentang investor itu aku akan menyelesaikannya ketika aku mengunjungi Alex!"


"Baik, saya permisi pulang." intrik Sena, membuat hal picik.


Kemeja yang sudah acak acak an, Damar sesekali mengusap rambutnya dan bersandar pada sofa diruang vvip, ia memesan hingga minum sebanyak itu, dan pandangan yang kabur membuatnya tergeletak tak berdaya, sudah ada janji jika paman Alex akan menemuinya di tempat ini.


Setengah jam berlalu, dari luar, Sena mengintip, ia membuka ruangan itu mendapatkan Damar, sudah tak berdaya! Ia pun masuk memanfaatkan situasi Damar. Ketika mendekat, lengan Sena ditarik Damar, dan jatuh tersungkur menindih tubuhnya, namun Damar pun tak sadarkan diri, ketika menyebut nama Siren.

__ADS_1


Sena langsung tepat sasaran, ia mengabadikan foto nya, yang membuat rumah tangga Damar retak, dan bergegas pergi sebelum Alex serta Hari Hartanto datang.


"Bravo yes...! hal diluar dugaan tak perlu memakai cara Arini." lirih Sena senyum.


'Sebuah jebakan sudah masuk perangkap,


Damar kamu harus membayar luka patah hatiku, yang menunggumu sudah lama.' batin Sena, lalu menutup pintu rapat ruangan itu.


Hingga Esok pagi, ketika itu pun Damar membuka mata dengan berat. Terlihat baju kemeja yang terbuka dan mendapati Sena disampingnya sedang menangis. Apakah semalam paman Alex tidak jadi datang, tapi kenapa Sena sepagi ini menangis di dekatnya.


"Sena sedang apa kau disini dan aku jangan bilang .. ?"


Sena pun menceritakan sebuah kebohongan agar, Damar mau bertanggung jawab dengan penuh drama.


Prang. "Itu tidak mungkin."


Sebuah gelas dan botol, Damar jatuhkan ketika mendengar penjelasan tak masuk akal.


"Braagh .. Itu tidak mungkin Sena, aku sangat mencintai istriku, kita hanya teman tak lebih. Jika terjadi padamu katakan dan aku akan meliburkan dirimu. Aku akan segera mengirim uang untukmu! dan memastikan itu bukan aku, jangan melalukan hal bodoh jika kau berbohong, kau tahu berhadapan dengan siapa?"


Damar, segera beranjak dari ruangan itu.


"Tapi Damar, jika aku sampai hamil kamu harus bertanggung jawab."


"Tidak akan pernah, tidak ada yang hamil, jika ini sebuah intrik licik mu. Ingat, kamu diterima disini karena paman Alex." ketus Damar.


Sena mencoba menangis histeris. Namun tertawa jahat ketika Damar tak terlihat.


"Aah, sial .. Damar masih saja beku padaku." kesal Siren kala itu.

__ADS_1


Sena, kembali melakukan sebuah cara agar Damar, dan Papa Bram bisa percaya padanya. Semata ingin di nikahi Damar, bahkan rasa cintanya membuat Sena melakukan segala cara.


TBC.


__ADS_2