Pengantar Box Jutawan

Pengantar Box Jutawan
MISI TERPECAHKAN


__ADS_3

Tidak sangka, Bram berada dalam jurang kematian untuk kedua kalinya. Jika saja ia ingin mengutuk, ia ingin mengutuk Oliver mati, agar tidak lagi menyuruh nyuruhnya melawan penjahat. Bukankah utusan langit punya kekuatan yang magic, tapi Oliver bilang jika kekuatan langit tidak bisa sembarang digunakan. Maka caranya adalah manual dengan bantuan Bram. Oliver juga bilang, jika tak ada Bram si KEBERUNTUNGAN manusia terpilih, maka Oliver Kristalion atau disapa Olive, ia hanya sebatas asap awan yang tidak terlihat.


Berkat Olive juga, perdebatan yang tak tahu di mana ujungnya itu pun berakhir juga.


Bram menyeringai. Pun dengan Briyan Briana.


"Serang!" Dia mengangkat tangannya, menggerakkan dua jarinya untuk mengisyaratkan anggotanya untuk mengepung kedua pemuda itu.


Bram mengambil ancang-ancang. Tanpa berbasa-basi, dirinya langsung berduel dengan Briyan Briana, yang terkenal begitu jago dalam bela diri dan sangat berkuasa. Hari ini Bram ingin tahu, benarkah yang orang-orang ucapkan itu?


BRUK ..


"Aaaaa!"


Hanya dengan satu kali tinju, Briyan Briana pun tersungkur di tanah. Dalam hitungan belum satu menit bertarung, Bram sudah berhasil membuat Briyan Briana mati kutu tak berdaya.


"Dengarkan untuk kalian! Aku telah berhasil mengirim ketua kalian ke alam baka!" seru Bram lantang, pada anak buah Briyan Briana.


"Aku harap tidak ada satupun dari kalian yang melawan, maka kalian akan berakhir sama, seperti Bos kalian! Jadi, diam dan ikuti apa yang saya perintahkan. Mengerti!" teriak Bram.


Mereka yang tengah mengeroyok Olive pun segera menghentikan pertarungan. Dua melawan puluhan orang, mana bisa?


Bisa, kalau pemimpin mereka yang lebih dulu dikalahkan, maka seluruh anggota akan kalah. Mudah bukan? Bram telah membuktikannya.


"Polisi, cepat datang ke jalan Gunung Retak. Gedung H paling atas. Segera!"


Olive baru saja menghubungi pihak yang berwajib. Seharusnya mereka datang kurang dari lima menit.


Bram memasang wajah penuh kemenangan, sementara Olive masih belum percaya dengan apa yang dilihatnya sekarang.

__ADS_1


Lima menit berikutnya. Berbeda mobil dari pihak berwajib pun datang. Segera mereka mengepung area sekitar.


Para polisi mulai memborgol satu persatu anggota kampak Merah dan seperti yang Bram perintahkan, mereka pun diam dan menurut saja.


Olive yang berdiri di samping Bram pun masih tidak percaya dengan semua ini. Apa pun yang keluar dari mulut Bram seperti mantra yang dapat menghipnotis semua orang untuk mengikuti perintahnya.


Olive sudah membuka mulutnya dan siap untuk melontarkan pertanyaan. Namun, tertahan, karena Bram mengangkat sebelah tangannya, "Aku tahu apa yang Tuan ingin katakan?"


Pandangannya dan Olive saling berhadapan,


"Sama halnya dengan Tuan yang mampu mengambil tindakan sesuai keinginan Tuan, maka aku pun bisa melakukannya. Dalam dunia hitam, terutama setiap organisasi memiliki aturan. Siapa pun yang berhasil menghabisi Ketua mereka, maka ia yang akan menjadi Ketua," cerocosnya sambil membusungkan badan.


"Karena aku telah berhasil membunuh Ketua mereka, maka akulah yang akan menjadi Ketua Merah sekarang. Jadi, semua yang kukatakan, maka mereka akan menurut. Paham?"


Bram melenggang pergi sambil memasang wajah sombong, songong dan arogan, yang menggambarkan sifat-sifat ketua Mafia pada umumnya.


"Ah, bagaimana bisa dirinya bersikap sombong seperti itu? Sejak kapan dirinya mulai berani berkata sombong di depanku, ah dia lupa kalau aku utusan langit! kekuatannya itu ada pada energiku yang ditransfer, tapi adanya Bram aku juga terlihat seperti manusia. Hufft! jadi siapa yang diuntungkan kalau begini ..?" pikir Olive, kala ini pikirannya buntu akan sikap Bram yang ketus.


Biarpun jaraknya sudah jauh, tetapi Bram masih bisa mendengar jelas Olive yang sedang merutuki kata-katanya tadi.


"Ingat ya pemirsa. Adegan tadi jangan ditiru di rumah ya. Pada hakekatnya, sebagai manusia kita tidak boleh sombong, apa lagi dengan orang yang lebih dewasa. Akan tetapi, kita perlu percaya diri dengan apa yang kita miliki. Ingat itu!" cercah Olive berbicara sendiri, entah ia bicara pada siapa.


Bram pun memasuki mobil salah satu petugas kepolisian. Dirinya diminta untuk menjadi saksi sekaligus orang yang telah membunuh Ketua Kapak Merah.


Maka Bram dan Olive segera ke kantor polisi, perlu beberapa waktu agar Bram dimintai keterangan. Bagusnya jika ia diberikan penghargaan, tapi apalah daya dinegri nya membunuh penjahat hanya datar saja polisi tak memberikan apresiasi, hanya bilang makasih telah membantu pihak polisi, itupun Bram merogoh kocek tak sedikit untuk meminta polisi membereskan sisanya, jika tidak akan ada lagi markas yang mengatasnamakan mafia perebut kekuasaan rakyat miskin.


***


Dari hari ke hari berikutnya. Nama Kampak Merah pun tidak lagi terdengar. Kehidupan tiga wilayah yang menjadi kekuasaan Kampak Merah kini telah kembali normal.

__ADS_1


Mereka yang semula takut untuk membuka usaha, akhirnya mulai membangun usaha kembali.


Tugas Bram, pun telah selesai di sana. Selama satu bulan, dirinya belajar banyak hal. Tak serta merta bela diri saja. Akan tetapi, belajar untuk lebih memperhatikan orang-orang sekitarnya.


"Kakak!" teriak Arsen Khaimar pun memeluk Bram begitu erat, tak rela jika pemuda itu pergi dari desanya.


"Jangan pergi, Kak! Kalau kakak pergi, nanti aku sama siapa? Aku jadinya tidak bisa belajar bela diri lagi dengan kakak."


Terkadang Bram berpikir kalau Arsen Khaimar itu bukanlah remaja 16 tahun, tapi lebih mirip disebut anak-anak yang akan menangis saat ditinggal pergi orang tuanya.


Betapa manjanya dia pada Bram, bergelayut layaknya Orang Hutan.


"Dengar ya. Bela diri itu tidak wajib kamu pelajari lebih mendalam, yang seharusnya kamu kejar adalah pendidikan dan juga cita-citamu. Kamu harus menjadi orang yang sukses di masa depan dan membuat orang tuamu bangga. Pun dengan kakak, yang akan sangat bahagia jika kamu benar-benar mewujudkan semua mimpimu." Bram, berpesan dan Arsen menyimak dengan baik.


Arsen yang pemikirannya telah dewasa itu sedikitnya dapat memahami kiat-kiat yang diucapkan Bram padanya.


"Kakak tidak perlu mengkhawatirkan diriku, karena setelah ini aku akan belajar lebih giat lagi, untuk mencapai cita-citaku. Aku akan membuat orang tuaku, nenekku dan kakak bangga padaku. Aku berjanji!"


Bram pun melingkarkan jari kelingkingnya pada milik Arsen. Kedua jari yang sudah menyatu sudah mengikrarkan janji, sebagaimana yang seharusnya terjadi.


Bram pun tak bisa berlama-lama karena hari akan mulai sore. Dirinya telah selesai mengemas pakaian dan juga sudah berpamitan dengan pemilik kontrakan yang disewanya.


Sebelum pergi, Bram lebih dulu berpamitan dengan rekan guru yang ada di sekolah, plus Olive ikut berpamitan. Dirinya yang menjalani tugas menjadi kepala sekolah di sana pun telah menyelesaikan tugasnya selama setahun lebih itu, akhirnya bisa terbebas dari mereka murid-murid SMP yang setiap harinya membuat telinganya sakit dan kepalanya ingin pecah.


"Dah, Kak Bram. Kak Olive! Hati-hati di jalan. Jangan lupa untuk mampir!" teriak Arsen, saat detik-detik mobil Olive mulai meninggalkan area sekolah. Dirinya cukup sedih karena tidak akan bisa saling bertukar pikiran dengan Bram.


"Aku berharap, kita bisa bertemu lagi di masa depan, Kak Bram!" teriak bocah 16 tahun itu penuh harap.


TBC

__ADS_1


__ADS_2