Pengantar Box Jutawan

Pengantar Box Jutawan
DI TINGGALKAN


__ADS_3

Di saat kritis kedatangan tamu tak di undang, Mikha meminta sang bibi menghubungi tuannya saat ini.


Bersyukur asisten di rumah membawa Mikha cepat ke rumah sakit. Dan menelepon keluarga majikannya. Karena saat itu, Hari keluar kota akan urusan bisnis secara mendadak.


"Sakit .."


Mikha kala itu melahirkan tanpa suami di sisinya, sehingga ia mencoba tabah saat ini juga, bahwa suami sibuk dan banyak usaha, tidaklah sempurna sesuai keinginan kemauan kita, terkadang akan meleset juga.


BEBERAPA HARI KEMUDIAN.


Mikha telah berada di rumah khusus. Di temani Bram. Juga tante Siren dan Damar mereka datang menengok. Tak banyak perubahan, Siren adalah orang yang masih sama seperti biasa yang humble, jauh dari eropa ia mengunjungi kedatangan keluarga baru.


Mikha menunggu kedatangan Osin, entah berapa lama lagi. Ia harus jarang bertemu dengan sahabatnya itu. Padahal tempat tinggal mereka sangat dekat hanya berbeda kompleks.


"Mikha, kamu udah stok Asi belum? bayinya cowo, udah pasti bakal keren minum susunya."


"Udah kok Siren, makasih ya karena kamu udah mau datang. Heem, anak kamu ga ikut?" senyum Mikha.


"Ga usah di tanya Damar over kalau soal anak, di tambah mereka tidak mudah kena papar sinar, biasa di salju jadi gitu deh. Perbedaan iklim sangat berpengaruh loh Mikha."


"Serius, ah bisa jadi."


Mikha berkata ingin sekali mendampingi mas Hari, tapi Siren meminta dirinya sabar. Entah mengapa saat ini Mikha rindu dengan mas Hari. Padahal ia hanya pergi ngantor di perusahaan luar kota yang buka cabang semacam peresmian. Tapi ia merasa bersama mas Hari, ia merasa sedikit bahagia.


Mikha menatap box bayi, di sana sudah ada putranya yang terlelap tidur. Entah mengapa, dirinya sangat mencintai putranya yang gemas. Tubuh mungil mereka, membuat Mikha ingin menciumi kaki dan tangan jemari putranya.


Tak lama Siren pun pamit, karena ia tak bisa menemani Mikha lebih lama, ada tante Mir yang menggantikan Siren saat ini.


"See you, cepat pulih ya say!"


"Thanks Siren." pamit Siren di senyum Mikha kala itu


Tak lama tante Mir, yang berada di mansion besar itu terlihat hadir menjenguk, tanpa ditemani putrinya yang judes.


"Mikha, anak bayi jangan kebanyak gendong ya. Kamu meski baru pertama jadi ibu, harus cepat pulih. Untuk itu cepat ngantor lagi, soal bayi kalian. Tante bisa rawat kok, lagi pula anak itu harus terbiasa mandiri dari bayi. Kalau di rumah terus, yang ada kamu jadi wanita lemah. Jahitan ga kering yang ada, ingat loh. Banyak pelakor," ungkap tante Mir.


Eh, apa ini datang datang sudah kaya kabel listrik, Mikha hanya terdiam, ia tak bisa menjawab kala dirinya berada bersama dengan sang tante. Bagi Mikha, tante Mir hanya selalu menjatuhkan dan membuatnya down. Jika terus begini, Ia takut diriya terkena baby blues. Entah mengapa dirinya merasa tak nyaman, tante Mir, hanya bisa mengkritik tanpa memikirkan dirinya yang baru saja menjadi ibu muda.

__ADS_1


'Apa salahnya sih, Bisakah tante datang bukan untuk membuatku stres, tapi menolongku menjadi ibu muda yang baru sangat, pasca melahirkan dan pernah di nyatakan kritis. Haruskah aku mendengar perkataan tak enak seperti itu?' batin Mikha, ia ingin sekali ia bicara tapi tak bisa.


'Mas, baru beberapa jam di tinggal. Aku sudah merindukanmu. Cepat pulang kamu mas!' batin Mikha saat itu menatap langit, yang menembus dari jendela kamar, apalagi di jenguk Siren dan Damar hanya sebentar, lalu mereka kembali ke eropa.


Terlebih Hari Hartanto memberikan cuti pada karyawannya selama sepekan, yang berefek dirinya sibuk dan Mikha sering di tinggalkan.


***


BEDA TEMPAT!!


Berbeda hal dengan Osin, ia tak percaya kala dirinya masih di libatkan akan tatapan Eri dan Ryo yang kembali meminta maaf dan mencoba membuat dirinya membuka satu video indah yang di kirimkan Ryo, yaitu sebuah bucket. Kala Osin menghirup benda itu, ia menatap video satu lagi, terlihat jelas kala Eri meminta dirinya untuk memilihnya.


Hal itu membuat tatapan dirinya semakin bingung, menjadi orangtua tunggal itu tidaklah mudah. Sama hal menjadi seorang ibu, Ia tak sanggup jika dirinya harus berkomitmen. Dan Osin saat ini menuju ruang toilet.


Selama beberapa menit, ia kembali mencoba memakai tespek. Beberapa saat tubuhnya gemetar dan mencoba untuk tetap tenang. Tapi tetap saja, ia kembali menatap hasil tespek dan hasilnya garis dua berubah jadi garis satu, aneh atau Osin yang salah lihat kala itu mengeceknya.


Tetapi entah mengapa Osin menatap cermin, ia menatap dirinya sering pusing dan mual selama beberapa saat wajahnya yang semakin pucat, matanya semakin meremang dan ia kembali duduk di atas closet. Mencoba diam sejenak dan kembali rileks, agar ia bisa kembali memakai polesan make up untuk terlihat baik baik saja.


'Sebenarnya aku kenapa sih? Heum, semoga saja efek lelah diriku seperti ini.'


Hingga setelah pulang bekerja, Osin kembali pergi tanpa arah. Pikirannya kalut dan semakin kacau. Meratapi hidup yang tak jelas, ingin sekali ia menyusul seseorang. Baginya, dia pria yang sangat membuatnya bangga meski sikap acuhnya, ia banyak melihat ketulusan dan perjuangan menjaga dirinya.


Osin kini tersungkur di hamparan air laut lalu menangis tersedu sedu. Menumpahkan segala rasa sakitnya yang sudah membekapnya tanpa ampun. Tak peduli meskipun puluhan pasang mata menatap ke arahnya. Sementara sang pemuda lain itu hanya melihatnya dari jauh dengan tatapan iba. Entah kenapa hatinya ikut teriris melihat kesedihan Osin.


"Osin, AWAS!!" teriak pria bertubuh jangkung itu saat melihat gulungan air berjalan cepat ke arahnya.


Deburan ombak yang lumayan tinggi itu menghantam tubuh Osin, hingga wanita itu terpental ke belakang sejauh beberapa meter.


"ARGGHH!" pekik Osin yang histeris.


Tubuhnya terbanting ke tanah saat gulungan ombak itu kembali ke lautan lepas.


Dengan cepat pria misterius itu berlari ke arah Osin, disusul beberapa orang pengunjung yang menjadi saksi insiden itu.


"Kamu tidak apa apa?” tanya pemuda itu panik.


"Sakit," rintih Osin sambil memegangi bagian kakinya.

__ADS_1


Dengan dibantu seorang ibu ibu pengunjung, Osin bangun dari posisinya. Kini wanita paruh baya itu duduk berselonjor sambil memegangi pinggang dan bokongnya yang sangat sakit karena beradu dengan kerasnya pasir.


"Kamu perlu bantuan medis?" tanya sang pemuda misterius itu. Akan tetapi Osin menggeleng.


"Nggak usah. Saya hanya sakit ringan saja,” tolak Osin sambil terus memegangi bagian tubuh dan kakinya yang terasa nyeri. Osin sesekali meringis kesakitan.


“Osin… kamu jangan keras kepala! Biar dipanggilkan tim kesehatan?!” bujuk pria itu. tapi tetap menggeleng.


“Saya tidak apa-apa. Kalo memang saya butuh bantuan, pasti saya akan meminta,” ungkapnya menahan sakit.


“Ya sudah kalau begitu,” sahut sang pemuda.


“Terima kasih banyak atas perhatiannya, Bapak-bapak, dan Ibu-ibu,” ucap Osin kepada beberapa orang yang mengerumuninya.


Mereka mengangguk lalu membubarkan diri dari tempat itu. Osin memijat kakinya pelan.


“Ada yang bisa kubantu gak?” tanya pemuda itu.


“Tidak ada,” sahutnya dengan mata berkaca-kaca.


Osin membuang pandangan ke arah kiri agar pemuda itu tidak lagi bisa menangkap kesedihannya. Hati Osin begitu perih menyadari kenyataan yang baru saja dia hadapi.


Hatinya sakit karena meratapi dirinya yang tak seperti dulu. Ia merasa haus cinta membuat dirinya semakin jauh tanpa arah. Hidup tak tertata membuat dirinya kembali frustasi, ia tak mungkin menganggu kehidupan Mikha yang saat ini masih sibuk dengan bayi bayi mungilnya.


“Bajumu basah. Kamu harus segera kembali ke hotel sekarang, Osin!”


“Saya ingin di sini dulu melihat sunset, Kamu pergilah tidak perlu peduli lagi padaku!" lirih Osin.


Pemuda itu menghela napas dalam. “Aku temani,Ya? anggap kamu tak pernah mengenalku saja saat aku temani!” sahutnya.


Osin menatap Ryo, ia berusaha melupakan dan berusaha apa yang ia alami adalah tak pernah terjadi. Mencoba menghapus agar seluruh hidupnya bisa kembali damai.


Namun saat mereka duduk menatap langit yang mendung, tiba saja seseorang dengan suara lantang membuat Osin menoleh dan membelalakan mata yang membuatnya tak asing.


"Sedang apa kalian, di belakangku seperti ini?" suara khas tatapan mematikan.


Hal itu, membuat Osin malas untuk menanggapi.

__ADS_1


"Sudahlah jangan berdebat, aku ingin pulang! aku ingin bekerja besok, aku tidak jadi resign. Bu Mikha, bu bos ku, sedang membutuhkan ku. Tidakkah kalian berkaca, kalian bawahan berlibur, sementara sang bos sedang meeting pertemuan penting, apa kalian ingin kembali dengan surat pemecatan, bagaimana bisa aku mempunyai suami pengangguran nanti." lirih Osin, sehingga Ryo dan Eri mengekor Osin, karena dua pria itu sedang bertarung memperebutkan hati Osin.


Tbc.


__ADS_2