Pengantar Box Jutawan

Pengantar Box Jutawan
MENGAMBIL HATI


__ADS_3

Memerhatikan arah Luar, membuat Bram diam kala Kenan membuntuti putranya yang masih kecil keluar. Pasalnya, Bram masih berbicara serius pada Randu pihak manajemen.


"Minum es teh lemon seger kali ya," tambah gadis yang ternyata adalah Jingga tersebut.


"Woy mbak! Maju dong, lo pikir ini antrean punya nenek moyang lo!" teriak seseorang di belakangnya.


"Sabar napa Mas! Kalau yang depan kagak gerak. Terus gue harus apa? Ndusel-ndusel gitu? Idih, ogah ya!" balas Jingga ngegas.


"Peserta atas nama Jingga Tjandra!" panggil petugas audisi pada Jingga.


"Sial. Ganti nama belakang tanpa nikah, bisa kagak ya? Malu gue pakai nama bapak gue yang minus akhlak itu," gerutu Jingga setelah bergegas menuju ruang audisi.


"Tuan ... ah maksud saya Mas Bram," ralat Randu untuk panggilannya pada Bram.


"Ini audisi kami untuk mencari talent baru yang bisa semua jenis keahlian. Mulai dari akting, tarik suara, model, dan semuanya. Minimal mereka memiliki beberapa skill entertainment untuk menaikkan pamor BI." Randu memperlihatkan ruang audisi yang cukup ramai dari balik dinding kaca transparan.


Mengingat perihal multitalenta, Bram teringat akan sesorang yang memang memiliki skill yang dikatakan oleh Randu tadi.


Tetapi, mengingat gadis itu adalah bagian dari Tjandra. Sudah tentu dia tidak akan mengikuti audisi seremeh ini, harga diri orang tuanya pasti terluka jika sampai Jingga ikut audisi seperti ini.


"Mas, aku hamil anakmu. Kamu tahu Mas, aku tidak pernah berhubungan dengan siapa pun selain kamu," ratap Jingga dengan mimik wajah yang menyedihkan.


"Hei pelakor! Ingat kamu itu hanya tempat singgah yang akan ditinggalkan jika suamiku sudah bosan. Mau seindah apa pun rumah singgah, pasti tidak akan senyaman rumah sendiri. Kalau pun suamiku terjerat padamu, maka terimakasih. Sudah menjauhkan aku dari lelaki yang bisa berpaling dengan mudah seperti itu." Dengan cepat ekspresi wajah Jingga berubah sesuai dengan skrip yang dia bawakan.


Bram sendiri, sedang memperhatikan Damar yang sedang bermain dengan beberapa tim kreatif.


Tepuk tangan riuh yang terdengar membuat Bram menoleh kembali ke dalam ruangan.


"Wah wah, itu tadi benar-benar luar biasa," gumam Randu yang melihat akting Jingga.

__ADS_1


Bram yang tidak terlalu paham, hanya tersenyum saja.


Seseorang menghampiri Randu, dengan membawa beberapa bundel kertas. Yang Bram duga adalah, biodata para peserta audisi yang lolos seleksi tahap pertama.


"Ah, sudah dapat ya?" Randu menerima kertas tersebut dengan senyum lebar.


"Mas Bram mau melihatnya?" tanya Randu pada Bram yang tertarik.


Mereka kembali ke ruangan Bram, meneliti biodata-biodata dari peserta audisi. Randu menjelaskan ciri khas dan kemampuan masing-masing peserta.


Sedikit-sedikit Bram paham akan hal itu, dirinya juga tahu perihal bakat-bakat khusus yang perlu diasah untuk menghasilkan talenta yang luar biasa.


Sudah menjadi ciri khas artis, pasti memiliki paras yang rupawan dan penampilan menarik.


"Kami memiliki program baru, Mas."


"Kami membuat series pendek, dari novel online yang sedang hits di kalangan gen-H"


Bram penasaran, ibunya mendapat orang-orang sekreatif dan sejeli ini dari mana. Selain pandai mengelola sebuah organisasi, mereka juga pandai memanfaatkan peluang pasar yang ada.


"Bagus. Orang-orang zaman sekarang lekat dengan ponsel mereka, saya pikir mereka lebih suka menonton film dari ponsel," ungkap Bram.


"Nah! Itu dia target pasar kita, Mas. Lagipula, zaman sekarang. Banyak orang-orang kreatif, yang tidak memiliki panggung untuk menyalurkan bakat mereka yang luar biasa."


Dengan berapi-api, Randu menjelaskan pada Bram. Dia merasa mendapat dukungan dari orang yang tepat, rumah produksi yang dia kelola selama ini mungkin terlihat kecil dan tidak terlalu terkenal.


Tetapi jangan salah, budget mereka untuk membuat lima film layar lebar berbagai genre sekaligus sangat cukup, bahkan berlebihan.


"Bagaimana dengan biaya produksi tiap series yang dibuat?" Bram bermaksud menambah investasi untuk garapan tiap proyek BI.

__ADS_1


"Tiap series yang kita buat selalu laris, Mas. Hasil yang didapat, bisa menutup biaya produksi bahkan mendapat keuntungan juga. Makanya, kami mampu mengadakan audisi secara mandiri tanpa iklan dan endorser," tutur Randu.


Entah keberuntungan macam apa yang menyertai dirinya, atau ini hoki dari bu Dayana selaku penggagas dan pencetus berdirinya BI.


Di ujung sudut lain, Jingga yang usai audisi dan pamit ke toilet, bertemu dengan bocah menggemaskan yang sempat menabraknya di bandara.


"Hai Damar!" sapanya pada bocah tersebut.


"Hai Aunty airport, Aunty tahu di mana Daddy?" tanya Damar dengan enggan. Dia tahu siapa orang yang menyapanya, itu adalah wanita yang sempat dia tabrak di bandara.


Tetapi, Damar sedang tidak berselera untuk ramah tamah, dia tersesat tapi malas bertanya.


"Loh. Daddy kamu juga ada di sini?" Jingga mengedarkan pandang dengan teliti, dia mencari entitas yang dia kenali sebagai ayah dari bocah di hadapannya. Sekaligus pria yang di tangannya, Jingga titipi hati.


Damar mengangguk, dia duduk di bangku panjang dan menendang-nendangkan ujung sepatunya pada lantai keramik.


Terlihat bosan, tapi tidak Ada tanda-tanda akan rewel atau ngambek. Damar sudah terbiasa seperti ini sejak di Belanda.


"Damar, nama lengkap kamu siapa kemarin? Aunty lupa."


Jingga tidak terlalu bisa mengajak anak-anak ngobrol, tapi demi menggaet bapaknya. Maka dekati anaknya, dari mana Jingga mendapat teori seperti itu?!


"Aunty kok mirip foto mama ya?" cetusnya, membuat hati Jingga senyum, pasalnya bocah itu menatap Jingga intens.


TBC.


Sambil Tunggu Up! Yuks mampir temen litersi Author.


__ADS_1


__ADS_2