
Mikha sempat terdiam, dimana ia ingin menemui Hari, entah kenapa seseorang membuatnya berada dalam ruangan, dimana dua pria berjubah itu mempersilahkan seseorang.
"Siapa kamu?"
PROOOK .. PROOOK.
Tepukan tangan seorang wanita, yang berbalik badan. Dari arah sudut kanan dengan sebuah benda kecil.
"Mikha ... kamu cukup pintar untuk bersembunyi. Apa kamu ingin membalas diam diam padaku? Setelah kamu merebut Hari, dan bahagia, eeum .. apalagi berencana punya anak dari Hari, aku tidak akan biarkan itu karena kekayaan 30% untuk menantu, aku tidak ingin membagi denganmu, tapi miris. Kamu lupa kalau aku istri pertama Hari, yang membuatnya susah move on, persis kaya kamu ini istri tapi seperti tidak di anggap bukan?" hahaha mengeja Lena sinis.
"Lena. Kamu di sini?" tanya Mikha dengan bingung.
"Hahahaha.. Kenapa, cukup terkejut. Atau kecewa karena yang datang bukan Hari. Ups.. Mas Hari. Benar kan? kenapa kamu enggak tahu kan Hari sedang ke Australia, buka kantor baru, apalagi kantor beliau tidak sama bukan dengan yang lain, seperti yang kamu lihat. Tadi kamu masuk kesini pasti terkejut bukan? kantor penuh cahaya system untuk memantau manusia jahat sepertimu." singgung Lena menyindir.
Mikha cukup tenang, namun tetap saja. Ia tahu siapa Lena, ia takut jika dirinya akan di buat dalam jebakan suatu video viral seperti beberapa bulan yang lalu. Atau Lena ini sengaja, agar aku bisa bercerai dari Hari. Sengaja membuat aku jelek di mata Hari.
"Lena. Kamu jangan salah paham, aku memang menagih janji pada Mas Hari, Karena aku ingin tahu kejelasan hubungan kami yang sesungguhnya, bukan maksud lain, yang saat ini kamu pikirkan aku tidak gila harta sepertimu. Jika memang kamu ingin kembali pada Hari, itu bukan masalah ku! karena bagaimanapun Hari cukup pintar untuk memilih yang terbaik."
"Hah. Menagih janji? kalian bertemu. Kalian benar bertemu dengannya ber-dua .. Bagus sekali, aku sudah menukar pertemuan kalian satu langkah lebih cepat. Tapi, aku pastikan pertemuan kalian bercerai." tajam Lena, pada Mikha.
"Ya. Tapi kamu jangan salah paham! Mas Hari menemuiku karena suatu hal. Tapi aku hanya ingin bertemu karena dia mau jelasin sesuatu penting sama aku. Kamu juga bisa ikut lihat dari jarak jauh. Tanpa Hari tahu, kamu disini. Aku dan Hari bertemu bukan untuk hal tentangmu. Jadi tolong, buka pintunya! yang pasti, kalau kamu dengar. Kamulah yang akan menyesal."
BRUGH.
Lena mendorong Mikha. Hingga tubuhnya terbentur sebuah dinding beton. Mikha sedikit sakit, ia mencoba untuk menahan. Hingga di mana, ia memegang bahu kanan dan mencoba bangun perlahan. Benar menjadi istri kedua, sangat sangat tidak nyaman.
"Lo pikir gue bego, Hah! Mikha, gue tau siapa Hari. Dia setia dan selalu terbenam nama gue, jadi jangan membual kalau Hari yang nemuin lo suatu hal. Apa yang dia sampaikan? gue yakin karena ingin kalian cepat pisah."
Duar.
__ADS_1
Mikha bagai tersambar petir, ia juga tidak ingin rumah tangganya hancur, hanya karena istri pertama kembali.
"Lena. Tenanglah, aku ga bermaksud menyinggung. Tapi .."
"Ga usah basa - basi. Dalam ruangan ini cuma kita berdua, bebas lo mau manggil apa. Tapi inget satu hal. Sekali lagi lo nemuin Hari, bujuk Hari buat ga nerima gue. Gue buat perhitungan jelas buat lo. Mikha!"
"Gue cuma ah .." belum sempat Mikha memberikan isi surat dari kotak semalam, Lena sudah membubuhkan sesuatu.
Mikha menuangkan sebuah darah binatang kecil dari plastik. Hingga di mana, ia jelas merasakan bau anyir yang tumpah dari atas rambut, wajahnya dan pipi serta tumpah ke sebuah dress kemejanya, yang menembus hingga ke dalam celah bajunya.
Mikha terkejut gemetar, ia mencoba mengatur nafas, hingga ia muntah berkali kali. Mikha mencari sebuah kain untuk menghapus noda merah berbau busuk itu. Hingga di mana, ia mencari toilet. Tapi keran air di toilet itu tidak menyala, membuat Mikha semakin muntah kala di wastafel dan kloset, terdapat potongan bangkai binatang kecil seperti belatung, kecoa yang hidup penuh darah.
UUUUUEEEK .. UUUUEEEEK.
Mikha muntah berkali kali, ia phobia akan sebuah darah. Hingga di mana, ia mencoba berdiri. Ingin keluar dari ruangan itu. Tapi pintu itu terkunci begitu saja, Mikha cukup lemas.
"Ini baru permulaan, sekarang atur hidupmu sendiri Mikha, phobia darah itu busyeit harus lo ilangin. Phobia bertemu mantan, itu yang harus lo tanam ukur, sebelum melangkah. Dasar bo - doh. Lo harus nya cari cowo lain, jangan model Hari, karena Hari adalah milik gue." cela Lena pergi setelah melemparkan tisue dari alas sepatunya ke wajah Mikha, yang kini terlihat sulit bernafas.
Hingga di mana, Mikha pasrah dan tubuhnya terjatuh begitu saja ketika mengetuk sebuah pintu besar. Sesaat Lena keluar, entah mengapa pintu itu terkunci lagi.
BUUUUGH ... BUUUGH. TOLOOONG.
Teriakan Mikha melemas, kala menggedor pintu. Ia sudah tak sanggup hingga ia tersungkur dan menutup matanya.
***
Di berbeda tempat. Cafe Sun tempat khusus para kantoran meeting secara private.
"Lo di mana si Mikha." bubuh Osin menatap ponsel.
__ADS_1
Osin berkali kali menghubungi Mikha. Hingga di mana ia menscroll chat pesan tadi pagi, ketika ia bekerja sebelum meeting. Mikha sempat janji akan menemui dirinya dan pak Dani. Hingga di mana Osin ingat, chat itu menunjukan sebuah gedung. Jika ia ingin bertemu seseorang.
"Oh Syiet. Pak Dani. Saya pamit izin ya, satu jam saja. Perasaan saya gak enak. Saya janji setelah jam makan siang habis. Saya akan kembali sebelum waktunya tiba!"
"Baiklah. Jangan lupa presentasi nanti sore ya Osin!"
Osin mengucap tanda hormat. Lalu dengan terburu buru. Ia pergi dengan mengambil tas dan kunci mobil sangat kilat.
"Osin. Tu- tunggu saya!" teriak bos Dani.
Tanpa menghiraukan, Osin yang telah berada di loby parkiran. Ia terkejut ketika kunci mobilnya tertukar.
"Arrrgh... Ada ada saja." gumam Osin.
Osin kembali naik tangga, ia menaiki lift. Dan tepat saja pintu lift terbuka. Sang atasan menatap tajam dengan memegang kacamata doraemon yang bulat dan besar.
"Heuuumph. Anak muda yang tidak tahu sopan santun, menyusahkan saja. Terburu - buru boleh. Tapi jangan sampai mengerjai saya juga harus ke lantai bawah." gerutu sang bos.
"Hehehe. Maaf pak bos, kunci mobil kita tertukar. Kalau begitu saya pamit!" senyum Osin dengan malu.
Tiba Di Grand Steel.
Beberapa puluh menit, Osin di buat terkejut akan beberapa orang yang mencoba membantu seorang wanita. Beberapa denyutan tiba saja di atur nafas seolah tak bernyawa. Sehingga Osin tertarik untuk melihat.
"Astaga. Itu kan Mikha." teriaknya, menghampiri tubuh Mikha. Ia beberapa kali memencet tombol nomor seseorang berharap bantuan datang.
"Mikha, lo kenapa kaya gini. Siapa yang lakuin itu?" ujar Osin, dimana ia memencet nomor bos Dani untuk membantunya.
Tbc.
__ADS_1