
Beberapa saat setelah pesta megah pernikahan nyonya Inggrid, kakekmu. Tuan Rahanto meninggal. Dari diagnosa dokter beliau terkena serangan jantung. Padahal sebelumnya beliau dalam keadaan sehat dan rutin memeriksakan kesehatannya ke rumah sakit. Tidak ada yang menyangka beliau akan pergi secepat itu, tak berselang lama. Karena terlalu berduka, nenekmu nyonya Renah menjadi sakit-sakitan dan meninggal menyusul kakek mu.
Pantas saja selama ini Hari, tidak tahu siapa kakek neneknya, bahkan sang mama pun tidak pernah membicarakan perkara itu. Yang Hari tahu, ia adalah anak dari tuan Reksa papanya saat ini. Pantas saja, Tuan Reksa memotong nama belakangku, jadi aku dan Bram bukanlah kakak adik?! Gumam Hari, merasa pedih.
"Lalu kenapa semua ini bisa terjadi, Mang. Hari masih belum paham." Hari, masih belum mengerti tujuan mang Jaya menceritakan semua kisah itu padanya.
"Kamu bukan anak yang dilupakan, Hari. Justru kamu pewaris sah harta kekayaan Armanto, FC Corp itu milik kakekmu yang diwariskan pada Armanto dan Reksa. Tapi karena manipulasi data dari Reksa, entah bagaimana seluruh aset milik Armanto bisa berpindah menjadi atas namanya. Sepertinya mendiang nyonya inggrid memberi kesepakatan, yang mamang sendiri tidak paham.
Mang Jaya mendengar langsung dari cerita Inggrid sebelum majikannya itu meninggal.
"Lalu Bram?"
"Bram, adalah putra kandung Reksa Hartanto dari istri pertamanya," jelas Mang Jaya. Fakta itu jugalah yang membuat inggrid menderita, menerima Reksa sebagai menutup ayah bayi yang telah meninggal, perlahan waktu siapa yang tahu perasaan tumbuh! Den Bram, dulu juga menderita Den. Siapa yang menyangka dia jadi istri kedua seorang Reksa Hartanto dengan sebuah perjanjian.
"Jadi, akulah di sini yang bukan siapa-siapa. Nama belakang yang selama ini aku gunakan hanya nama pinjaman. Lalu setelah mama meninggal, Reksa mengambil kembali nama tersebut," pikir Hari, menyambungkan tiap kisah yang mang Jaya ungkapkan padanya.
"Selama ini usahaku untuk merebut perhatian, justru salah. Dan itu membuat mama menderita karena ulahku sendiri. Berulang kali mama memintaku untuk serius belajar, berulang kali mama mengajakku untuk bertemu dengan beberapa partner perusahaan. Supaya aku paham seluk-beluk bisnis, justru aku abaikan."
Kali ini Hari, paham apa mau sang ibu, tapi sayang semua sudah terlambat.
Semua sudah dilucuti darinya, nama keseriusan bahkan tidak pernah ada di dalam hidupnya.
Setelah mendengar penjelasan dari mang Jaya, mengenai siapa dia sebenarnya. Hari menjadi semakin pendiam, dia merasa ada bongkahan batu yang ditimpakan langsung pada pundaknya.
"Mandi dan ganti baju dulu, Den," ujar Mang Jaya menyiapkan beberapa pakaian yang mungkin saja, masih bisa dikenakan oleh Hari.
"Maaf, Hari merepotkan Mang Jaya. Tapi apa boleh Hari memanggil Mamang bapak," mohon Hari, dengan wajah sendu.
Rasanya lebih baik menganggap tukang kebun keluarganya sebagai ayah, ketimbang menganggap orang serakah sebagai ayah.
"Tapi, Den. Mang Jaya cuma tukang kebun," sungkan mang Jaya yang tak urung merasa kasihan juga pada anak dari majikannya itu.
"Nggak apa-apa, Pak. Hari cuma pingin ngerasain punya ayah," jujur Hari, dengan bibir gemetar.
"Ya Tuhan, Nak. Kok miris sekali nasibmu."
__ADS_1
Mang Jaya memeluk erat anak majikannya yang ingin sekali dia anggap anak. Bahkan diam diam, Den Bram mentransfer puluhan juta setiap minggu agar kebutuhan sementara tercukupi.
***
Taman Halaman Rumah :
"Bapak itu punya anak dua. Yang sulung perempuan, sudah menikah dan ikut suaminya di kota, yang kedua masih kerja di luar negeri," cerita mang Jaya yang masih sedikit aneh dengan penyebutan ayah untuk Hari.
Usai membersihkan diri dan mengenang masa lalu yang menyedihkan, Hari ingin mendengar kisah tentang hidup mang Jaya yang kini menjadi ayah angkatnya.
Hari suka sekali dengan panggilan adik yang disebutkan oleh mang jaya, terlebih dia dianggap bungsu oleh tukang kebun keluarganya itu.
"Pak, Hari mau keluar sebentar," pamitnya pada mang Jaya yang sedang mengurus tanaman sayur di belakang rumah.
"Iya, hati-hati. Jangan pulang terlalu malam ya," pesan mang Jaya menghampiri anak angkatnya itu.
"Butuh sangu atau tidak?" tanyanya setelah Hari, mencium tangannya.
"Nggak, Pak. Hari cuma mau cari angin sebentar."
Mencari angin hanya alasan bagi Hari, dia mengunjungi makam ibunya yang masih basah. Bahkan kelopak bunga yang disebar di atas pemakaman sang ibu terlihat masih segar.
Pemakaman Melati.
"Maafkan Hari, mah! yang tidak mengerti apa yang mama mau. Maaf karena Hari belum menjadi anak yang baik buat mama. Hari janji sama mama, Hari akan mengambil apa yang menjadi milik kita, ma." Meremas tanah pemakaman sang ibu, Hari berjanji pada dirinya sendiri akan memberi balasan yang setimpal untuk Reksa Hartanto.
Dan Beberapa Saat Kemudian, ia menuju suatu tempat.
Mengunjungi arena balap liar yang terlihat sepi, di saat matahari masih semangat menyatakan kemegahannya.
Hari menghampiri Robi yang tengah mengotak-atik mesin motornya.
"Rob," sapa Hari, dengan tidak semangat.
"Hei. Kemana lo baru kelihatan?" tanya Robi menyelesaikan finishing mesin motornya.
__ADS_1
"Nyokap gue baru saja meninggal," jawab Hari menerawang jauh arena balap liar, yang memiliki pemandangan bukit yang luas.
"Kenapa lo nggak ngabarin gue, Har?" Robi langsung meletakkan obeng yang dia pegang dan menghampiri Hari.
"Keadaan kacau, gue nggak sempat ngabarin lo. Bahkan gue nggak punya apa pun buat ngabarin lo," ungkap Hari, tanpa menahan diri.
"Jadi ...." Seolah Robi, sudah bisa menebak apa yang sebenarnya terjadi.
"Ya, orang yang gue sangka bokap kandung gue. Ternyata cuma bokap tiri, dia sudah mengambil segalanya dari gue, Rob. Segalanya."
"Lalu, tujuan lo apa sekarang?" tanya Robi, bagaimanapun Hari adalah sahabatnya. Dia pula yang menghidupkan arena balap liar sampai dikenal seantar negeri. Bahkan Robi mendulang banyak sekali rupiah setelah bengkelnya menjadi tujuan para pemilik motor, yang ingin motornya dimodifikasi.
"Gue butuh motor," ujarnya meneliti tiap motor yang tengah dikerjakan oleh Robi.
Satu motor berwarna hitam dan putih menarik perhatiannya.
"Buat apa lo butuh motor, Har?"
"Balapan." usai menjawab, Hari segera beranjak menghampiri motor yang dia maksud.
Robi, mengekor di belakangnya sambil menyeringai lebar, dia bangga akan skill-nya dalam memodifikasi mesin dan bodi motor.
"Gue pikir suatu saat lo bakal butuh motor, jadi gue modifikasi sisa rongsokan Alfred. Gue benci bodinya, tapi gue suka mesinnya, dan voila. Sepertinya itu sesuai selera lo," ucap Robi dengan riang.
Persis seperti yang diduga oleh Robi, saat malam tiba. Balapan yang sudah dijadwalkan dengan hadiah yang sebenarnya tidak seberapa bagi anak sultan seperti Hari. Menjadi berharga ketika bocah itu kehilangan segalanya.
Mengemudikan motornya dengan kecepatan di atas rata-rata, Hari menggila di atas aspal jalanan. Semua penat dan kegilaan yang dialami kemarin, seolah ikut terbang bersama angin yang menerpa tubuhnya.
Hari juga, mencapai finish terlebih dahulu, tanpa merayakan kemenangannya. Dia mempercayakan uang hadiahnya pada Robi dan memilih berlalu dari arena.
Mengendarai motornya yang memiliki suara halus, dia menghampiri rumah yang pernah dia tinggali bersama ibunya.
Berhenti di bawah bayangan pohon besar yang selalu dia panjat, Hari menatap rumah tersebut dengan hampa.
Tak berselang lama, sebuah mobil masuk ke dalam rumah tersebut. Hari terkejut, ketika yang keluar bersama pria yang tak ingin ia temui. Merutug Hari, harusnya ia tak mampir.
__ADS_1
TBC.