
Elea sudah berada di rumah pohon, kali ini ia juga tak percaya, atas apa yang dilihatnya begitu aneh. Pohon kapuk, yang ia masuk mirip istana didalamnya. Olive sengaja meminta Elea yang mengarahkan aplikasi system, ia yang masuk kedalam kapsul pembeku, dan meminta Elea memantau agar kilat cahaya bahaya yang saat ini Bram, bisa mengalahkan banyak orang, terbantu! Elea diminta tidak banyak bertanya, di saat Olive masuk, maka dirinya telah berpindah pada tempat Bram, yang saat ini mungkin dalam bahaya jika ia tak dibantu.
"Kenapa harus aku, aku ga ngerti atas semua ini ..?"
"Bukan saatnya banyak tanya, Bram dalam bahaya, bahkan tenaganya lemah jika kita tidak membantunya. Sambungan system' ini, kau perhatikan agar tidak menjadi merah, jika tombol cahaya berubah putih, tolong klik tombol system' ini. Agar kami, bisa kembali dengan selamat!"
Setelah di rasa, Olive masuk ke dalam capsul. Elea segera mengingat bahwa apa yang selama ini kekasihnya alami, tidaklah tenang. Bahkan sempat Elea, merasa Bram meninggalkannya di butik, berprasangka buruk meninggalkan hari istimewa mereka, Elea ingin mengutuk dan marah pada Bram, yang tak memperhatikannya.
Bahkan Olive, tadi meminta maaf pada Elea, karena ini bukan salah Bram. Salah Olive yang mengeluarkan kekuatan hilang - timbul, didepan orang yang sakit jantung, sehingga menyebabkan orang itu kritis saat ini, karena melihat Olive hilang, timbul dalam jarak satu meter di taman, sehingga ia kehilangan tenaga dan tak ingin berubah jadi asap, ia fokus pada Bram, yang ia juga tidak tahu Bram ada di butik untuk fitting pernikahan.
Kekuatan Olive, tidak boleh diperlihatkan pada orang lain. Selain Bram, yang memang sudah jadi takdir pendamping utusan langit.
"Apa, tuan anda bisa hilang..?" tak dijawab, karena Olive sudah masuk kedalam peti capsul sedingin es salju.
'Bram, apapun itu aku mempercayai penuh, kembalilah Bram! Jangan tinggalkan aku lagi.' gumam Elea, lalu memencet tombol, mendorongnya ke arah atas dengan sekuat tenaga.
Kreeek ...
***
SEMENTARA BRAM :
"Baiklah. Aku bersedia. Bahkan diriku yakin akan bisa mengalahkan lebih dari dua puluh orang!" ungkapnya percaya diri seraya membusungkan badan dan mengangkat kedua bahunya.
Pria itu mengelus dagunya seirama dengan kepala mengangguk pelan.
"Boleh juga semangatmu hai Pria. Ketua pastinya akan senang jika bertemu pemuda seperti dirimu, yang amat berani."
Bram mengulas senyuman kemenangan. Secara tidak langsung pria itu memuji dirinya yang memiliki kepercayaan tinggi.
__ADS_1
"Tapi, jika dirimu kalah, maka nyawamu yang akan menghilang di area tanding ini!" tegas pria itu yang langsung memecah keheningan dari lamunan Bram.
"Kalian tidak perlu khawatir. Bahkan aku bisa mengalahkan lima puluh orang sekaligus. Jadi, tiga puluh orang ini bagiku masih sangat kecil," ujarnya bernada sombong.
Mendengar pengakuan tersebut, pria itu tertawa terbahak-bahak. Pun dengan rekan-rekan lainnya.
Bram, sedikit kesal karena ucapannya malah dianggap seperti lelucon anak-anak. Namun, tak akan menjadi masalah.
"Mari, kita buktikan!" Pria itu melenggang lebih dulu. Lalu, disusul beberapa orang di belakangnya, selanjutnya Bram dan dua lainnya mengekor di belakang.
Tugas keduanya adalah memastikan Bram tidak lari dari sana.
Arena tanding yang lebih mirip stadion bola. Ada banyak kursi penonton yang berjejer rapi.
Bram, menebak tempat ini digunakan untuk para algojo bertarung dan orang-orang akan saling bertaruh nyawa melawan algojo mana, yang akan keluar sebagai pemenangnya. Lalu kembali di tanding hingga mereka lenyap.
Bram memasuki area gladiator. Dirinya langsung didapatkan dengan tiga puluh orang anggota Genk Merah yang mengelilingi Bram, dengan wajah sadis menyeringai.
Tidak hanya tiga puluh orang saja menjadi sasaran penglihatan Bram, tetapi orang-orang yang sudah menduduki tribun pun tidak luput dari pandangannya.
"Ternyata, ini cara mereka merekrut anggota baru. Sungguh menarik."
Bram yang membatin sambil mengecilkan pandangannya.
'Kalau begitu, tiga puluh orang ini akan menjadi langkah awal kehancuran Organisasi ini.' Dia menyeringai kemudian.
Dua puluh orang yang ada di hadapannya memiliki kemampuan bertarung yang tak seberapa. Dirinya bisa mengurus kemampuan mereka ada di tingkat tertinggi.
Mereka hanya unggul pada postur tubuh saja. Kenyataannya, kemampuan mereka tak sebanding dengan Bram. Pikirnya terus menganalisa satu persatu lawannya.
__ADS_1
Pria itu mulai berdiri di tengah-tengah Bram dan lawannya yang tiga puluh orang itu.
"Hari ini kita akan melihat pertarungan antara Bram, anggota baru Kampak Merah Kita, melawan tiga puluh anggota tetap!" seru ia sambil memperkenalkan Bram pada para penonton.
Bram rasa dia adalah Alex, karena ada nama di jidatnya, mungkinkah ia si kaki tangan ketua tertinggi, atau mereka melawan Bram, karena beberapa waktu mengalahkan Brian Briyani yang ia hempaskan begitu saja tersungkur, yang konon ia telah tewas. Tapi Bram aneh merasa ia belum melihat berita jenazahnya.
"Aku Alex, akan menonton lawan Genk baru kita. Agar ia diterima di tim kita bukan? baiklah, ayo saat ini kita lihat tim kita melawan pria bernama Bram! apakah dia masih bisa bernafas, setelah membunuh Ketua Kedua Kita, Brian Briyani! Hahaha." jelasnya, berbicara lantang.
Benar dugaan Bram, ketika ia membunuh satu ketua, maka ada ketua tingkatan lagi. Benar benar mirip level kekayaan di dunia yang ia jalani, bahkan kekayaan setara dan se'level ada masa perlakuan baik dan tidak, mirip negara yang aneh. Dimana yang paling kaya dan tinggi akan selalu berkuasa, dihormati, didekati dan menindas yang lemah. Bram, bersumpah ia menatap fokus ke arah ruangan lain, meski kali itu penuh orang yang menyaksikan dirinya di tandingannya 30 orang.
Saat itu Alex, juga langsung menjelaskan aturan main dari duel ini. Bram menyimaknya dengan hati-hati karena tidak ingin satu peraturan pun terlewatkan.
Pria itu selesai menjelaskan peraturannya. Bram menyeringai, "Eh, ternyata hanya tidak boleh menyerang alat vital. Kalau begitu mereka akan mudah aku kalahkan," batinnya tersenyum licik.
Bram jadi tahu, apa kelemahan mereka semua. Bram juga berteriak, ketika beberapa orang mulai menyerangnya dengan kampak, Bram melengos dan memiringkan posisi badannya, meski dengan satu tangan saja!! Lalu segera meraih bahu pria besar itu, dan meninju ketiak dan urat nadi di Tengku lehernya.
Hyaaak ...
Bram, senyum kala lima orang langsung tersungkur, begitupun yang lain saling memandang. Suara riuh kembali berisik, membuat Bram menatap seru pada pria di sebelah kanannya.
Alex menatap pada yang lain, agar mengepung Bram! seolah tidak membiarkan Bram menang.
Dan saat sekitar sepuluh orang bertambah, lima orang tersungkur. Bram seolah tersengat, ketika ia fokus daya badannya merasa ada tambahan energi.
Dreeeeedt...
Silau cahaya berapi, tiba saja datang ditengah tengah Bram! Bram pun menatap syok, kala utusan langit sudah berada di sampingnya.
"Kau siap Bram?" senyum Olive.
__ADS_1
"Heuuumph." balas Bram, yang kala itu bukan waktunya berdebat, memarahi si Olive yang pergi begitu saja meninggalkannya hampir mati.
TBC.