Pengantar Box Jutawan

Pengantar Box Jutawan
MEMBUAT ELEA PERCAYA


__ADS_3

Meeoong! Kucing pergi begitu saja.


"Hai Sob tercantik." tutur Bram, yang mengambil mangkok dan sendok emas di belakang Elea.


Lalu Elea menoleh dan membalas menyambutnya dengan berdebar dan tersenyum plong.


"Aku pikir kamu ga datang Bram, karena aku terlambat?"


"Ssssst .. kamu pikir aku ga akan datang dan tidak menunggu, meski sampai malam berikutnya pun aku akan disini sampai kamu datang El."


"Tapi tadi Aku ..."


Bram menutup bibir Elea, ketika saat berucap dengan jari telunjuk indahnya.


"Sudah lama disini Elea?"


"Sepuluh menit mungkin Bram, maaf ya aku terlambat datang tadi aku ketiduran."


"Aku harusnya minta maaf. Aku di sini terlambat karena Abie menahanku."


Bram duduk di sebelah Elea. Lalu menengadah kedua tangannya mendekat pada wajah Elea itu dan memohon maaf.


Sehingga saling memandang. Bram terkejut hingga makanan di sendoknya jatuh sebelum ke bibirnya. Elea reflek mengambil tisue dan mengusapnya ke bibir Bram yang sedikit terkena percikan kuah bakso.


"Kenapa tiba saja melihat dia jadi deg deg seer sih, mengapa aku baru menyadarinya ya, kalau Bram itu cool?" lirih Elea.


'Hati gue jedag jedug kalau deket kamu Elea. Serasa lebih dari teman kita tuh bukan sahabat lagi.' batin Bram.


"Eheuuum. Owh ya kamu tadi bilang apa Elea?"


"HAh ... aku ga bilang apa apa Bram." senyum balas Elea. Sedikit menggigit bibirnya.


Elea bertanya dan menggelengkan kepala nya, sementara Bram pun membayar pesanan itu pada penjual bakso, namun Elea hanya melirik, sedikit demi sedikit ia bingung memulai pertanyaan apa dan tersadar ingat sesuatu.

__ADS_1


"Owh ya Bram, ada hal penting apa, katanya kamu ingin bicarakan?"


Bram pun tersedak ketika sedang menulis, Elea pun dengan sigap mengambil air mineral, mengatur napas dan menatap saling berhadapan, membuat mereka berdua saling terdiam kaku.


"Elea, sebenarnya aku ingin bicara sesuatu padamu?"


"Baiklah Bram, aku mendengarkan."


"Menurutmu apa arti pertemanan kita, sahabat atau lebih dari itu, maksudnya apa kamu mempunyai perasaan lebih dari sahabat terhadap ku?"


"Haaah. Maksud ka- kamu Bram?"


Elea, masih tertegun apa yang dimaksud, apakah Bram sedang menebak perasaannya, atau ia sedang mengatakan perasaan lain sesungguhnya.


'Kenapa aku jadi berlaga lemot begini ya. di tatap Bram dan mengatakan seperti itu.' batin Elea.


Elea mengulang pertanyaan dengan sedikit gugup.


"Bram. Coba ulangi maksud kamu?"


Elea, masih tak percaya ia tersenyum dan berkata.


"Hahahaha. Kamu lagi bercanda kan?"


"Elea. Lihat sini, apa mata aku ada candaan?"


Saat Bram hanya diam menatap. Elea mencoba ulang dengan menatap bola mata sahabatnya itu.


"Kamu enggak serius kan Bram?"


Elea kembali mengulang, dan mencerna jika ia salah mendengar.


Bram menatap mendekatkan wajahnya hingga dua bola mata itu saling memandang. Memegang tangan Elea dan meletakkannya hati Bram.

__ADS_1


"Aku amat serius Elea."


Elea pun melepas genggaman dan membalikkan wajahnya, menutup matanya.


'Apa ini mimpi, detak jantung kenapa naik turun seperti ini, sudah berteman lama tapi kenapa dia mengatakan hal lelocon menjadi aneh rasanya. Apa hanya aku saja yang ke pede- an?'


Elea membuka mata dan menatap Bram yang masih menatap serius. Mengapa perasaan ku seperti ini berdebar. Ia pun menggigit jari dan menatap kembali sahabatnya itu.


"Coba kamu katakan lagi Bram, aku rasa kamu sedang sakit atau salah minum obat."


"Hah. Maksud kamu El?"


Maksudku coba kamu ulang lagi, entah rasanya apa aku yang salah dengar tidak mencerna kamu bicara tadi.


"I Love You. Elea"


"Tapi Bram, aku akan pindah. Entah kita akan bertemu lagi atau tidak, aku berharap ini hanya lelucon."


"Enggak El, aku ingin kamu tahu. Kita sudah ditakdirkan bersama! Kamu tahu, besok malam kita bertemu. Ada suatu hal yang harus kamu pahami! Lihat, mangkok dan sendok emas ini. Kita itu sudah suami istri di tahun planet lain, tapi di bumi planet ini kita sebagai teman dan remaja."


Tling!


Bram pria itu menatap layar transparan, saat mangkok emas dan sendok emas itu terbang mengikuti Elea, hingga Bram yakin ingin mengatakan kebenaran mangkok dan sendok emas, yang ditemui Elea. Maka Bram berusaha menjelaskan agar Elea percaya, dan mungkin dengan itu mereka bisa kembali ke asal dirinya berada seharusnya, ditempat yang semestinya bersama keluarga sungguhan.


"Huuah! kamu gila Bram, kamu selalu saja ngelantur. Aku harus percaya, di depan mangkok dan sendok emas yang ga bisa bicara ini. Aku pamit Bram, aku harus pulang!" sesak Elea, ia pergi meninggalkan Bram.


"Tu-Tunggu Elea!" lemas Bram, karena Elea tak percaya padanya.


Tlith!


[ System berkata! dia tidak akan percaya, lagi pula aku adalah system yang hanya bisa di ajak bicara oleh mu Bram! ] sebuah mangkok berkata, membuat Bram meletakkan mangkok itu dengan kesal.


Sementara ingin berkomentar, Bram pun pulang, karena tidak ingin dianggap gila bicara dengan sebuah mangkok emas, dan sendok emas yang menempel. Hanya bergerutu dan berfikir, bagaimana agar Elea bisa percaya padanya tentang sebuh system yang membawa mereka salah di kehidupan remaja di belahan planet lain.

__ADS_1


'Kenapa aku yang hanya bisa melihat, kenapa aku yang bisa ingat meski sedikit.' batin Bram, membawa mangkok sendok emas itu.


TBC.


__ADS_2