Pengantar Box Jutawan

Pengantar Box Jutawan
MIKHA TAK PERCAYA


__ADS_3

Kaku, gemetar dan terasa ngilu. Sesak itu membuat Mikha tidak percaya, jika seseorang yang ia cintai mendapat penderitaan. Dimana Mikha yakin, itu bukanlah suaminya yang mendapat kecelakaan.


"Enggak, itu gak mungkin kan Osin. Mas Hari gak mungkin terlibat kecelakaan, gue mau pergi cari mas Hari sekarang, itu pasti salah orang. Yang celaka itu bukan suamiku, bukan bos kalian."


Teriakan Mikha di hentikan oleh pelukan erat Osin. Mikha menangis terisak sedu hingga ia lelah dengan sulit bernafas. Betapa tidak, keseharian manis manja mereka berlalu dengan cepat. Mikha masih merasakan perlakuan manis suaminya beberapa jam lalu.


"Osin, gue mimpi kan. Ini gak nyata kan, semua ini ga benar kan. Kalian sedang bercanda dengan ibu muda yang mungkin sedang hamil. Gak lucu tau gak. Jangan seperti ini, gue harus susul mas Hari. Dia pasti masih di apotik, padahal gue baru aja mau kasih surprise kalau gue beneran hamil. Ga mungkin mas Hari kecelakaan, apalagi sampai enggak selamat. Bertahun tahun penantian gue hamil, mas Hari ga boleh pergi ninggalin gue, anak ini harapan dan keinginan mas Hari. Huhuhu..." isak Mikha tiba saja hampir jatuh, sakin melemas tersungkur duduk.


"Mikha, sabarin. Tenangin diri lo, gue juga ga mau ini terjadi. Tapi semalam listrik area kebun kopi padam, lo masih perlu istirahat. Gue dan Eri serta pengawal pak bapak, udah suruh tim orang yang bertugas. Mereka sedang meliput kasus dan mencari tahu semua dalangnya. Gue harap lo sabar ya! kebetulan tadi pak Damar, pak Bram sedang menuju lokasi saat ini."


"Gue sabar. Gimana bisa. Kalau posisi lo di gue gimana Osin? Apa gue bisa sanggup sabar, diam di sini. Coba kalian pikir apa bisa kalian tenang hah ..?" teriak Mikha, yang masih mode histeris tak terkontrol.


Osin masih mencoba menenangkan, memeluk erat Mikha yang tak menerima kenyataan akan berita kecelakaan yang di lalui mobil suaminya, semalam mimpi tidak enak benar benar terjadi pada suaminya. Harusnya Mikha semalam tidak pingsan dan istirahat.


Ryo menyaksikan bagaimana istri sahabatnya itu terpukul. Ia tak menyangka jika pagi masih bertatap muka, tapi ketika malam, terjadi mati listrik di beberapa kota adalah tragedi kecelakaan sahabatnya.


Ryo berlalu di balik tembok, ia menyembunyikan kesedihan menatap istri sahabatnya itu. Jika ia telah menikah pun kelak, ia pasti akan merasa bersalah karena dirinya meninggalkan pasangan dalam keadaan tragis.


"Eri, apa kejadian itu murni kecelakaan. Atau ada orang dibaliknya. Yang gue dengar, kalian sedang mendalami kasus kan ..?" sentag Mikha pada asisten suaminya itu.


"Masih belum bisa di buktikan bu Mikha, takut sebuah fitnah berbalik fatal. Tapi masih dalam proses, dan secepatnya akan terungkap. Tuan besar juga sedang menuju kemari dari Eropa."

__ADS_1


"Apa. Maksudmu adalah paman Bram kan, akan tiba. Pukul berapa .. Lalu aku .. ?" serak melemas Mikha tak bisa melanjutkan bicara, karena menangis.


"Benar bu, paman Bram akan mengerahkan banyak intel, karena paman juga tidak percaya dengan anggota yang sedikit lelet mendalami kasus. Saya harap, ibu tetap jaga kondisi ibu untuk sehat." jelas Eri, yang hormat pada istri bosnya itu.


Eri pergi pamit, setelah ia mendapat telepon dari tim gabungan kepolisian dan intel untuk mencari jasad sang bos. Ia berusaha untuk mencari tahu dengan terjun ke lokasi. Jika bu Mikha tahu, ia akan syok jika petugas kepolisian berbicara tak ada jasad pak Hari. Belum lagi abu yang menempel pada kursi, Eri tak yakin jika arang berbentuk orang yang duduk itu adalah bosnya.


"Bos, anda adalah kakak kelas terbaik. Yang anggap saya seperti adik kandung, bukan lagi adik kelas saat di masa sekolah. Kebaikan anda, saya akan mengungkap semuanya agar bu Mikha tenang. Entah apa yang harus saya ucapkan jika Tuan besar tiba. Saya lalai tidak ada di samping anda. Jika waktu dapat di putar kenapa bukan saya."


Eri merasa terpukul, ia ingin menyetir kembali berhenti lagi. Rasanya tak sanggup jika melihat bu Mikha akan menerima beban dari belah pihak dan mungkin akan menyalahkannya. Belum lagi kasus bos nya yang hampir saja terungkap, namun fatal musnah karena luka dan duka kesedihan saat ini.


"Aargh! kenapa gue masih jadi asisten pecundang dan selalu terlambat sih." ungkap Eri. Ia merasa bersalah karena tak bisa melindungi Hari, sesuai janjinya pada Tuan besar yang penuh budi padanya dan keluarganya.


BERBEDA HAL DENGAN MIKHA.


KE ESOKAN HARINYA.


Mikha masih memeluk erat liontin dengan inisial pernikahan mereka. Ia menatap barang barang yang di berikan kepolisian padanya.


Di kantor polisi, Mikha menemukan beberapa barang dan benar adanya cincin pernikahan yang terukir namanya dan Hari gosong, bahkan jam rolex yang hanya sedikit gosong tak terbakar. Sebuah tangan gosong dalam plastik dengan sebuah cincin putih jelas miliknya.


"Aargh!!!" teriak Mikha. Ini gak mungkin kan Osin, gue harap itu bukan mas Hari. Huhuhu.

__ADS_1


Mikha menutup wajahnya, dalam pelukan Osin yang menenangkannya untuk melantunkan asma Tuhan. Sesekali menatap barang bukti, berharap itu bukan tangan mas Hari dengan sebuah cincin dan jam rolex yang tidak meleleh. Terlihat juga dokter forensik tiba ingin memastikan tes dna.


"Mikha, sabar tenangin diri lo. Kita sama sama harus ikhlas. Gue juga yakin itu bukan suami lo, kita semua bakal terus lanjutin semua kasus ini, karena suami lo itu bos kita yang paling baik, Eri juga sedang mendalami!"


"Semoga saja, aku berharap mas Hari cepat kembali. Dimana kebahagiaan kita baru saja di mulai." lirih Mikha.


Apalagi Mikha saat itu bingung, akan tuan besar yakni kakak dari Hari, yang di anggap sebagai pengganti papanya.


Mikha pun mengangguk mengikuti prosedur, tak lama seseorang datang membuat Mikha terkejut, dimana tamu itu adalah seseorang yang amat penting, dan kenapa Mikha baru tahu, jika jendral pangkat lima turun hadir mendalami kasus kecelakaan suaminya, Hari Hartanto.


'Dia kenapa datang, apakah ..?'


"Mikha, dia adalah klien terbesar pak Hari, dimana ia turut berduka, hilangnya pak Hari. Bahkan pak Jendral mengerahkan banyak orang untuk pencarian pak Hari, juga memecahkan kasus Lena dan Dani."


Deg.


Terdiam Mikha, ia hanya mengangguk dan mempersilahkan dengan nada sopan. Namun di balik pundak pak Jendral, Mikha terkejut seperti ada seseorang yang memakai topi penutup wajah mirip rampok seperti memotretnya.


Ckreg.


Tbc.

__ADS_1


__ADS_2