
Satu minggu telah berlalu, Bram siuman dengan raut wajah yang begitu lebih ikhlas. Sadar kehendak kekasih yang ia cintai tidak akan pernah kembali, meski dengan bantuan system. Dan utusan langit, tetap saja Oliver berkata itu di luar kehendaknya, sejatinya orang yang sudah mati tidak bisa di hidupkan meski di dunia berbeda.
Terkecuali tugas misi dari langit, kepada siapa yang berhak dan ingin Oliver temui karena sudah menjadi suratan.
"Bagaimana dengan Bram?" tanya Reksa, berdiri dengan sebuah tongkatnya.
"Dia hanya perlu waktu Tuan! kenyataannya ia ingin bersama, sudah tidak bisa di sambungkan lagi. Kehidupan Elea sudah bukan di bumi, melainkan kembali hidup ditakdirkan dengan kepribadian yang berbeda. Karena itu sudah garis takdir."
Sementara Damar, seorang anak itu mendekati ayahnya. Ia melihat raut wajah tua Bram, yang semakin hari semakin tidak ceria. Hari berganti semakin larut, dan dari tahun ke tahun. Bram menjalani hidup tanpa keceriaan, hidupnya seolah kosong tanpa Elea, dia adalah wanita yang selama ini mendampingi Bram dari sulit, hingga tersulit menjadi miliader ia tetap memilih dan mendukung Bram. Jadi wajar jika ia begitu kehilangan, dan tetap menunggu umurnya terhenti hingga nafasnya bisa betemu Elea di ke abadian.
"Dady! selamat ulang tahun, Damar bawa kue ulang tahun. Bisakah kita merayakannya dengan ceria? senyuman Dady. Damar rindukan."
Begitu tersentuh! Bram kali ini bangkit, melewati masa masa Damar yang telah tumbuh menjadi dewasa. Hingga akhirnya Bram, kembali kesehariannya yang kini hanya menikmati hidup saja. Bahkan perusahaan s konstruksi, pabrik timun emas, dan perusahaan perumahaan elite lainnya sudah di pegang oleh Damar, dan Alex seorang It system ia menjadi kaki tangan Damar, untuk meneruskan berbagai perusahaan milik Bram dan sang kakek yang sudah di ambang renta. Sebab Bram sudah semakin menua meski tampan masih terlihat, akan tetapi tuan Reksa hanya terbaring di kasur meski sehat, karena kondisinya yang tidak bisa kuat lagi berjalan.
"Maafkan Dady Damar. Dady begitu mencintai ibumu, sehingga melupakan masa pertumbuhanmu."
"Damar mengerti dady. Damar salut dengan Dady. Damar hanya ingin Dady selalu bahagia."
Happy Ending
***
Season 2!!
Kisah Damar, putra Bram Hartanto.
Sementara di tempat lain, Damar yang sedang kuliah. Ia segera mendaftar di temani Alex, yang kemanapun Damar pergi. Ia akan selalu mendampinginya. Namun Damar tertuju pada seorang wanita yang gayanya mirip pria, ia berjalan melewatinya dengan angkuh dengan setelan jas hitam, celana ketat mengkilat melewati Damar, seolah acuh tak melihat pria bernama Damar, atau gadis itu memang tidak mau tahu.
Siren kembali meletakkan sebuah gelas ramping, ia sudah akan berangkat ke markas. Tempat dimana dirinya dibesarkan dari nol, hanya karena kekuatan yang tersembunyi. Membuat dirinya bisa mengalahkan beberapa pesaing kemampuan, termasuk peretas dan hacker sedunia sekalipun meminta tolong padanya. Siren saat itu peretas handal, dengan kemampuan yang kala itu satu university dengan Damar si putra miliader.
__ADS_1
Hanya satu, ia masih mencari keberadaan raja system yang konon membuat kelemahannya pudar. Sekaligus Siren ingin mencari teman kecil seperjuangannya. Konon ia juga berada di negeri tetangga yang kini ia tinggali, ia selalu lewati dan bermimpi bertemu pria yang bisa satu visi membuat komputer dengan system pancaran sinar matahari tanpa adanya listrik, itu adalah tujuan visi Siren, dengan bocah laki laki yang masih ia ingat jelas.
"Kamu itu adalah sosok seperti ibu yang hilang di telan bumi. Berbagai perusahaan elite memohon padaku, untuk meretas segala pesaingnya. Jika keluargamu benar benar kaya, kenapa tidak salah satunya memohon dengan atas namamu. Tidak satu pun kamu mencariku.' lirih Siren, entah bicara pada siapa.
Siren pergi dalam beberapa jam, ia berusaha menghadiri sebuah pesta. Pesta yang terdiri dari berbagai manusia yang mempunyai kelebihan bahkan otak genius sekalipun hadir di sana.
Seorang gadis cantik berkulit kecoklatan menurunkan tangannya, matanya menyipit memandang meletakkan tangannya di pipi gadis itu, kemudian menghisapnya dan menepuknya beberapa kali, membuat sang empu tertawa ringan.
Cady adalah kekasih Orlando teman kuliah yang konon paling kaya, seorang gadis cantik dengan warna kulit yang kecoklatan dan mempunyai kelopak mata tunggal.
"Kenapa kamu semakin hitam?" ucap Orlando pertama, menatap Cady yang sedikit mundur memperlihatkan dirinya. Sementara Siren yang melihat ingin muntah, yang nampak hadir ia cukup dikejutkan dengan pria datang dengan setelan memesona hadir di pesta kuliah tersebut.
Senyum kecil Orlando menghiasi sudut bibirnya, ditambah cahaya matahari memancar ke wajahnya. Ia seolah bagai tersaingi ketika ada pria lebih tampan darinya, di pesta acara kampus ini.
Siren mengeluarkan dua lembar kertas tisu untuk menghapus keringat. Setiap kali dekat dengan Orlando, dia selalu mencium aroma tembakau bercampur dengan aroma keringat, menjadikan perpaduan aroma yang khas ingin muntah, sehingga ia bergeser dan menatap semakin dekat dengan pria yang di dampingi seseorang mirip pengawal.
Sambil diam, Siren menutup matanya dan membayangkan laki laki di hadapannya adalah seorang pria dewasa yang berusia tiga puluh tahun.
"Gadis bodoh, apa yang kau lihat?" Orlando mengerutkan keningnya menyenggol Siren, temannya yang aneh itu.
"Kau tahu ... besok ayahku akan menikah. Aku perlu pria yang bisa menggandengku." lirih Siren, menatap Orlando.
Mata Cady melebar, melihat kekasihnya dekat dengan teman wanitanya itu. "Secepat itukah? apa kau yakin bisa mendekatinya Siren, ku dengar dia itu kekayaannya unlimited, kau pernah dengar keluarga Hartanto?" bisik Cady, memanasi Siren.
"Kau tahu dari mana sayang?" jawab Orlando, kala kekasihnya itu sudah tahu gosip.
"Aku tidak sengaja, mendengar di ruang dosen say."
"Berhentilah berdebat kalian. Menurutmu, apa aku harus datang atau tidak, mendekatinya apakah aku perfect?"
__ADS_1
"Emm ... datang saja lah! Kenapa tidak. Kau harus biarkan dia memahamimu kalau kamu itu bagian dari keluarganya, dia tidak akan mempermasalahkan apa pun. Lagi pula, dengan tampilanmu seperti pria. Memang ada yang mau Siren." cerocos Orlando.
"Kalian menyebalkan, lihat saja aku pasti bisa menggaetnya. Akan aku tunjukan pada kalian." bisik Siren dan pergi.
Bahkan kelebihan Siren saat ini wanita punya kelebihan, bisa mendengar pembicaraan orang meski dari jarak sepuluh kilometer. Serta kemampuan otak dan jarinya yang mengeluarkan cahaya dibarengi dengan permintaan apa yang ia ucapkan.
Tetapi Siren melihat orang dari ayahnya, berusaha mengejarnya membawanya pulang dengan paksa.
'Astaga, mereka selalu mengacau deh.' batin Siren, ia berlari cepat tanpa melihat ke arah lain.
"Awaas, hey... Bruugh."
"Tutup, pintu besi terkuncilah!" teriak lagi Siren, membuat pria itu kaget, kala ia menunggu Alex dari toilet, akan tetapi wanita aneh main menariknya.
Kraak!!
Grgrgrgrg.
Sebuah pintu tertutup rapat, dan berubah menjadi pagar besi yang sulit dilewati. Tanpa disadari, Damar dan Siren mendekat saling bertatap. Siren pun menatap mata Damar, lalu berusaha melihat kedalam bola matanya. Apakah dia benar benar pria dua belas tahun lalu, yang sempat bertukar janji.
"Apa yang kamu lakukan, menarik aku ke sini?" cibir Damar dan Siren membuka matanya lebar lebar.
"Sssst! aku sedang dikejar, jadi ku mohon. Diamlah sebentar."
Damar yang kesal melihat wanita mirip pria, tak sengaja melepas paksa, menyingkirkan tangan wanita itu di bahunya. Sehingga kala itu rambut palsunya terjatuh dan tergerai, membuat Damar terpukau saling menatap.
Siren sendiri, ini pertama kalinya rambut palsunya terlepas, setelah belasan tahun.
"Kau wanita?' lirih Damar, kala rambut Siren terurai berkilau, mirip iklan gadis shampo.
__ADS_1
Tbc.