
Berbeda Hal Dengan Bram.
"Pah, kenapa papa masih marah dengan Hari, bukankah kesalahan ada pada mama inggrid, dan kita yang salah. Karena tidak tahu sakitnya selama itu."
"Tetap saja, papa tidak akan biarkan dia masuk ke dalam keluarga Hartanto, jika dia tidak bisa mengikuti peraturan! Kecuali dia bisa sukses tanpa sepeserpun uang kita, jangan mensuportnya lagi Bram!" ujar Papa Reksa, yang saat itu ia pergi.
Sementara tak lama Elea mengetuk ruangan kerja suaminya, ia juga telah tahu informasi Ryan yang saat ini dikirim Tio berlayar. Dan Elea yakin, ada maksud rencana lain Tio pada usaha Gold Miror, dan perkebunan timun emas Bram yang saat ini maju pesat.
"Bram, ayo baca apa yang aku bawa!"
Beberapa saat pun! Bram ternganga, bisa bisanya Tio sengaja masuk, agar ia bisa memperoleh keuntungan tanpa kerja keras.
"Licik, akan aku bereskan soal Tio, Elea kamu tetaplah disini, ketidakberadaan Kristal akan membuatmu kerepotan, setelah dari kantor penelitian. Aku akan keluar sebentar." ujarnya membuat Elea mengangguk.
"Kamu akan kemana Bram?"
"Bertemu Klien, aku meminta bantuan seseorang. Untuk menerima nama Hari, jika ia melamar pekerjaan. Soal Tio dan Ryan, aku yang selesaikan." senyum Bram, tak lupa mengecup kening Elea yang mematung.
***
Ruang Office.
"Namanya Hari, Pak."
Seorang pria paruh baya nampak mengamati cv Hari, nama yang begitu singkat. Ketika Hari melamar bekerja sebagai office boy di perusahaan yang bergerak dibidang konstruksi.
"Bukankah dia putra Inggrid, cucu dari orang ternama, kenapa nama belakangnya ditinta?" gumamnya menatap lekat foto yang terpasang di cv tersebut.
"Hari, jangan lupa kamar mandi di ruangan CEO bersihkan ya. OB yang biasanya membersihkan lantai atas sedang izin."
Hari pun, mengangguk patuh, atas perintah pengawas. Hari juga langsung, membawa peralatan kebersihan naik ke lantai atas menggunakan lift khusus petugas kebersihan.
"Tunggu, jangan tutup lift-nya!" seru seorang gadis nampak terburu-buru.
__ADS_1
Menahan pintu, Hari mengernyit bingung saat melihat pakaian yang dikenakan oleh gadis tersebut.
Meski sudah bertahun-tahun tidak mengenakan pakaian bermerek, tapi Hari sadar betul. Jika pakaian sederhana yang digunakan gadis tersebut seharga dua motor jetski.
"Anda bisa menggunakan lift pengunjung atau karyawan, Nona. Lift ini khusus petugas kebersihan," tegur Hari, yang merasa jika gadis tersebut salah tempat.
"Aku tidak suka menunggu, jadi aku memilih lift mana saja yang terbuka lebih dulu. Lagi pula aku ingin segera bertemu kakek," cerocos gadis tersebut tidak perduli tengah berbicara pada siapa.
Lift yang sampai di tengah perjalanan tiba-tiba macet dengan lampu yang padam.
"Jangan bilang sedang mati lampu? Hell, kenapa di luar negeri bisa mati lampu. Aku benci ruangan sempit," kesal gadis tadi dengan panik.
Hari sempat terdistraksi oleh celotehan gadis yang ada di depannya, sampai lupa menekan tombol darurat.
Setelah kembali sadar, Hari segera menekan tombol darurat yang ada di dalam lift.
"Permisi, lift petugas kebersihan sedang macet. Adakah yang bisa memberi pertolongan?" tanyanya dengan tenang.
"Baiklah, instalasi listrik tengah mengalami korsleting. Tunggu sebentar jangan panik," jawaban dari ruang kontrol didapat dengan cepat.
"Tapi aku takut dengan ruangan sempit," racau gadis tersebut nampak sesak nafas.
"Tarik nafas dan buang perlahan, bayangkan hal-hal yang membuat Nona senang," tutur kata Hari, membuat gadis itu terhipnotis. Dia melakukan persis seperti yang dikatakan Hari.
Benar saja, meski tidak menghilangkan seluruh kecemasannya. Paling tidak dia merasa jauh lebih tenang.
Keduanya duduk di lantai lift saling berbincang dan berkenalan.
"Siapa namamu? Serius kamu dari Indonesia?"
"Nama saya Hari, iya benar. Saya dari Indonesia Nona," jawabnya kalem.
"Namaku Kristal Alora, sebenarnya aku liburan ke sini. Tapi sama kakek, aku diminta sekalian kuliah. Meski sebenarnya aku lebih suka kuliah di Indonesia, kasihan kakek juga sih. Di sini sendirian," cerita gadis itu.
__ADS_1
'Jiieh, lagi lagi namanya mirip Kristal si wanita pencabut nyawa, tapi terkadang dia juga penolong sih. Hanya mirip nama saja kan?' batin Hari, ia ingat salah satu orang kepercayaan Bram bekerja di Gold Miror.
"Apa kalian baik-baik saja?" tanya petugas keamanan yang mencoba untuk membuka pintu lift.
Keduanya serempak menoleh. "Ya, kami baik-baik saja." Sigap Hari menjawab dan segera mengajak Kristal Alora berdiri.
Setelah ditarik keluar dari lift tersebut, nampak ia langsung disambut pelukan oleh pria tua dengan setelan jas yang rapi dan licin.
Kembali memikirkan pekerjaannya, Hari segera berlalu untuk membersihkan ruangan CEO seperti yang ditugaskan padanya.
Menggunakan tangga darurat, dia sampai di ruangan yang sangat sepi seolah tidak pernah dijamah manusia.
"Ruangan licin begini, apanya yang harus dibersihkan? Aku tidak ragu kalau tempat ini dibangun dengan material berkualitas terbaik. Jangan-jangan lampu bening itu terbuat dari berlian asli, ngeri sekali kantor ini." Bukannya memiliki hasrat untuk mencuri, Hari justru bergidik ngeri dengan atmosfer ruangan CEO dari perusahaan konstruksi tersebut. Terasa sangat seram dan mengerikan.
Tidak butuh mengagumi interior ruangan sang pemilik kantor, Hari membersihkan seperlunya saja. Sebab untuk beberapa sudut ruangan yang sulit dijangkau manusia, sudah dipasangi alat canggih yang mampu menyerap debu sampai ke bagian terkecil.
Sudah yakin jika ruangan mengkilap lebih dari seharusnya, Hari mengamati sejenak presisi dari ruangan tersebut.
"Ck. Dibersihkan atau tidak sama saja ternyata, ah, rasanya seperti membersihkan benda yang memang sudah bersih." Usai menggerutu, dia masuk ke dalam kamar mandi yang tak kalah mewah dari kamar hotel VVIP.
"Halah, aku sudah pernah punya yang kayak gini. Cuma beda seupil doang," gumamnya mulai menyikat bagian-bagian lantai kamar mandi supaya kesat sehingga bapak CEO tidak terpeleset.
Terlalu larut dalam pekerjaannya, Hari tidak tahu jika sang pemilik ruangan sudah kembali. Dan menatapnya yang sedang membersihkan closet kamar mandi.
Seorang CEO itu tak lain adalah Oliver Kristalion, si utusan langit yang sedang menyamar sebagai CEO diperusahaan tersebut dengan nama Rusdi RG.
Sementara gadis periang itu adalah Kristal, yang pulang ke gunung emas. Akan tetapi misinya kembali ketika utusan langit memerintahkan salah satu orang untuk mengikuti misinya, yang kali ini berbeda dari Bram Hartanto si kurir delivery timun emas.
"Menurutmu, sampai kapan kita mengawasi dia. Aku sudah ingin pulang, tidak sangka surat perintah kembali aku terjebak di raga manusia." cerocoh Kristal.
"Kau pikir aku suka dengan sosok bayangan, dan meminjam Jiwa manusia. Hanya terus memantau Hari, ingat dia orang terpilih setelah Bram. Maka lakukanlah agar dia bisa kaya dengan mencuri system data musuh kita." ujar Oliver kala itu.
Sementara Hari, ia merasa cukup selesai dengan pekerjaannya. Ia keluar dan kaget ketika dua orang sedang berdiri menatapnya
__ADS_1
TBC.