
Pernahkan kalian berada di posisi tersulit, dimana yang kaya tidak seperti yang kalian anggap selalu perfect, bahagia. Bahkan kali ini, Mikha jika ingin ditakdirkan, ia ingin menjadi gadis biasa biasa saja, bersuami pria yang terlalu elite dalam kehidupan selalu perfect dan nomor satu, itu adalah hal menakutkan bagi Mikha.
Dimana kenyataannya kehidupan orang berlimpah banyak godaan, dimana suamiku Hari Hartanto yang sudah kaya, harus mempertahankan nama besar keluarga itu menjadi nomor wahid, paling rendah adalah orang terkaya nomor 3, dimana tuntutan garis tidak boleh tergeser lebih dari angka 3.
"Aku harap semua ini hanya mimpi. Tapi tanpamu aku bisa apa mas Hari, bahkan banyak dari orang berprasangka buruk padaku, jika aku lah yang menyebabkan kamu celaka, karena ingin menggantikan posisi suamiku, dimana baru beberapa minggu kamu umumkan, aku adalah istri sah satu satunya yang ada di hati dan jiwamu." lirih Mikha dengan lemas.
Kini Mikha berada dalam ranjang rumah sakit. Ia masih jelas menatap layar tablet ponsel yang menyala. Masih tersambung berbagai video yang di kirimkan Eri.
Sehingga kala penat luka yang mendalam, ia turun dari ranjang rumah sakit, sekedar fresh pikiran dengan penyangga tiang dan selang infus yang tertempel, Mikha perlahan berjalan jalan tanpa melihat beberapa penjaga.
"Mas, aku gak yakin itu abu jiwa mu. Aku mempunyai hak batin yang yakin. Kamu masih ada mas Hari." masih menatap bingkai foto pernikahan, dan satu tangan lagi mengclose monitor.
Mikha tak menyangka, jika pemakaman sang suami di gelar terbuka. Hingga di mana ia bersandar dan mencoba mencari semua teman terbaik yang sering dikunjungi bersama.
'Mas, aku harus apa. Tanpamu aku bingung untuk pergi. Kenapa harus seperti ini?' batin.
Mikha berusaha mencabut selang infus, ia berjalan keluar berusaha untuk menghirup udara. Dengan berdiri yang samar dan sedikit pusing. Hal itu membuat ia harus berjalan pelan dan bersandar pada dinding tembok putih.
Mikha menutup kembali pintu ruang rawat pasien, dengan samar ia mencoba berjalan dengan sedikit bertenaga. Agar ia sampai di sebuah lorong taman tak jauh dari kamar bougenville. Namun saat ia hampir sampai, menatap bunga berwarna ungu. Terlihat jelas, wanita yang tersenyum menghampirinya dengan tatapan amat senang.
"Jadi, istri pengusaha ternama di rawat di rumah sakit ini juga. Heumph, kasian. By the way turut berduka ya bu Mikha. Ini kabar bahagia sangat bagiku Hahahaha .. Eeemh uuuups ...!! sorry kabar buruk." ujar seseorang membuat Mikha geram.
__ADS_1
Mikha menahan emosi, ia berahli tatapan ke langit dan bunga yang indah. Baginya membuang waktu jika harus meladeni Lena yang datang dengan wajah penutup masker dan kacamata serta tak lupa bertudung.
"Mau kemana, mau kabur dari realita kehidupan yang pahit. Hahaha?" senyum tawa Lena menyentil, saat Mikha mencoba hindar dan menjauh.
Lena sengaja menertawakan Mikha. Awalnya ia ingin mengecek kondisi Dani yang memang di rawat jalan di rumah sakit besar juga, karena kecelakaan motor ringan. Namun tak di sangka bertemu Mikha adalah hal yang sangat menyenangkan baginya. Mencoba mengolok Mikha dengan keadaan yang pasti senang baginya, namun Mikha terlihat, seperti ingin menghindar darinya.
"Sepertinya istri pengusaha ini gak terlalu sedih deh. Coba gue liat raut wajah loe Mikha?" mengelilingi tubuh Mikha, Lena kembali membuat onar pasca Mikha pergi, ia ikuti dengan langkah cepat.
Lena berteriak, hingga di mana tatapan beberapa orang yang berjalan. Melewati tatapan Mikha yang pucat sedikit terhenti dan berbisik bisik.
"Hey .., kalian semua tahu gak. Wanita ini istri pengusaha yang membuat tragedi listrik mati se ibu kota. Huuft tragis, tapi kok ga ada raut wajah sedih ya. Jangan jangan, Heumh...?" tatapan Lena, senyum lebar pada raut wajah Mikha.
"Wah saya ga percaya. Cantik sih, tapi bisa jadi istrinya ya?" Iya yah!! Aduuh kasian malang nian nasib pria mempunyai istri tidak tau diri!! Iya yah. Gerutu banyak orang.
Mikha bahkan menghela nafas, air mata sudah terlalu kering untuk ia menangis. Hanya sebuah mengepal aksi tangan kekesalan pada Lena ingin sekali menampar, andai ia tidak lemah mungkin sudah membuka wajah Lena atas kasus yang viral, hanya saja tak semua orang menonton televisi bukan.
Mikha duduk tersungkur. Ia menahan kram sakit di perutnya semakin teramat sakit yang amat kencang dan mengeras. Hingga otot seperti menjalar bagai ingin lepas.
"Aaaaaakh. Tolooong!" teriaknya.
"Haaalah, paling juga alibi. Hai ibu ibu, bapak bapak. Kalian tahu saya kan? istri terkenal. Liat nih ya, wanita ini cuma akting. Drama banget pasti, kaya kehidupannya penuh drama. Pasti dia bohong tuh megang perut beralasan sakit .. " Lena senyum miring, berusaha membuat semua orang percaya padanya, pasca tidak semua di rumah sakit tahu akan Lena yang viral dari sebuah kasus yang sedang ditangani oleh Dani, dengan wajib lapor saja.
__ADS_1
Lena senang mengoloknya semakin bahagia, Mikha yang berteriak kesakitan tapi tak ada satu pun yang menolong dan hanya memotret memasukannya, merekam ke sebuah sosial media.
"Aarggh. Toloooong!!" teriak kembali Mikha duduk menahan kesakitan di bagian perut.
Hingga di mana, Osin yang berlari jauh melihat keramaian. Ia begitu terkejut menatap sekeliling, dan menatap Lena wanita yang ia benci sedang mengolok sahabatnya.
Bruuugh!! aksi Osin mendorong Lena, ia membuat Mikha yang panas dingin melemas tertolong saat itu.
"Osin, Help Me... " lirih Mikha melemas kesakitan.
Osin segera berteriak meminta tolong, hingga di mana menunjuk Lena saat itu juga.
"Dia wanita licik yang viral, telah mencelakai seseorang masuk jurang, buat kalian jangan melongo saja mengolok orang yang salah tanpa bukti. Lihat berita 1906 jurang, lihat apakah wajahnya mirip dengannya?!" teriak Osin, membuat Lena kabur dari sana.
Sehingga kala itu Osin mendorong ranjang rumah sakit, kala suster datang membantu Mikha yang lemah.
"Suster tolong pasien ini, dia kesakitan perutnya sus!"
"Mari bu, kita ke ruang Igd." balas sang suster, membuat Mikha terdiam menahan rasa kesakitan yang luar biasa.
Tbc.
__ADS_1