Pengantar Box Jutawan

Pengantar Box Jutawan
MELAWAN TAYLOR


__ADS_3

Kristal bicara, jika kesuksesan Bram saat ini sudah bisa berdiri sendiri. Maka dari itu, anggap saja pertemanan bisnis mereka ini di lalui dengam suka duka. Bram juga berterimakasih, karena setiap misi yang ia lakukan. System memberikannya pesan, dan hal itu juga membuat Kristal tahu posisi berbahaya dan tidak! bagi Bram.


Saat asyik, mobil berhenti. Bram nampak terkejut kala Elea datang, dengan wajahnya kepanikan.


"El .. Sedang apa?"


"Bram, penelitian ricuh. Orang Taylor merusak rumah, bagus aku bisa melarikan diri. Mereka saat ini menuju Bar Light!" jelas Elea.


Tlith!


[ Bram, pergilah dengan sepeda motor khusus! hukumlah Mr Taylor yang telah mengingkari janji, ia tak rela tanahnya dijual dan berniat aset tanah sengketanya kembali menjadi miliknya! ] pesan System.


"El, tunggulah disini dengan Kristal! Kristal, aku titip kekasihku." lirihnya dan berlalu pergi.


***


Beberapa Jam Kemudian.

__ADS_1


Terlihat Bar yang di pegang Hari, telah rusak sebagian. Belum lagi tempat tinggalnya dengan Elea telah rata. Konon mr Taylor tersinggung ia bukanlah juragan terkaya saat ini.


Bram, maju terus menghajar lelaki itu habis-habis an. Dengan handphone yang tadi masih di genggam Bram, dia menghantamkan benda keras itu ke lawannya. Dari wajah, hingga lengan laki-laki bajingan itu telah ia pukuli dengan keras. Tak perduli kalau si lawan nya sudah lecet berdarah di sana sini. Emosinya tak kunjung mereda juga. Memikirkan milik usahanya direbut begitu saja darinya.


Padahal, Bram benar-benar mempercayai Mr Taylor. Mereka berdua bahkan sudah sering saling berjanji untuk menjalani hari-hari tua bersama, dengan bisnis system bagi keuntungan 10%, tapi Dia ingin lebih. Dan kini ia harus menerima semua kesulitan ini lagi begitu saja?


Orang-orang yang ada di sekitar situ langsung mencoba melerai keduanya. Lebih tepatnya menghentikan Bram yang seolah-olah sedang kerasukan. Tetapi usaha itu masih sia-sia. Padahal punggung tangan Bram kini juga sudah ikut merasa sakit. handphone yang digunakannya untuk memukul juga sudah remuk. Bram masih tak mau melepaskan lelaki itu. Baju yang di kenakan oleh lawannya sampai compang camping karena dipegang kuat oleh Bram, Tak membiarkannya lolos.


Perkelahian itu ternyata sudah menjadi tontonan bagi para pengunjung bar! Bahkan ada juga yang malah mengambil video dan gambar dari kejadian itu. Semua keributan itu mulai mereda saat petugas keamanan datang. Mereka memegang erat tubuh Bram yang masih memaksa untuk lanjut menghajar lawannya.


Bram, benar-benar berhenti saat tak lama setelah itu datang beberapa orang yang memakai seragam polisi. Sial! Siapa yang memanggil polisi ke tempat ini.


Orang yang ada disana saling pandang sejenak. Hingga Elea yang mulai membuka mulut, di mobil bernada dengan Kristal ikut datang dengan polisi.


“Dia pak. Tadi saya yang lapor pak. Dia tiba-tiba main pukul kekasih saya, Pak,” ucapnya sambil menunjuk dengan jelas ke arah pria asing.


Para polisi langsung mengamankan suruhan Taylor! Sedangkan, Taylor dia masih sibuk membantu untuk bangkit. Lelaki brengsek itu tampak kesusahan untuk berdiri. Dia mengeluh kesakitan setiap lengannya digerakkan. Hatinya juga terasa nyeri. Meskipun begitu dia masih bisa menaikkan ujung bibirnya saat melihat Taylor digiring menuju mobil polisi.

__ADS_1


Bram masih memandang kearah mereka berdua dengan marah. Terlebih saat ia melihat lelaki itu menertawakannya dan berkata tanpa suara tapi tetap terbaca oleh Bram.


“HABIS KAU…”


Melihat itu, Bram tampak ingin mencoba berontak, agar bisa menghajar lelaki itu lagi. Tapi polisi yang memegangnya tak membiarkan hal itu terjadi. Dengan nada tegas polisi itu berkata,


“Berhenti bikin ulah! Kalau tidak, hukumanmu akan bertambah.”


Mendengar ancaman itu, Bram hanya bisa diam mengikuti apa yang dikatakan oleh polisi itu. Dengan pasrah, Bram ikut digiring ke kantor polisi terdekat. Dalam hatinya ia berharap hukumannya tak terlalu berat.


Di kantor polisi ia ditahan sementara di sel kantor polisi itu. Menunggu hasil penyelidikan dari perkelahian nya menemui titik terang. Apalagi saat mengetahui bahwa korban dari pemukulan itu adalah putera orang kaya raya dan berpengaruh di kota, petugas polisi tanpa ragu seakan mempercepat proses hukumannya.


Dalam kantor polisi itu, Bram merenung sambil terduduk. Meski ia tak menyesal telah memukuli pria itu, tapi, seharusnya ia tak melakukannya di waktu itu. Dia harusnya bisa mengontrol emosinya lebih baik lagi.


"Katakan padaku, dimana mr Taylor saat ini?" teriak Bram, mengancam pada anak buah polisi.


"Bram, kita ikuti prosedur! Jangan emosi seperti ini!" lirih Elea, sementara Kristal nampak berjalan ke arah sesuatu.

__ADS_1


Tbc.


__ADS_2