Pengantar Box Jutawan

Pengantar Box Jutawan
BERHARAP BERTEMU


__ADS_3

BERBEDA TEMPAT.


Hari Hartanto, membantu Elea yang sedang menyiapkan paket untuk diantar kepelanggan. Kesehariannya memang dibantu oleh Hari, agar bisnis Bram tetap berkembang. Membuat hal yang rumit ketika Kristal tiba tiba datang dengan helaan nafas yang berat.


"Kristal kamu kenapa?" tanya Elea.


"Berat, ooowh. Aku mengerti sekarang, pantas saja aku tidak bisa pulang dengan cepat sebelum Bram kembali." lirihnya begitu saja.


"Pulang ..? Kenapa bicara pulang terus sih." gumam Elea.


Hari, menoleh setelah merekatkan beberapa stiker nama usaha sang kakak. TB GOLD, dalam perekat setiap kardus yang berisi timun emas.


TB Gold singkatan dari Timun Bram Gold, yang usaha Bram adalah sayuran jenis langka, belum lagi ada emas 24k. Hari langsung memberikan minum pada Kristal saat itu.


"Kak, minum dulu. Setelah tenang baru bicara."


"Ah! Thanks kau lebih perhatian daripada pemilik usaha ini."


Elea terdiam, memiringkan salah satu alisnya dan mengambil tablet Bram.


"Aku juga mau bilang, kau mengerti arti poin bertambah setiap jam waktu berbeda. Di sini saldo tambahan id nama Bram selalu bertambah, apakah itu artinya ...?"


Deeeuph!


"Apa bertambah poin dan saldo atas nama Bram?" Kristal semakin yakin, meraih tablet dari tangan Elea.


"Bram masih hidup, tapi aku tahu sekarang. Sudah pasti Bram sedang menjalankan tugas, sehingga dia belum bisa pulang." jelas Kristal.


"Kalau begitu benar adanya, aku ingin menemuinya. Kristal, katakan padaku! Dimana keberadaan Bram saat ini." cercah Elea penuh harap.


Kristal pun meminta Elea bersabar, sehingga Elea memutuskan untuk pergi dengan raut sedih, ditambah karena kuliah dan penelitiannya akan segera berlanjut.


Sementara Hari, ia berada dikantor timun emas menunggu petani menimbang dan menjual ke pasar. Terkecuali delivery khusus yang dilakukan Bram seorang, saat ini pindah ke Hari yang mengantarnya.


"Baiklah, aku akan menunggu. Setidaknya akan aku cari tahu sendiri, dimana Bram sekarang."


"Elea berhati hatilah, aku juga akan pergi ke rumah sakit. Klien saat ini akan tiba soal pihak rumah sakit, mengatakan jika jenazah Bram ada disana. Aku akan mengecek langsung, jika itu bukan jasad Bram! Akan aku tuntut pihak rumah sakit tersebut." tambah Kristal, ia segera meraih jaketnya.


Padahal jelas, Kristal melihat wajah mirip Bram. Mempunyai sengatan listrik yang berhasil menyerang para gerombolan seperti orang jahat. Tapi Kristal tak sampai hati menjelaskan pada Elea ataupun Hari saat itu juga, dengan apa yang ia lihat tadi pagi.


***

__ADS_1


DI TEMPAT BRAM.


Tiba saja tiga pria yang kabur tadi, salah satunya kembali datang dengan sebuah pedang panjang.


"Hey kau, maju aku akan melawanmu!" seseorang menantang Bram.


Sebenernya juga tidak masalah kalau ada senjata, tapi Bram tidak yakin akan bisa menang jikalau senjatanya yang diharapkannya berupa pedang dan lain-lainnya, yang ukurannya lebih besar dan kemampuan bertarungnya pun tinggal.


Keduanya pun saling bertukar jurus. Kali ini pertarungannya cukup alot lantaran lawan Bram sekarang, juga memiliki kemampuan bela diri karate, yang mana pada masa kesempatan kali ini jurus-jurus yang dikeluarkannya dapat terbaca dengan mudah.


Bram, mengumpat kesal, saat perutnya terkena tinju karate dari lawan duelnya. Tenaga dalam yang dikeluarkan pun tidaklah sedikit, pantas saja kalau Bram sampai terpental dan mulutnya memuntahkan darah segar.


"Sial, ternyata si gemuk ini boleh juga kemampuannya. Kalau begitu, aku tidak boleh lengah dan menganggapnya lemah." Bram bergumam, sambil menyeka darah yang mengucur dari tepi bibirnya.


Bukan hanya Bram, saja yang terluka, tapi si bertubuh gempal itu juga mengalami luka yang sangat serius.


Dirasa telah lebih tenang, Bram merapikan pakaiannya yang kotor akibat debu. Dirinya bergaya demikian untuk mengulur waktu.


Duel pun kembali terjadi. Kali ini si tubuh gempal sudah mulai kelelahan. Staminanya turun drastis dari sebelum ini.


Bram, segera memanfaatkan kesempatan ini untuk mengeluarkan jurus pamungkasnya. Apa itu?


Hugb ...


Akhh ...


Hugb ....


Akhh ...


Bram, setiap detiknya harus menghindari serangan yang datang padanya dalam satu waktu.


Biarpun dikeroyok dua orang, Bram tetap masih bisa menunjukkan senyuman terbaiknya.


"Aku akan balas atas semua yang telah kalian lakukan, pada mereka yang tak berdosa!"


Bram mulai parkour, setiap gerakan yang cepat tidak dapat terbaca oleh lawan bertandingnya.


Yaaaachhh ...


Sesudahnya Bram mengangkat sebelah kakinya tinggi-tinggi, lalu menendang wajah lawannya satu persatu. Kaki kanan yang sudah dialiri tenaga dalam itu berhasil membuat keduanya tersungkur di aspal.

__ADS_1


Tidak sampai di situ saja, Bram menduduki bidang badan si gempal yang memiliki ciri khusus di pelipis matanya, yaitu bekas luka jahitan.


"Ampun! Tolong ampuni saya," mohonnya dengan lirih.


Bram pun tertawa terbahak-bahak, sementara dirinya tengah lengah, kesempatan yang tidak akan pernah datang kedua kalinya itu, tak akan disia-siakan. Ia yang masih bisa berdiri lantas saja segera berlari dari area tersebut guna menghindari hal buruk yang tak diinginkannya.


Bram, menyeringai mendapati si pria yang tubuhnya lebih kecil itu lari terbirit-birit. Dirinya akan membiarkan orang itu pergi untuk menyebarkan berita ini pada komplotannya.


Kini hanya tersisa Bram dengan si gempal.


"Pukul dia terus, Pak! Jangan sampai lolos!" teriak remaja belia di sana penuh antusias.


Ia tampak sangat senang. Pun dengan Bram.


"Aku akan mengirim dirimu ke alam baka!" seru Bram, dengan tatapan tajam dan dingin.


BRUGHK ...


Dirinya melayangkan tinju keras terhadap pria yang pekerjaan sangat salah. Sekali tinju, isi kepala pria gempal itu sampai keluar.


Tangan Bram berlumur darah segar dari laki-laki yang sejak kemarin membuat pembuluh darahnya terus mendidih.


Bocah yang baru kali ini melihat pertarungan serius secara langsung, dalam hitungan detik saja sudah membuatnya kehilangan sebagian kesadaran. Apa lagi melihat kepala pria gemuk itu pecah hanya dengan satu kali tinju, semakin membuat kepalanya sakit.


Bram beringsut, napasnya memburu. Belum pernah dalam hidupnya melakukan pembunuhan sekeji ini. Diakui olehnya memang sering bertarung dan membunuh, tapi tidak sampai menghancurkan kepala.


Bram berbalik badan dan mendapati pria kecil berseragam sekolah itu jatuh pingsan. Mendapati hal tersebut dirinya hanya geleng-geleng kepala.


Ada seberkas senyuman menghiasi wajah tampannya. Setelah itu, barulah dia tersadar. Matanya terkesiap tak percaya.


Pada awal mula dirinya berhasil membunuh satu orang, setelahnya dia bergetar hebat. Merasa sangat ketakutan, tapi tidak dengan sekarang. Dia malah tersenyum setelah membunuh orang.


"Alasan kau tersenyum setelah membunuh karena sosok asli pada dirimu telah keluar sekarang!" seru seseorang yang posisi kemunculannya hanya berjarak beberapa meter dari Bram.


"Sosok asliku? Apa maksudnya? Bicaralah yang benar." Bram, mengerutkan keningnya.


Dilihat Bram, ia adalah sosok kakek tua pertama kali Bram mendapat sistem kurir pengantar sayuran, dengan hal tak biasa, Ia adalah kakek Ramlah utusan langit tertinggi.


Tiba saja kakek Tua itu yang melayang, terbang dan menghilang. Sehingga Bram saat itu meraih anak remaja yang pingsan dan mencari bantuan.


Tbc.

__ADS_1


__ADS_2