Pengantar Box Jutawan

Pengantar Box Jutawan
BAYANGAN BICARA


__ADS_3

Beberapa saat kemudian, Elea yang hampir syok menatap bulat ketika mangkok itu bicara. Elea yakin tadi itu bukan mangkok, melainkan halusinasinya saja apalagi ketika terbangnya Bram yang tercebur kolam ikan.


Hingga beberapa saat Elea tertidur di samping lengan Bram. Elea yang duduk di kursi kecil sedang Bram berada di sofa panjang, menatapnya dengan lemah.


"A-ayo bangun segera sadar Bram!"


Elea pun pergi mengganti air kompresan di kening nya, hingga Elea duduk disampingnya. Melihat wajahnya yang sedikit pucat, Elea tidak tega meninggalkan nya sendiri, terlebih Elea tidak tau daerah ini. Waktu sudah gelap Elea bingung ingin mencari wartel terdekat, hingga lupa jika ada telepon rumah disini.


Elea seperti wanita linglung kebingungan harus apa dan bagaimana, perasaan tak karuan. Elea pun mengantuk duduk di samping Bram. Seketika melihat keadaan kondisinya sambil kembali mengompres.


Kriiing .. kriiiing!! suara telepon rumah.


"Hallo, owh ia bibi, ini saya teman Bram, Elea."


"El, bibi cuma mau bilang malam ini ga bisa pulang, nanti ada orang yang ke rumah untuk temani kamu dan Bram ya. Jaga baik baik bibi titip rumah!"


"Baik, bibi." Elea pun menutup telepon setelah selesai. Ia pun kembali tidur menemani Bram, di samping kursi dan memejamkan mata karena lelah ia amat mengantuk sangat, padahal melihat jam dinding sudah malam, Bram yang telah tidur dengan baju ganti dibantu security saat ini tidur di sofa. Dan Elea berjaga karena kondisi Bram tadi.


Tooook!! tooook!! ucapan salam terdengar.


Tiba seorang pangeran mengusap rambut Elea, ketika ia terbangun, membuka mata Elea tersenyum dan masih melihat ia menatapku dan memberi sesuatu dengan kilat.


Tooook!! tooook!!


"Assalamualaikum Aden," Ketukan suara pintu kembali terdengar.


Aku terkejut di sofa Bram sudah tidak ada. Aaaakh ternyata tadi mimpi Elea bergegas berdiri mencari Bram dan memanggil manggil nya, kemana dia. Saat mencari di tiap sudut.


"Ya ampun Bram, kamu kenapa disini dan di sebelahnya siapa?"

__ADS_1


"Kang Heri neng, saya kang Heri disuruh bibi untuk menjaga Aden Bram dan bawa obat juga ini! dan teteh maaf jika saya mengejutkan, kedatangan saya menemani di rumah ini untuk bantu den Bram pindah ke kamar nya teh."


"Iy kang baiklah terimakasih,"


Elea pun sadar dan ternyata tadi mimpi. Bram sudah sadar dan ia yang membukakan pintu.


Bram pun tersenyum dengan masih lemas, menuju pindah ke kamar dipapah kang Heri pembantu rumah ini. Hingga Elea melamun di depan pintu ketika mereka berlalu.


"El."


"Ya Bram, kamu sudah selesai?"


"Sudah El, ada apa ko melamun?" tanya Bram.


"Namun Elea membalas mau mencari makanan apa kamu mau?! aku belikan juga tapi Bram kalau aku beli sesuatu disini jauh ga warungnya."


"Maaf ya Elea aku merepotkan, sedikit lumayan jika berjalan dan kamu hati hati ya!"


"Tapi Aku ga bisa biarkan kamu ke warung sendiri Elea, biar aku bantu temani." tapi saat itu Bram terjatuh lemas.


"Bram ga usah kamu istirahat saja, aku janji hanya sebentar ke warung."


"Baiklah Elea, hati hati ya jangan buat aku khawatir." balas Bram. Lalu kang Heri ikut menghampiri.


"Mau kemana neng?"


"Cari makanan kang Heri." balas Elea.


"Aduuh neng dah malam biar kang Heri aja."

__ADS_1


"Ga usah Kang, biar saja aku aja, ga baik saya menyuruh yang lebih tua, saya cuma sebentar kok. Kalau Bram meminta ke kamar kecil ga logis kan klo saya yang temanin?" papar Elea.


Elea melirik ke tatapan Bram, karena ia sedikit grogi jika berdua dirumah besar ini, takut hansip tiba saja lewat gimana? batin Elea mengoceh.


"Owooh ia Ya, takut ada Ghost lewat ya neng?!" sahut kang Heri.


"Hehehe .. bisa aja kang Heri." Meringis keret alis Elea naikan. Sambil Elea senyum kebingungan, karena dasarnya Elea tidak percaya hantu.


"Baiklah Neng hati hati dijalan!"


Dan ketika langkah Elea berada dua kilometer, entah kenapa Elea merasa ada yang mengikuti. Saat Elea menelisik kupingnya, ia menoleh tidak seorang pun. Satu kali ia melangkah dengan cepat, semakin cepat juga bayangan membuat Elea duduk terjatuh.


"Aaarrrgh! Siapa kamu?" teriak Elea histeris, kala jalanan pun amat sepi saat itu. Hanya terlihat bayangan semakin membesar saja.


Sebuah mangkok kuning yang pernah Elea lihat dari tas Bram itu, berubah menjadi bayangan manusia, membuat Elea terkejut akan tatapan satu pria dan wanita.


"Elea, kembalilah! sudah banyak terjangan keluargamu menunggu!"


"Heeh, siapa kamu?"


'Aku Oliver Kristalion, ingatlah sesuatu! bantu Bram mencari sebuah bola emas, letakkan di mangkok dan sendok emas. Maka semuanya akan terjawab!'


Wuuush ...


Hal itu membuat Elea merinding, benar benar membuat Elea bergidik ngeri. Apakah di zaman ini masih ada hantu. Segera mungkin Elea berlari dengan wajah ketakutan.


'Ini pasti halusinasi lagi, benar halusinasi mana mungkin mangkok itu bisa bicara, dan dia bilang cari bola emas. Apa maksudnya sih?' gerutu Elea menepuk kepalanya, sesaat sampai depan rumah.


"El, sedang apa?" seseorang membuat Elea tambah kaget.

__ADS_1


TBC.


__ADS_2