
Setelah Perjalanan tiba, pasangan itu berpisah dengan para suami.
"Mikha, sayang sahabat ku kita harus berpisah, kabari aku ya jika sudah sampai kita sambung lagi!"
"Iya Siren, makasih ya dan semoga nanti saat ke dokter hasilnya mengejutkan. Aaaa aku akan punya ponakan." tersenyum Mikha kegirangan.
"Hei, Mikha! Siren dan Damar yang akan mempunyai buat hati, mengapa kamu yang senang?" sahut Hari, menoel kepala Mikha.
"Apa sih, emang ga boleh, Ingin buat keponakan juga cari sana wanita nya, jangan mengacau mood ku nyamber aja kaya petir." gerutu Mikha yang masih sebal pada suaminya, namun Hari, menggigit kesal perkataan Mikha dengan mencari wanita untuk membuatnya.
"Kau pikir aku laki laki apa dengan mudah menanam saham begitu saja, mencari wanita,
Dasar wanita tak punya hati?" debat Hari.
Hingga berpisah, Mikha di tarik Hari untuk masuk ke dalam mobil berbeda.
"Ah apa ini, macet sudah kadaluarsa ya, susah sekali?" Mikha bergumam kecil.
Hari pun menghampiri, dan menarik safety belt dengan kilat, melewati wajah Mikha dengan cepat. Ketika safety belt itu ditarik, dan melewati tubuh seksi Mikha dan memakaikannya.
Slruuuup!!
"Kamu saja yang tidak sabar dan salah." Hari, membenarkan ikatan pengaman mobil.
Tak sadar Mikha menatap Hari, begitupun sebaliknya. Hari menatap Mikha, mereka saling menatap berpandangan.
Mereka berbicara lewat hati masih terdiam saling memandang, bibir itu dekat wajah itu hanya sejengkal menatap memandang.
Tin ...
Suara klakson dari belakang, sehingga lamunan mereka langsung buyar. Hari segera membenarkan posisinya dan melaju menjalankan mobilnya, tanpa melihat Mikha yang masih menatap tanpa berkedip.
Sedang Mikha dengan terkejutnya, ia langsung menoleh ke kaca membalikan wajahnya, dengan perasaan berdebar debar.
"Sehabis ini apa ada kegiatan lain kamu Mikha, biar aku antar sebab mas harus ke bukit corp gold miror."
"Aku belum tau Mas, karena .."
Dredth.
Dering ponsel Mikha berbunyi, ia pun mengangkatnya dan sepuluh menit menerima panggilan di ponsel, Mikha meminta berhenti.
"Mas, aku turun disana aja kamu ga perlu antar aku pulang sampai rumah ya, aku ada urusan!"
__ADS_1
Hari terdiam dan mengikuti, setelah berada sampai tujuan, tiba dihalte gedung pt lauri tambun. Hari pun memberhentikan dan tak lama di depan sudah menunggu seseorang laki laki.
"Kamu yakin turun disini Mikha?" tanya suami berumur nya itu.
"Iya Mas, makasih ya lihat teman baik ku sudah menunggu, itu didepan mobil sport merah."
"Siapa dia ...?"
"Mikha pun tersenyum dia teman ku, sepertinya aku tidak janji hari ini akan istirahat, dia Ikhsan teman baik ku juga sahabat aku dan Siren waktu kecil, sepertinya aku akan ikut dia Mas."
"Soal apa?"
"Aku dan dia ikut casting bareng dan doakan ya, kami bisa satu projek lawan bermain."
Astaga istri labilnya ini, masih saja ingin jadi model terkenal.
Hari pun menghampiri dengan gentle. Ia bahkan mengantar Mikha keluar dari mobilnya.
"Hati hati, kabarkan mas nanti ya!"
Mikha hanya tersenyum dan pamit, ia pun langsung bergegas masuk ke mobil merah itu bersama temannya. Hari Hartanto pun kembali masuk ke mobil, ia diam termenung lama dan mengepal stir mobil. Tak lupa mencoba men chat Damar siapa ikhsan, untuk ditanyakan pada Siren.
Jujur Hari cemburu tapi gengsi, meski begitu Hari melaju ke tempat lain.
Ketika sampai di rumah sakit.
Siren dan Damar tak bisa mendaftar, karena dokter kandungan yang dituju Dady Bram, sudah tak bertugas, ia pun kembali untuk pulang ke rumah dan membuat jadwal esok.
Sampai di lorong rumah sakit, Damar menerima panggilan telepon dan menjauh dari Siren.
"Sayang, aku kesana dulu. Ada telepon penting."
"Iya hubby. Aku ke apotek duluan ya." di anggukan Damar
Siren pun menunggu dan ke apotek membelikan berbagai tespek tanpa sepengetahuan suaminya. Tak lama seorang wanita datang menghampiri Siren di ujung sudut, tepatnya loket apoteker.
"Hai Siren, selamat atas pertunjukan di paris mu sepertinya kamu seperti bintang super terkenal. Mmm ... Tapi sayang ... ?" ucap Sena.
"Maksud kamu apa Sena, kamu ingin bicara apa, intinya saja!"
"Siren, sepertinya wanita yang cantik anggun cerdas dalam karier ini, akan bodoh dan selalu bodoh dalam soal cinta. Aku beritahu ya! pulanglah dan cari kemeja putih bergaris biru muda, kamu akan melihat sesuatu disana, dan pastikan tanda itu adalah bekas diriku. Sesaat sebelum Damar terbang menyusul mu, ia sudah bermalam denganku,
aku pastikan resepsi kalian tidak akan indah." bisik Sena membuat Siren kepikiran.
__ADS_1
Sena menatap dengan jahat, pergi meninggalkan Siren, yang diam dan mulai mengembang dan gemetar mendengar perkataan itu, perutnya sedikit sakit dan lemas. Ia duduk dengan gemetar bibir sulit berucap.
Lima belas menit kemudian, Damar kembali memeluk Siren dengan wajah yang seperti habis menangis, Damar menanyakan ada apa tapi hanya diam.
"Sayang kamu kenapa?"
"Hubby, aku hanya sedikit sakit perutku, tiba saja lemas aku ingin sampai dirumah!" ucapan Siren, membuat Damar pun mengiyakan .
Di mobil Siren penuh tanya dan diam bersandar, sampai lupa chat dari paman Hari, yang menanyakan sesuatu padanya .
Sampai di apartemen Siren, melaju cepat ke kamar mencari pakaian kotor kemeja Damar,
Sedang Damar merapihkan barang barang koper bawaannya.
Ketika sampai dikamar Damar berusaha memeluk Siren, dan hanya penolakan dari istrinya.
"Sayang kamu kenapa?" Damar membalikan badan istrinya penuh air mata.
"Hubby, jelaskan padaku lipstik dan wangi parfum siapa di kemeja mu ini?"
Damar menatap penuh kaget, dan tak menyadarkan jika ada noda lipstik.
"Sayang aku bisa jelaskan, ini pasti semua salah paham, duduklah dulu sayang!!"
Siren melemas jawab dengan kejujuran mu hubby. Aku akan mencoba ikhlas aku rasa resepsi kita tak perlu digelar jika penjelasan mu tidak baik.
Damar tertegun dari mana ia harus mulai pembicaraan, selama puluhan menit Damar menjelaskan meski kata akhir dia tak melakukan apapun.
"Sayang percayalah padaku, jangan seperti ini!" pinta Damar.
"Hubby, jika aku bersama tuan Daru ada di posisimu. Lalu aku mengelak apa kamu akan percaya padaku dan tenang?"
Damar pun terdiam, betapa sulit sakit jika istrinya ada diposisinya.
"Sayang aku akan mencari bukti, jika aku tak melakukan apapun percayalah aku tidak mungkin berkhianat!"
"Aku akan tidur dikamar kedua hubby, maafkan aku butuh waktu!"
Siren pun menangis, semalam hingga lelah ia pun memejamkan matanya.
Di satu sisi kamar lain, Damar hanya terdiam kebingungan dari mana lipstik, dan bagaimana istrinya tahu tentang kemeja yang ia juga tidak tahu.
TBC.
__ADS_1