Pengantar Box Jutawan

Pengantar Box Jutawan
S2 GAUN BERNODA


__ADS_3

BEBERAPA HARI KEMUDIAN


Siren menghampiri meja privasi Damar, dengan klien. Karena itu Siren mencoba menghampiri saat di ruangan lain, mereka mencoba fitting gaun bersama Mikha.


"Apa terjadi sesuatu Siren?"


"Entahlah, Mikha aku baru saja ingin melihatnya, aku rasa terjadi sesuatu pada klien." balas Siren, memakai gaun ingin melihat ruang sebelah.


Tap. Tap, berjalan.


"Sekali lagi, saya minta maaf kak Damar." semua mata menatap Hena.


"Maksud saya tuan bos Damar .. maaf saya tidak sengaja menumpahkan teh panas ini."


"Biar saya bersihkan."


Tangan Hena, mengambil tissue dimeja, dan ingin menyentuh bagian tubuh tepatnya diperbatasan paha Damar, ketika meeting.


"Maaf tidak perlu, biar saya bersihkan sendiri."


ucap Damar menolak dan berdiri.


"Tapi saya merasa bersalah, biarkan saya.."


Hena pun menengok ke arah belakang.


ketika, tatapan semua klien ke arahnya.


Eheum ..deheuman suara Mikha, terdengar dibalik itu ada Siren.


Damar pun menatap kearah belakang, melihat istrinya apa ia melihat kejadian teh panas yang tumpah.


"Hei, kamu .. sudah bereskan ke pantry!" ucap Mikha pada Hena.


Baik, kak maaf. "Saya permisi. Mohon maaf atas kekacauan ini." Hena, memohon pada semua diruang privasi.


"Ternyata kamu hubby, kok bisa tumpah mengenai ...?" namun mata Siren membulat ketika semua klien, teman Damar tertawa kecil, atas kejadian itu.


"Kalian kenapa tertawa, asik sekali ya menyaksikan sebuah pertunjukan."


"Sudah hubby, tidak perlu marah. Di mobil ada kotak p3k. Sedikit kompres batu es pasti hilang merahnya, aku tak tega jika sampai membekas. Ayo ke mobil sebentar ya!"


"Baiklah Sayang, kalian tunggu sebentar. "


"Oh ya sayang, kenalkan ini temanku. Zei kamu pasti tahu, ini Bian, Nando dan Kean, kalau dibelakangmu sudah pasti tau kan.


dua temanku yang paling menyebalkan.


"Hah..." Dani dan Deni terkejut.


"Wah ... Damar pelit sekali tak mengenalkan pada seseorang disana?" ucap Zei.

__ADS_1


Siren menatap belakang, karena itu adalah Mikha, "Memang kalian belum mengenal?"


"Bukan nyonya Damar, maksud saya yang berbaju biru itu?"


"Oh, ini sahabat ku Mikha, Zei."


"Mikha, kamu disini dulu sebentar ya, aku ke mobil sebentar dengan Damar."


"Auw ... pelan pelan sayang." Damar saat di obati.


Sebentar lagi hubby, ini sudah kering. Aku bawa setelan ganti, kamu mau ganti di toilet .


Tidak usah sayang, hanya ada kamu disini. Lagi pula kaca mobil ini dari luar tak akan terlihat.


Tak lama Damar dan Siren kembali kedalam butik, Damar menjelaskan jika system telah pulih di eropa, maka dari itu teman Damar yang turut membantu bertemu di butik Dady dan berkumpul.


"Sayang, kamu tak apa. Tadi Hena itu..."


Tidak apa hubby, mungkin tidak sengaja. Tapi kenapa bisa sampai jatuh. Memang kamu sedang tebar pesona.


"Sayang, apa kamu tak marah cemburu gitu? suami mu ini tampan lho."


"Hubby, aku percaya padamu. Bukan berarti aku tidak cemburu, tapi aku tidak bisa marah pada orang lain. Aku berusaha positif thinking, apalagi ada janin di dalam perut ku.


Kalau aku cemburu. Suasana hatiku buruk, kasian dia ikut juga. Saat kamu merajuk apa aku tidak stres. Aku berusaha tenang tak memikirkan, bukan berarti aku tak bisa cemburu kan."


"Sayang, maafkan aku ya. Aku merasa bersalah padamu, maafkan aku yang egois kemarin lalu."


"Sudahlah sayang, klien dan temanmu sudah menunggu."


"Lalu siapa karyawan baru itu Siren?"


"Yang mana Mikha?" melihat arah tunjukan Mikha pada seseorang.


"Oh, itu karyawan magang namanya Hena, dia adik kelas Damar juga, tapi hanya Hena yang mengingat, Damar No."


"Apa serius Siren, jangan bilang Damar pura pura ga ingat, mereka ada sesuatu dulu. Wanita itu bilang kak Damar lho Siren, apa kamu enggak takut?"


"Mik, udah ah jangan berpikir jauh. Aku lelah mikirin pelakor. Kamu kan tahu, dari Sena, Arini, dan beberapa wanita sebelum aku. Mungkin Damar playboy mempermainkan wanita, tapi pas berakhir di aku, mungkin terhenti dan serius. Terus typo? aku harus gimana Mikha sayang?" Siren mencubit pipi sahabatnya itu sekaligus ipar.


"Eh .. jangan gitu dong, aku hanya perlu kamu waspada Siren."


"Iya, makasih ya sahabat ku ini, perhatian banget."


"Love love buat kamu. Ayo, Mikha aku tunjukan sesuatu gaun!"


Saat gaun diperlihatkan untuk Siren dan Mikha, acara resepsi paman Kenan,


sekali lagi Hena membuat kekacauan tak sengaja.


"Ayo, Mikha kita coba ke ruang ganti!"

__ADS_1


"Baiklah, Siren siapa takut, kita pasti paling cantik sejagat." dan mereka pun tertawa.


"Damar, sepertinya istrimu membawa aura mu berbeda ya?" tanya Bian.


"Benarkah, mungkin aku adalah pria bahagia.


Aku mendapatkan istriku sangatlah tak mudah, aku bahagia dan sangat menyayanginya."


"Cie, ilah Damar, udah menikah masih aja bucin berlebih. Hanya kamu yang bucin dan cemburu. Istrinya enggak." ledek Dani.


Hena, ayo berikan cairan di gucci ini, ke wadah pewarna box merah. Yang ditutup di gudang sebelah pantry. Ini untuk bahan yang akan dibuat bos besar, taruh di botol dekat vas, hati hati jangan sampai terkena gaun atau bahan pakaian lain!! ucap asisten Bella.


"Baik kak Bella."


Sepanjang jalan Hena, membawa gucci berisi itu, dengan termenung memandang kak Damar, tepatnya tuan Damar.


"Bagaimana Mikha, perfect kan .. kita senada jangan lupa berikan pada Kara, untuk mengambilnya dan pastikan datang." ucap Siren.


"Siap nyonya Damar, masalah ini sih kecil." Mikha meledek.


"Mik ... aku terima phone dari Paman Kenan dulu ya, tunggulah disini !"


Siren pun menuju arah keluar menerima panggilan, bahkan semua mata tertuju pada Siren.


"Damar, istrimu belum di rias senada gaun saja sudah cantik, bagaimana jika jadi ratu pernikahan bridesmeid di acara paman Kenan?" ucap Dani.


"Sudahlah, kalian jangan memandang istri orang diujung sana, lebih baik kau urus percintaan mu dengan Mikha yang di tinggal menikah."


"Hei hentikan tatapan kalian itu, Damar memukul koran majalah ke meja, untuk menyadarkan temannya itu agar berhenti menatap istrinya."


"Baik, segera Siren antar, segala file untuk korea nanti. Siren akan kirim email proposal secepatnya dan percakapan berakhir."


Siren menutup panggilan, dan melirik ruangan suaminya.


Apa ada yang salah denganku, kenapa semua melihatku. Siren pun menggeleng menggelengkan kepalanya dan beranjak dari tempat itu.


Sementara Hena berjalan masih memandangi tuan Damar, ia sudah mundar mandir ketiga kali membawa vas gucci berisi, dan terkejut ketika menatap istri tuan Damar dan melirik ruangan meeting dimana semua para pria menatap nyonya Damar.


Tak sengaja Hena, terbentur meja.


Bug.


Dan cairan itu tumpah disaat Siren, tersenyum berjalan tepat disampingnya.


"Oh .. Tidak."


Byur ..


Suara percikan air pewarna terkena gaun Siren yang dikenakan dan saling menatap.


Hena terdiam dan takut, Siren terkejut akan pemandangan gaunnya yang harus dipakai besok malam terkena noda.

__ADS_1


"Ah, apa ini?" lirih Siren meremas gaunnya yang basah, membuat Damar berdiri dari sudut lain.


TBC.


__ADS_2