Pengantar Box Jutawan

Pengantar Box Jutawan
BERTENGKAR


__ADS_3

Perlahan demi perlahan, Tio seketika lenyap ketika pak Hartawan datang menemui Bram. Ia meminta maaf telah banyak menyinggung dan menyulitkan Bram. Bram pun mengeluarkan dana yang di keluarkan Ryan saat memanipulasi, diatas perjanjian palsu.


"Maafkan kedua putra saya Bram! Bapak yang salah, usaha resto sudah bangkrut. Mungkin karena inilah mereka membuat masalah lagi, ia tidak terima saat bapak berkata kedua putra bapak tidak berguna."


"Pak! saya menghormati anda, pergilah ke Laos dan hidup dengan damai, berkebun dan jangan khawatir! saya tidak menyakiti Tio dan Ryan, ada orang saya yang akan menjaga bapak selama di Laos." senyum Bram, kala permasalahan selesai.


Setelah dirasa permasalahan selesai, Bram pulang ke rumah. Hal yang ia dapati adalah seorang wanita yang tak asing datang, dan kala menoleh wanita itu senyum seolah memohon.


"B-bram, aku Lena. Maaf aku lancang datang."


"Ada apa Lena?" tanya Hari, meletakkan tasnya ke atas ranjang ruang tamu, sebelum mendekati gadis itu untuk melihat apa yang tengah dipegangnya.


Dengan linglung, Lena menatap Bram, Sedangkan Bram tersentak kaget saat mendapati apa yang ada di stick tersebut.


Merebutnya dari genggaman Lena, Bram merasa seperti seorang kakak yang kecolongan.


"Siapa yang melakukannya Lena!" sentak Bram tidak sabar.


Gadis itu membisu, dia tidak menyangka kerinduan pada kekasihnya membuat dunianya terbalik-balik dengan instan. Sekarang bagaimana dia akan menghadapi ayahnya.


"Lena katakan padaku, siapa yang melakukannya?! Apa kekasihmu itu!!" Bram mengguncang Lena yang tidak kunjung menjawab.


Baru juga dia menyelesaikan satu masalah perkara keturunan Tjandra sekarang dia mendapat masalah baru perihal kehamilan Lena.


Memang Lena bukan tanggung jawabnya, tapi kebaikan Tjandra padanya. Membuat Bram memiliki tanggung jawab perihal Lena, sebagai balas budi. Meskipun desus Tjandra ada kaitan lain, ia belum bisa berasumsi sampai bukti kuat.


Lena mengangguk pelan sebagai jawaban atas pertanyaan Bram.


Mengusap wajahnya dengan frustrasi, Bram menatap Lena dengan raut marah dan putus asa.


"Kamu tahu kan konsekuensi dari hubungan bebas yang kamu jalani?"


Lena mengangguk dengan ragu, dia sudah menyiapkan segalanya. Termasuk alat kontrasepsi, tapi kenapa dia masih kecolongan.


"Apa pak Tjandra tahu mengenai ini?"

__ADS_1


Akhirnya Bram memilih mengalah, Lena sudah dewasa. Dia bukan lagi anak kecil yang tidak tahu cara bertanggung jawab pada dirinya sendiri.


Lena menggeleng kuat, jelas dia tidak ingin membuat ayahnya mengalami serangan jantung saat mengetahui dirinya hamil di luar nikah.


"Kamu sudah memberitahu kekasihmu?" tanya Bram lagi.


Lena menggeleng pelan, dia belum mengatakan apa pun pada kekasihnya. Padahal pria itu sedang menghindar.


"Katakan padanya, jika kamu hamil," putus Bram. Bola mata Lena melebar, dia belum lulus, mana mungkin menikah dengan kekasihnya. Ditambah sepertinya kekasihnya juga belum menginginkan hubungan yang lebih serius. Tetapi kehamilan Lena tidak akan bisa disembunyikan lebih lama lagi.


Maka menuruti perintah Bram, Lena meminta untuk bertemu dengan kekasihnya. Bram mengambil jarak cukup jauh dari tempat Lena, dia ingin memberi privasi pada gadis itu.


Belum pulih keterkejutan Bram perihal Hari yang tak menerima panggilannya, dia harus dibuat kembali terkejut mendapati Hari ternyata kekasih dari Lena. Dan benarkah, Lena hamil anak Hari, jika benar maka masalah akan semakin sulit ketika dua keluarga bersatu adanya luka lama kembali tergores.


Demi Tuhan, pada akhirnya Bram benar-benar muak berurusan dengan keluarga Tjandra. Padahal ia sedang siasat mencari bukti, jika beberapa belas tahun lalu, Tjandra adalah dalang dibalik kecelakaan ibunya dan paman Armanto. Dan kini kejelasan Lena datang, meminta bantuan Bram, agar Hari bertanggungjawab. Bram tidak yakin, dari kapan Hari dekat dengan Lena, atau gadis ini juga sama punya siasat yang buruk bagi keluarga Reksa Hartanto.


"Tunggu disini, Istriku Elea akan segera pulang, ia juga bilang Hari ada di rumah ini akan bertemu papa Reksa!" ujar Bram, meminta Lena menunggu.


Dan beberapa saat kemudian, benar saja Bram melihat Hari yang pulang, dengan satu asisten di kamarnya sedang mengemas barang.


"Kau pulang kemari, diam diam hanya untuk mengambil barang atau uang?" ujar Bram, menatap adiknya.


"Lena di bawah, temuin lah. Jangan buat kekacauan seperti balap liar!" cetus Bram, membuat Hari juga ikut bingung. Maka Hari membawa tas ranselnya, dan ia mendapati Lena yang menatapnya mengejar langkahnya.


"Hari, aku sedang bersama keluargaku saat kamu meminta kita tidak lagi bertemu," mulai Lena sedikit dingin.


"Heumph! untuk apa datang lagi, bukankah aku sudah bilang kemarin, apa tidak jelas?" ujar Hari.


"A-aku hamil, By," tutur Lena menunduk tidak berani menatap Hari..


"Apa? Hamil? Kamu yakin itu anakku? Selama ini aku menggunakan pengaman saat melakukannya, kamu juga bilang minum pil kontrasepsi bukan," desis Hari tidak percaya.


"K-kemarin lalu, maksudku terakhir lalu aku lupa minum pil," jujur Lena.


"Apa ini jebakan, kamu sengaja menjebakku karena kamu tahu aku adalah seorang Hari Hartanto?" tuduh Hari, menganggap Lena sama seperti wanita lainnya yang sengaja mengaku-ngaku hamil.

__ADS_1


"Hartanto, garis keturunan keluarga disegani dan kaya?" Lena justru merasa bingung, seberapa besar pengaruh Hartanto sampai Hari, membawa-bawa nama belakangnya dalam masalah mereka.


Lena justru semakin bingung, dia tidak mengerti apa yang dikatakan oleh Hari. Ia datang berusaha agar Hari tidak menjauh dan bertanggung jawab padanya.


Bram yang mendengarnya berusaha menahan diri, untuk tidak menghantamkan tinjunya, pada mulut lancang pria tersebut.


"Jangan pura-pura polos Lena, kamu pikir aku tidak tahu jika kamu sering bersama laki-laki lain saat tidak bersamaku. Siapa tahu kamu hamil dengannya, bukan denganku," sindir Hari dengan santai.


Hal seperti ini adalah hal biasa bagi Hari, dia bukan bocah kemarin sore yang bisa dibohongi.


"Dengan kata lain, kamu menuduhku memberikan tubuhku pada semua orang?" lirih Lena, tidak percaya jika pria yang selama ini dia cintai memiliki pikiran sekotor itu padanya.


Bram tidak bisa menahan diri mendengar tuduhan demi tuduhan yang dilontarkan Hari, pada wanita seterhormat Lena, yang tidak ada kaitan dengan masa lalu para orangtua.


Bugh.


Satu tinjuan melesat tepat di rahang Hari, hal yang selama ini menjadi tujuan Bram. Setidaknya mampu dia lakukan satu per satu, agar adiknya itu dewasa berfikir logis.


Bugh.


Satu tinjuan lagi, melesat mengenai mulut lancang Hari. Pria itu belum mengerti dengan apa yang terjadi, bahkan dia sangat terkejut dengan kemunculan Bram di sana.


Bugh.


Tinjuan ketiga Bram tepat mengenai dagu Hari, sampai membuat pria itu sempoyongan.


Lena diam melihat Hari dihadiahi tinjuan oleh Bram, pikirannya sudah terbuka lebar. Bahkan kini terlihat Elea datang berteriak, seolah syok kedua pria kakak beradik itu yang Elea rasa tidak pantas bertengkar.


"Stop!" teriak Elea, membuat Bram dan Hari membola.


"Apa yang kalian lakukan, ini kediaman papamu Bram! tidak seharusnya kalian baru bertemu bertengkar..?" kembali Elea menjelaskan.


TBC.


Sambil Tunggu Up!

__ADS_1


Mampir Yuks, cerita temen litersi Author.



__ADS_2