
Tatapan pria besar itu, menatap sinis pada pria bernama Bram. Apalagi tatapannya begitu merendahkan, karena tampilan Bram juga memesan sebuah minuman jus yang mungkin bisa ia beli di pasar, bukan bar.
“Menyedihkan sekali pemuda itu harus berurusan dengan Robert."
“Haha, sudah jelas apa yang akan menimpa pemuda tersebut bila berani berurusan dengannya."
Beberapa pembicaraan dari para pengunjung saat itu, jelas mengenal siapa pria berbadan besar yang lebih di kenal sebagai Robert tersebut.
Di mana sudah cukup terkenal namanya di area sekitar, sebagai pembuat ulah. Serta tidak pernah gentar Robert disebutkan membuat menderita seseorang yang berani berurusan dengannya, di mana karena hal tersebut jelas tidak banyak mereka di area sekitar yang berani secara bodoh mau menyinggungnya.
“Hanya karena seorang wanita, bahkan rela memberikan nyawa."
“Ironis."
Beberapa pembicaraan lain, di mana kebanyakan mempertanyakan kebodohan Bram saat itu. Hingga harus terlibat akan sebuah masalah, yang seharusnya tidak perlu terlibat bila memilih diam saja.
Robert sendiri menatap Bram dengan tajam saat itu, setelah perkataannya tidak Bram gubris terkait genggaman yang Bram lakukan pada tangan Robert.
“Kubilang lepas, kau dengar?" Robert, seraya tangan satunya Robert kepalkan.
Tidak menunggu tanggapan Bram saat itu, Robert dengan segera melepaskan tinjunya. Tepat ke arah wajah Bram, di mana berhasil Bram hindari saat itu juga.
Tidak tinggal diam, Bram dengan segera melepaskan tendangannya saat itu tepat di perut Robert. Cukup kencang, hingga membuat Robert meringis kesakitan setelahnya.
Sekitar lima orang yang duduk semeja dengan Robert, dengan segera berdiri saat itu dari kursinya. Tidak terima melihat bagaimana Robert, atau bos mereka tertunduk lemas memegangi perutnya.
“Menunggu apa kalian?!! Hajar dia!!!" Robert, pada lima bawahannya. Di mana dengan segera dituruti saat itu perintahnya.
“Kau, menjauh terlebih dahulu." Bram pada pelayan wanita di belakangnya, tidak ingin pelayan tersebut ikut terluka akan perkelahian yang akan terjadi di sana.
Takut menghambat serta malah membebankan Bram, pelayan wanita akhirnya dengan segera menuruti apa yang Bram perintahkan! di mana pertarungan lima lawan satu terjadi saat itu.
Bughh!!!
Ayunan tongkat baseball mendarat tepat ke arah pundak Bram saat itu secara tiba-tiba, membuat Bram, dengan segera memegangi pundaknya secara reflek seraya kakinya dengan segera Bram ayunkan pada seseorang yang saat itu memukulnya.
__ADS_1
Bak!!
Tendangan Bram mendarat tepat saat itu di lengan pemegang tongkat baseball, membuat tongkat baseball yang sebelumnya pria tersebut pegang harus lepas hingga terjatuh setelahnya.
Duak!!!
Bughh!!!
Brakk!!!
Tidak memberi jeda, keempat orang yang lain dengan segera memukulkan setiap senjata yang mereka bawa pada Bram.
Membuat Bram terjatuh, jelas tidak dapat menahan setiap dari ayunan keras dari berbagai benda tumpul yang menghantam dirinya.
“Dapat darimana mereka senjata-senjata tersebut." Bram saat itu, tidak mengerti darimana munculnya berbagai senjata yang saat itu para bawahan Robert genggam.
Satu hal yang Bram tidak tau, bila karena memang sudah pekerjaan, Robert serta bawahannya yang selalu berkaitan dengan kekerasan. Membuat senjata tersebut selalu mereka bawa, sehingga menghajar Bram saat itu merupakan hal mudah bagi mereka.
“Sial, cepat berlagak lagi didepanku sialan!!!" Robert, setelah akhirnya berhasil bangkit setelah rasa sakit disekitar perutnya mulai reda.
Bughh!!!
Baru ingin Robert serta para bawahannya lanjutkan menghabisi Bram, seorang pria dengan pelayan wanita keluar dari ruangan. Di mana pria yang saat itu pelayan wanita bawa merupakan manajer yang bertanggung jawab akan bar tersebut.
Di mana pelayan wanita, tidak memiliki pilihan lain saat itu selain memberitahukan manajernya, terkait apa yang saat itu sedang terjadi.
Tidak memikirkan lagi soal dimarahi atau mendapat potongan gaji pelayan wanita tersebut, berpikir apa yang saat itu terjadi pada pemuda yang menyelamatkannya lebih penting daripada hal sepele itu.
“Saudara Robert, apa yang terjadi hingga dirimu tampak menjadi begitu kesal saat ini." Manajer bar Lightdark saat itu, di mana tentu mengenali Robert yang memang amat sering datang ke bar nya untuk minum-minum.
“Saudara Brio, tidak kusangka apa yang terjadi saat ini malah mengganggumu. Maafkan aku!" Robert, pada manajer bar Lightdark bernama Brio tersebut.
Memang meski hanya manajer bar, tidak ada saat itu dari para pengunjung yang berani menyinggung Brio. Termasuk Robert, sehingga mau tidak mau Robert hentikan saat itu apa yang tengah dirinya lakukan pada Bram.
“Saudara Robert, tentu kau tau bukan bila kekerasan amat di larang di bar ini?" Brio, mempertanyakan saat itu apa yang tengah dilakukan Robert sehingga mengacau di bar yang dirinya urus.
__ADS_1
“Tentu aku tau saudara Brio, tetapi apa yang terjadi saat ini benar-benar bukan mau kami...." Robert, sebelum menjelaskan secara garis besar hingga semua itu dapat terjadi.
Brio sendiri hanya dapat menghela nafas sebelum menoleh ke arah pelayan wanita, mempertanyakan saat itu apakah yang saat itu diungkapkan Robert padanya merupakan hal benar.
“Itu benar manajer, tetapi saat itu aku sedang melayani pelanggan lain sehingga meminta tuan Robert untuk terlebih dahulu menunggu atau meminta pelayan lain untuk memenuhi pesanannya." Jelas pelayan wanita.
Brio sendiri dengan segera murka mendengar hal tersebut, merasa apa yang saat itu pelayannya lakukan tidak becus.
“Apa kau tau berapa banyak yang saudara Robert habiskan setiap kali dirinya datang kesini? Jutaan, kau tau apa artinya? Itu artinya dirinya merupakan pelanggan penting bagi bar ini!!! Bila dirinya meminta dirimu yang layani maka layani, pelanggan sepertinya abaikan dahulu saja bahkan bila perlu usir dirinya keluar!!!" Brio, menunjuk Bram saat itu.
Membuat Bram dengan segera berdiri mencoba bangkit mempertanyakan maksud perkataan Brio.
“Pelanggan rendahan bahkan berani membuat kekacauan di bar ku ini." Lanjut Brio, menunjuk arah mata Bram.
Bram setelah susah payah mencoba kembali berdiri, dengan segera menghadap Brio saat itu. Jelas tidak terima akan ucapan yang Brio lontarkan, di mana ketegangan segera terjadi setelahnya.
“Tarik ucapanmu, bukan aku yang memulai semua ini tetapi dirinya. Jika kau tidak ingin menyesali." Bram, menujuk Brio sang manager Bar! saat itu.
“Menarik ucapanku? Kau pikir dirimu siapa hingga berani meminta hal tidak tahu diri seperti itu." Brio, mendorong mundur Bram yang saat itu mencoba mendekat padanya.
“Penjaga!!! Usir pengacau ini keluar!!!" Seru Brio, di mana dengan segera Robert mengangguk puas akan tindakan yang saat itu Brio ambil.
Bram sendiri hanya mengerutkan keningnya saat itu, tidak menyangka akan tindakan yang berani Brio ambil.
Karena bila itu merupakan manajer yang lama, tentu tidak mungkin manajer bar Lightdark itu berani memperlakukan Bram seperti saat ini.
“Manajer yang lama, aku ingin bertemu dengannya." Bram, pada Brio. Amat tidak puas dengan bagaimana Brio mengambil tindakan.
“Manajer yang lama? Dirinya sudah naik jabatan beberapa bulan lalu, juga jelas orang sepertimu tidak pantas untuk bertemu dengannya. Jadi berhenti mengucapkan hal tidak jelas dan segera pergi dari sini!!!" Brio, merasa Bram hanya sedang meracau saat itu hingga meminta bertemu seseorang yang telah menjadi atasannya di sana.
Salah satu orang dari Robert memberi foto dan berbisik. 'Bos, dia adalah putra yang di cari nyonya. Celaka kita telah menganiayanya.' bisik membuat mata Robert tak yakin.
Sementara Bram, mendapat perlakuan tidak etis. Dan pelayan wanita bar itu pun dipecat karenanya, membuat Bram merasa bersalah, bahkan saat itu ia juga tidak tega seorang wanita diperlakukan kekerasan.
"Cepat hubungi saja! Kalau perlu kau video call sekarang!" teriak Bram, yang meringis kesakitan. Akan tetapi masih mengancam kerah Brio, sang manager.
__ADS_1
Tbc.