
"Anda adalah pak Bramanto? Kenalkan, saya adalah pak Ganda, manajemen di sekolah ini. Saya sudah melihat data bapak? Yang mendaftar menjadi guru tiga bahasa." ucapnya.
"Bram Hartanto lebih tepatnya. Kalau boleh tau, kapan saya mendaftar ya pak?" kebingungan Bram.
"Loh beberapa menit lalu, kemarin juga bapak kemari. Ya sudah, saya tunggu di ruangan saya ya! Arah utara, pintu sebelah kanan pintu ke tiga. Ruangan manajemen." ucap pak Ganda meninggalkan Bram.
Bram, masih diam begitu saja. Jujur saja, ia kebingungan kapan ia mendaftar. Tapi mengingat utusan langit. Bram yakin, dialah yang menjelma dirinya dan mendaftar menjadi Bram.
Dan saat Bram terdiam, siswa kembali datang menatapnya! Memang saat ini Bram sedang memusingkan tiga bahasa, jika bahasa jepang ia benar tidak mempunyai keahlian sama sekali, berkunjung ke negaranya saja Bram menggunakan orang translete ke bahasanya.
"Kau lihat, ada orang aneh di sana! Siapa dia? Apa jangan-jangan dia itu orang tidak waras?" bisik remaja cantik itu pada temannya yang terdengar seperti mengejek.
"Hus, jangan ngomong kayak gitu. Nanti kalau dia denger dan merasa tersinggung bagaimana? Terus kalau dia ngamuk dan memulai kita bagaimana?'" balas temannya itu menegur, sambil bergidik ngeri dengan ucapannya sendiri.
Keduanya yang saling berbicara pun dapat didengar jelas oleh Bram. Dirinya bukanlah orang tuli, sepasang telinganya masih berfungsi sebagaimana mestinya, apa lagi kedua murid berseragam putih biru itu berdiri tidak jauh dari posisi duduknya.
"Hei, kalian!" bentak Bram sambil mengubah posisi yang semula berjongkok, kini berdiri tegak. Menampakkan postur tubuhnya yang gagah layaknya pria dewasa normal. Rupa wajahnya pun begitu cerah secerah mentari.
"Aduh! Kayaknya dia marah tuh. Kamu si, asal ngomong tadi. Bilang kalau dia kayak orang gila," bisik temannya menyalahkan remaja cantik yang menyebut Bram orang aneh tadi.
Ia yang merasa bersalah pun buru-buru menghampiri Bram, memasang wajah memelas tanda penyesalan, "Maafkan saya, Pak. Saya tidak bermaksud menyinggung perasaan Bapak. Sekali lagi saya minta maaf. Tolong jangan sakiti saya, tapi kalau Bapak mau marah, maka marahi teman saya saja," selorohnya sambil menarik-narik lengan baju Bram.
Hal tersebut ia lakukan semata-mata agar pria yang disebutnya dengan orang aneh itu, mau memaafkan kesalahannya dan melupakan segala kata-kata barusan.
Sementara itu, rekan satu kelasnya itu membulatkan matanya, merasa tidak percaya dengan apa yang baru saja keluar dari teman satu bangkunya itu.
__ADS_1
Remaja cantik tersebut membuat tubuh Bram bergoyang-goyang. Dirinya yang pasrah karena pikiran yang sedang acak kadut itu, akhirnya tersadar juga dari kepasrahannya.
"Lepaskan tanganku!" bentaknya agak kasar, seraya menarik tangannya agar tidak lagi disentuh.
"Kalian ..." telunjuknya sudah mengangkat dan siap untuk mengeluarkan kata-kata kasarnya. Kedua remaja cantik jelita itu hanya bisa tertunduk malu, memasrahkan dirinya pada pria yang baru ditemui keduanya itu.
"Pak, Bram!" teriak seseorang yang arahnya datang dari belakang kedua remaja cantik tersebut.
Bram mengerutkan keningnya, merasa namanya telah disebut oleh orang yang bahkan wajahnya sangat asing baginya. "Pak Bram?" batinnya sambil menunjuk dirinya sendiri.
"Aduh, ternyata Anda di sini, Pak." Pria berkepala plontos itu langsung menjabat tangan Bram dan tanpa aba-aba segera memeluknya seolah-olah ia begitu mengenal Bram.
"Ini aku, Olive. Jangan coba-coba untuk melawan," bisik si kepala plontos serius yang seketika membuat bulu kuduk Bram berdiri sebagian.
Kini Bram benar-benar tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya. Bahkan matanya sampai melotot sempurna, seakan-akan ingin melompat keluar.
Benar benar utusan langit yang aneh! Saat ini ia menjelma identitas ganda. Jadi pikiran Bram saat dia menjadi dirinya pun benar. Benar benar Misi System tertinggi yang luar biasa, hati Bram benar benar tidak tenang. Jadi meski kelak ia ada waktu senggang, untuk menemui papa dan kekasihnya pun. Si Olive itu pasti akan menyamar menjadi siapapun yang tidak diketahui Bram.
'Oh, astaga. Serumit ini menjadi orang kaya. Jutawan hebat yang kekayaannya unlimited. Harus menjalankan misi orang orang yang bermuka dua, mempunyai kekayaan dengan memeras pihak jelata yang sedang berjuang. Keadilan di dunia Bram, benar benar nyata mau tidak mau, Bram harus memberantas para mafia palsu, dan mendirikan mafia baik yang tidak mementingkan urusan kesenangan dan perutnya saja.'
Kedua remaja itu buru-buru meminta maaf pada pria berkepala plontos tersebut, "Maafkan kami, Pak. Tolong jangan hukum kami," ucap si cantik yang sempat menyinggung Bram itu.
"Benar, Pak. Tolong jangan hukum kami," mohon rekannya itu ikut menimpali.
Olive, yang menyamar sebagai kepala sekolah di sana pun, segera memberikan perintahnya.
__ADS_1
"Kali ini Bapak akan memaafkan kalian, tapi Bapak tidak ingin kesalahan yang sama terulang lagi. Paham?"
Kedua remaja cantik itu buru-buru mengangguk bersama-sama, "Baik, Pak. Terima kasih, Pak," ucap secara serentak.
Setelah mendapat maaf, keduanya tidak membuang waktu untuk berlama-lama di sana, segera kedua remaja cantik yang kira-kira usianya sekitaran 16-17 tahun itu pergi dari area tersebut. Sekarang hanya tinggal Bram dengan Olive yang menyamar sebagai kepala sekolah di sana.
Olive, berbalik badan, menjatuhkan pandangan tajam pada Bram sambil berkacak pinggang, "Kamu ..."
Dan kata-katanya harus terputus, karena Bram langsung menyambar tanpa kenal tempat.
"Dari pada Tuan marah padaku, sebaiknya Tuan segera mengantarkan saya ke kelas, bagaimana? Bukankah Tuan adalah kepala sekolahnya? Dan beri saya clue lagi, siapa orang bermasalah di sekolah ini." senyum Bram.
Olive, yang sudah mengangkat jari telunjuknya, dan siap mengeluarkan unek-uneknya, yang sempat tertahan sementara, karena harus bersikap layaknya manusia biasa di depan dua remaja cantik tadi, sayangnya tidak terjadi terucap.
Sejak awal dirinya memang sudah kesal, kini semakin kesal karena ulah Bram, yang kerap kali memotong perkataannya seenak jidatnya saja.
Olive menarik napasnya dalam-dalam, lalu membuangnya perlahan-lahan. "Ok. Aku akan mengantarmu ke kelas," tuturnya serius.
Bram, telah membuka mulutnya dan siap mengatakan sesuatu, tapi sebelum ucapannya terlaksanakan, Olive sudah lebih dulu menjentikkan ibu jarinya dan telunjuk. Alhasil, keduanya telah berpindah tempat dalam sekejap mata.
Olive pun menyeringai, memasang senyuman penuh kemenangan, sementara Bram tengah menahan kekesalan karena lagi dan lagi, Olive membuatnya berpindah tempat seenak jidatnya saja. Terhitung sudah tiga kali untuk hari ini dirinya berpindah tempat dengan cara yang tidak wajar.
Tadi Bram, ingin mengatakan kalau sebaiknya berjalan kaki saja, tidak perlu pakai kekuatan apa-apa karena takut ada yang melihatnya nanti, tapi belum sempat tersampaikan, Olive sudah lebih dulu menjentikkan jarinya.
"Jadi ini ruanganku?" tanya Bram.
__ADS_1
Tbc.