Pengantar Box Jutawan

Pengantar Box Jutawan
SIAPA BRAM HARTANTO


__ADS_3

Sekitar empat orang penjaga dengan badan mereka yang begitu besar, datang saat itu setelah Brio memanggil mereka.


“Ada apa manajer Brio?" Salah satu dari empat penjaga tersebut.


“Kau?!! Mengapa lama sekali, cepat seret pengacau ini keluar!!!" Brio pada penjaga yang bertanya, yang dikenalnya sebagai ketua penjaga di bar Lightdark.


“Eh? Apakah tidak apa manajer?" Ketua penjaga bernama Teguh, sedikit tidak yakin apakah memang sudah benar perintah yang Brio ucapkan.


Bram sendiri menaikan alisnya saat itu, mengenali Teguh kepala penjaga di sana. Karena memang sudah sering Bram temui Teguh saat dahulu dirinya masih begitu sering mengunjungi bar tersebut.


“Kau mempertanyakan pendapatku? Cepat lakukan saja bila kau masih mau bekerja di sini!!!" Brio, jelas tidak senang akan Teguh yang mempertanyakan perintahnya.


Teguh sendiri dengan segera menoleh ke arah Bram, jelas ada rasa ragu saat itu bagi Teguh melakukan perintah dari Brio.


“Tuan, apakah tidak masalah untukmu terkait hal ini?" Teguh, seperti tidak ingin sama sekali menyinggung Bram. Seolah mengetahui sesuatu tentang Bram yang tidak Brio ataupun kebanyakan orang di sana ketahui.


“Bang Teguh, apakah memang sudah setumpul itu dirimu? Hingga bahkan tidak berani mengusir satu sampah kecil seperti dirinya?" Robert, pada Teguh yang jelas terlihat ragu.


“Tutup mulutmu bocah, jangan sampai ku hajar mulutmu karena tidak sopan seperti itu." Teguh, pada Robert di mana tidak ada ketakutan sama sekali saat itu, bahkan dengan bagaimana Robert di kenal.


Karena memang keduanya sudah saling mengenal jauh sebelum Teguh bekerja di bar Lightdark, di mana awalnya Robert hanyalah salah satu dari bawahan kelompok yang Teguh miliki.


“Ada apa bang? Mengapa kau marah karena sebuah fakta?" Robert saat itu pada Teguh, mempertanyakan mengapa begitu sulit Teguh untuk mengusir saja Bram, seperti apa yang manajernya minta.


“Teguh!!! Ada apa denganmu?!! Kubilang usir sampah ini maka usir!!!" Brio, pada Teguh setelahnya, menyadari apa yang saat itu Robert katakan benar.


Di mana entah mengapa Teguh seperti seseorang yang sedang amat takut, hanya karena sebuah perintah mengusir seseorang yang menurut Brio ataupun Robert sama sekali tidak pantas untuk ditakuti.


Teguh sendiri hanya menatap Bram tanpa kata saat itu, dengan tekanan sebesar itu dari Brio yang merupakan atasannya. Untuk mengusir Bram yang jelas dirinya amat kenal, serta ketahui melakukan hal tersebut merupakan sebuah tindakan ceroboh serta bodoh bila benar-benar dirinya lakukan.


“Pemilikmu, hubungi dahulu pemilikmu." Bram pada Teguh, tidak ingin saat itu Teguh lebih ditekan karena ketidakinginannya mengusir Bram.


“Ah, kalau begitu tunggu sebentar tuan." Teguh, merasa apa yang Bram katakan ada benarnya untuk dirinya lakukan.


“Teguh, mengapa kau mengikuti racauan yang di ungkapnya? Apa kau sudah gila atau apa? Apa kau memang benar-benar sudah bosan dengan pekerjaanmu?" Brio, ketika Teguh mengambil handphone dari sakunya mencoba menghubungi seseorang.


“Diam atau kucabut mulutmu!!!" Teguh, sudah muak saat itu dengan bagaimana Brio bertingkah.


Amat kesal serta tidak peduli, bahkan walau Brio atasannya. Berpikir Brio juga pastilah tidak akan berani bertindak bila ada di posisinya.

__ADS_1


“Kau!!! Kau kupecat!!! Rapikan barangmu dan pergi dari sini." Brio pada Teguh, jelas tidak terima akan perkataan yang Teguh lontarkan padanya.


“Kalian bertiga!!! usir dia dari sini." Brio pada ketiga penjaga yang tersisa, mengarahkan untuk membawa Bram juga keluar dari sana.


“Hey, bisakah kau diam?" Teguh.


“Benar, atau ku buat kau menyesal."


“Arghh, kupingku sakit mendengar bagaimana kau mengoceh."


Ketiga penjaga yang tersisa menanggapi Brio, jelas lebih memilih berada di pihak Teguh yang memang ketua mereka. Walau harus di pecat dengan melakukan itu, ketiganya tidak masalah saat itu. Tak terkecuali Robert dipihak Brio, meski ia sudah dibisikan akan tetapi Robert tak percaya.


“Kalian!!! Ada apa dengan kalian!!! Ku pecat kalian semua saat ini juga!!!" Brio pada ketiga penjaga tersebut.


“Hey, bungkam mulutnya." Teguh saat itu, mulai merasa jengkel dengan bagaimana Brio berteriak, ia masih menghubungi seseorang ketika ia tahu, siapa itu Bram.


Begitupun dengan para pengunjung yang ada di sana, mempertanyakan apa sebenarnya alasan para penjaga melakukan hal tersebut.


Tetapi tidak berani ikut campur setiap dari mereka, sehingga memilih diam saja memperhatikan semua hal tersebut.


Teguh sendiri, nampak berbicara saat itu dengan seseorang di sebrang telepon. Di mana merupakan pemilik sah bar Lightdark, dengan segera Teguh jelaskan saat itu juga terkait apa yang sedang terjadi.


Sempat curiga bila Teguh hanya berpura-pura, tetapi rasa curiga itu kian menipis berganti takut. Apalagi setelah melihat bagaimana Teguh menyerahkan handphone nya pada Bram, di mana dianggap terlalu serius saat itu yang dilakukan keduanya bila hanya berpura-pura.


'Bodoh lama sekali, gara gara ini aku harus membungkam siapa aku sebenarnya yang jujur aku tidak ingin.' batin Bram.


Juga tidak melihat keuntungan yang Teguh dapat dengan melakukan hal tersebut, membuat perasaan Brio semakin memburuk setelahnya.


“Kau, mengapa begitu lama, kau masih ingin berada di posisimu atau ku turunkan menjadi satpam?" Bram, pada seseorang di sebrang telepon.


“Apa yang terjadi? Bisa kau tanyakan langsung pada manajer kompeten bar milikmu ini. Kau pilih manager tidak becus." Bram, sebelum menyerahkan handphone milik Teguh kembali pada pemiliknya.


Di mana Teguh tepat setelahnya, dengan segera menaruh Handphone tersebut di kuping Brio.


“Kau!!! Apa yang kau lakukan hingga membuat kakakku marah seperti itu!!! Apa kau sudah bosan hidup atau apa!!!"


Teriakan yang bahkan dapat Bram yang berada cukup jauh dari telepon dengar, segera muncul dari telepon tersebut.


Di mana Brio yang juga mendengar teriakan dari seberang telepon, hanya bisa menelan ludah saat itu.

__ADS_1


Jelas mengenal siapa pemilik suara, yang tidak lain merupakan atasannya langsung dari bar tempat Brio bekerja.


Membuat Brio hanya bisa menatap Bram penuh rasa penyesalan saat itu, karena tidak perlu terlalu pintar untuk dirinya agar bisa menebak situasi yang tengah terjadi.


“Kakak? Kakak apa tuan?" Brio, setelah tangan yang membekap mulutnya lepas.


Berharap apa yang Brio dengar sebelumnya tidaklah nyata, amat berharap meski sepertinya itu tidak mungkin.


“Kakakku keparat! dia adalah pemilik sebenarnya bodoh!!! Seseorang yang coba kau usir itu kakakku, sialan!!!"


Hantaman keras seolah mendarat saat itu di kepala Brio, menyadari kesalahan yang dilakukannya. Membuat Brio dengan segera saat itu juga memberontak dari genggaman erat yang para penjaganya lakukan, meski sulit tetapi akhirnya dapat lepas saat itu.


Membuat Brio dengan segera berlutut pada Bram, berharap Bram mau berbaik hati untuk memaafkannya.


“Tuan maafkan aku, aku yang tidak punya mata hingga berani menyinggung dirimu. Mohon mengerti tuan!"


Brio pada Bram, di mana hanya senyum yang saat itu Bram keluarkan, untuk tidak menanggapinya.


"Bram Hartanto, aku pemilik kekuatan ditempat ini meminta kau keluar! Di pecat tidak hormat. Wakil manager jabatanmu, aku gantikan pada posisi pelayan wanita yang hampir kau tampar tadi dan memakinya untuk dipecat!"


"Tuan aku tidak tahu jika anda adalah .. Aku minta maaf! Menyesal karena aku mengetahui pemilik ini adalah Hari Hartanto. Saya mohon tuan, maafkan saya!"


Bram meminta Teguh, mengurus sisanya, dan memblok pelanggan bernama Robert dan ketiga anteknya untuk tidak minum dan mengacau bar ini lagi.


"Kalian cukup jelas! Siapapun yang tidak sabar, dan merusak di tempat ini blacklist!"


Bram pergi, setelah Teguh memarahi Brio dan Robert ketiga perusuh di bar ini. Seketika pelayan wanita terdiam jika ia naik jabatan, dan berusaha berlari ke hadapan Bram dengan tampilan biasa.


"Tuan terimakasih!" disertai anggukan senyuman Bram yang akan pergi.


"Jika aku kembali, tetap bos kalian adalah Hari tetaplah biasa saja jika aku duduk. Tetaplah bekerja dengan baik dan jujur tidak seperti orang dibelakang yang aku pecat!" jelas Bram, membuat pelayan wanita itu mengerti dengan semua aturan yang diberikan.


Hingga semua yang melihat terdiam bagai mayat hidup, akan semua yang terjadi hari itu.


TLING!


Misi dari pesan delivery box timun emas seharga 30.000.000 juta, masuk dari notif ponsel Bram, ia pun segera cepat pergi meninggalkan. Tanpa memperdulikan usaha keluarganya yang tak ingin ia urus saat itu.


Meski saat itu Teguh ingin menghentikan langkah Bram, tapi ia ingat pesan bosnya Hari Hartanto.

__ADS_1


Tbc.


__ADS_2