Pengantar Box Jutawan

Pengantar Box Jutawan
DALAM BAHAYA


__ADS_3

Bram, kini tengah terduduk di kursi rumah sakit setelah tadi menyelesaikan administrasi dengan seluruh uang yang ada di rekeningnya. Paling tidak, rumah sakit untuk saat ini bisa mengoperasi ayahnya meski belum lunas sepenuhnya. Lembaran brosur yang tadi diterimanya juga masih erat dalam genggaman. Dibacanya sekali lagi kertas kusut itu. Besok dia harus datang ke tempat yang tertulis disana.


“Ada ya, kerja seminggu dapet gaji gede??” gumamnya bertanya-tanya.


"Semoga bukan penipuan. Lihat aja dulu tempatnya deh.”


Bram, kemudian tanpa sadar terlelap begitu saja setelah rasa lelah menyergap ke tubuhnya. Baru kali ini, Bram menatap pekerjaan dibayar tiga kali lipat. Belum lagi melihat aplikasi deliverynya belum ada orderan sama sekali setelah terakhir ia mendapat tips 50.000.000.


Pagi telah datang, Bram melihat keadaan ayahnya. Bram, menarik nafas lega setelah melihat Ayahnya yang kini raut wajahnya sudah membaik. Hari ini ayahnya masih harus menjalani beberapa proses persiapan sebelum operasinya di lakukan minggu depan.


"Pah! Maaf soal uang 35T. Bram pasti akan menghasilkan dua kali lipat bahkan papa tidak perlu lagi mengurus pekerjaan, andai kemarin Bram tidak meminjamnya. Mungkin papa tidak perlu terbaring!"


Tak mau mengganggu waktu istirahat sang ayah, ia segera keluar dari kamar rawat dan pergi untuk mencari makan sebelum ia pergi ke tempat interview yang kemarin sudah mantap ia putuskan. Dia mencari alamat yang tertera itu di ponselnya. Ternyata lumayan jauh dari sini.


Bram, segera menaiki bus yang menuju alamat yang dituju setelah ia menyelesaikan sarapan paginya hari ini. Semangkok mie instan yang dibelinya di toko kecil dekat rumah sakit sudah cukup untuknya menyumpal lambungnya yang kelaparan, mengingat uang cash yang ada di sakunya kini hanya tinggal beberapa lembar lagi. Ia juga tak mau repot-repot untuk mampir ke rumah meski sekedar untuk mengganti bajunya yang dari semalam sudah ia pakai.


“Eh… bukannya daerah ini dekat kosnya Agil dekat sini ya?” pikirnya setelah melihat jalan-jalan yang tak asing lagi baginya. Dia dulu sering melewati jalan ini saat Agil, teman restonya kencan dengan kekasihnya, dengan mengendarai sepeda kayuh yang kini sudah dijualnya beberapa bulan yang lalu. “Setelah ini aku harus mengabarinya…” gumamnya kembali.

__ADS_1


[ Agil, bagaimana kabar ibu mu, dan dirimu ? ] pesan Bram, pada temannya itu yang pernah ia tolong membantunya sebesar 800 juta.


Beberapa saat kemudian. Bram berfikir aneh, apa selama ini ia salah. Tapi kenapa semua teman yang ia bantu menghilang tanpa jejak, bahkan sulit sekali di hubungi.


Tak lama Bram sampai, di tempat interview yang dimaksud ternyata adalah sebuah klinik yang tak terlalu besar. Hari itu tampak banyak orang memenuhi tempat itu. Entah apakah tujuan kedatangan mereka sama dengan Bram atau bukan.


“Maaf, ini yang katanya kerja seminggu dapat uang itu ya?” tanya Bram, pada salah satu orang yang tengah berdiri di kerumunan.


“Oh iya kak, ini semua juga pada antri masuk,” ucapnya sambil menunjuk satu ruangan yang dijaga oleh beberapa orang berjas putih.


“Semua yang disini juga kurang tau kalau itu. Tadi ada panitianya yang bilang setelah masuk kedalam, akan dikasih tau info lebih lanjut.”


Bram mengangguk-angguk paham. Jika sampai banyak begini yang mendaftar, pasti ini bukan penipuan kan. Bram, menarik nafas lega.


Tak lama, semua orang yang tertarik dengan tawaran ‘pekerjaan’ itu sudah dikumpulkan di satu tempat, sebuah aula yang lumayan luas, cukup untuk menampung kumpulan orang-orang ini.


“Maaf sudah menunggu lama. Terima kasih sudah menyempatkan waktu kalian untuk datang ke tempat ini. Tanpa berlama-lama, setelah ini akan di bagikan selembaran yang bisa kalian baca terlebih dahulu. Jika kalian berniat untuk mengikuti program kami, silakan isi formulir yang ada di lembar belakang.” Seorang wanita memimpin jalannya acara dengan tegas. Tak ada nada keragu-raguan dalam suaranya. semua dengan tertib mengikuti arahan-arahan wanita itu.

__ADS_1


Ruangan itu kemudian langsung ramai dengan bisikan-bisikan keras. Bagaimana tidak, selembaran itu dengan jelas menyebutkan ‘pekerjaan’ yang mereka butuhkan ternyata adalah sebagai objek uji coba untuk penelitian kesehatan. Ya memang mereka juga menyebutkan bahwa uji coba yang dilakukan tidak akan sampai mengancam nyawa dan apabila ada efek lanjutan akan diberikan biaya kompensasi yang lumayan besar juga, tapi bagaimana bisa mereka melakukannya pada manusia yang jelas-jelas masih hidup.


“Penelitian ini sudah disetujui oleh pemerintah, jadi ini bukan tindakan ilegal. Silakan jika mau mendaftar bisa diisi formulirnya dan dikumpulkan ke depan sini. Bagi yang tidak berminat bisa segera meninggalkan tempat. Untuk kalian tau, dilarang untuk menyebarkan perihal ini ke orang lain. Apabila ketahuan, kita akan membawanya ke jalur hukum. Terima kasih atas perhatian saudara saudari sekalian.”


Tanpa menunggu lama, wanita yang telah selesai mengatakan arahannya itu, ia meninggalkan ruangan digantikan oleh orang lain yang bertugas mengumpulkan formulir.


Bram yang mendengar penjelasan dengan hikmat, tanpa ragu-ragu langsung mengisi formulir yang ada ditangannya.


“Persetan, yang penting dapat uang,” pikir Bram, akan tetapi bolpennya terhenti. Ia sedikit merekam dan memberi tahu kekasihnya itu.


[ El, apa kau pernah melihat agency penelitian ini. Aku akan segera ikut mendaftar, tolong bantu aku! Apa ini ilegal? ] pesan Bram, pada Elea.


Karena Bram sedikit tertegun aneh, akan semua bahan kimia yang ia lihat saat ini, bahkan kesehatan beberapa medis itu hanya Elea lah yang tahu dan lebih paham dibandingnya.


'Setauku alat kesehatan di rumah sakit tidak seperti ini? Apa ini sebuah system uji percobaan. Manusia disini sebagai kelinci percobaan?' ragu Bram, ia segera ke arah ruangan lain diam diam.


Tbc.

__ADS_1


__ADS_2