
Ke Esokan Harinya :
"Ah, Mikha ini, benar benar jika bertemu selalu bercerita hal bodoh yang membuat beban pikiran saja."
Siren pun merapihkan kasur suaminya dan bersiap siap, untuk sarapan bersama.
Damar menatap istrinya yang sedikit berbeda, kali ini ia berhasil membuat seorang Siren terbakar cemburu.
"Hubby. Aku sudah selesai! katanya Mikha akan datang ke butik, gantikan aku. Apa kamu keberatan?"
"Tak apa sayang, lakukanlah! hari ini aku akan meeting dadakan bersama Sena, ketika nanti kamu sempat ke kantor aku akan mengenalkan asisten sekretaris paman Hari, di kantor kamu harus mengenalnya sayang."
Siren menatap suaminya, saat menyuap kentang dan steak, ia mengurungkan memakannya. Belum lagi ia letakkan garpu di piring, lalu di mainkan ke piring. Moodnya berubah mendengar semua karyawan suaminya wanita. Helaan nafas, membuat Siren aneh.
Baru saja dia bergelut sikap dengan Arini di butik. Pagi ini Sena seorang kawan lama Damar, ia menjadi sekretarisnya, terkait di rekrut oleh paman Hari.
Siren pun baru membaca sisi lama suaminya, yang terkenal di medsos luar negri amat playboy, bahkan Dady Bram tidak sesekali mempromosikan untuk bisa membuat putranya jatuh cinta, saat dulu hubungan mereka masih di tentang.
"Sayang, kamu baik baik saja kan?"
"Ya, hubby maaf aku melamun hanya memikirkan masalah kantor saja, maksudku di butik, juga kantor Dady. Minggu depan aku akan datang ke acara resmi di paris. Ada group artis LA juga berdatangan, jadi aku bingung membagi waktuku dengan butik dan kerjaan ku di paman Kenan."
"Oke baiklah sayang, sebentar lagi Dady Bram akan pulang, kamu tidak akan lelah."
Setelah sampai di butik, Damar melaju mobilnya kekantor! di iringi mobil bodyguardnya. Bahkan sebuah mobil eropa anti peluru pun membuntuti.
Sementara Siren, masuk seperti biasa. Ia langsung ke meja ruangan dengan wajah yang termenung seolah banyak pikiran.
Asisten Bella dan karyawan lainnya, menyambutnya, namun tak dibalas karena pikiran nya sedang kacau.
"Nyonya bos, apa ada masalah ... nyonya bos, nyonya bos ...?"
"Eum ... Ya ada apa?"
"Soal model Nyonya."
"Apa.. Model?"
__ADS_1
Dengan wajah kebingungan mulai mencerna, "Baiklah taru sajalah berkasnya! saya akan melihatnya, maaf saya tak mendengarkan mu Bella."
Baiklah tak terasa hari cepat sekali model model itu datang kembali ya? senyum Siren pada Bella, dan melanjutkan menatap laptop dengan serius.
Bella yang menatap dan jalan menuju ruangan kerja semestinya, ia bergeming, aneh sekali tak biasanya nyonya Siren seperti tidak fokus.
Mikha pun datang dan masuk ke butik,
mengagetkan, Siren yang sedang serius, sementara karyawan lain menyapanya dan memberi isyarat diam.
"Surprise ..." Mikha membawa bucket namun Siren tak terkejut.
"Kok ga kaget sih?"
"Aku lagi was was, Mik. Jadi jangan ganggu aku dulu." gerutu Siren.
Siren tertawa keras, dan menurunkan nada suaranya, ketika mendapat perhatiaan orang di sekelilingnya yang berisik, lalu ia mengecilkan suara nya.
"Aku ga salah dengarkan Siren, kamu merasa terbakar cemburu kali ini, sudah melihat saingan dan mantan mantan suami mu?"
Beberapa saat, Mikha membantu Siren soal butik papa mertuanya itu. Sementara Mikha, ia memang gadis yang menyukai pria tampan dan mapan, tidak mustahil bagi dirinya bisa menggaet Hari Hartanto, ya meski masa lalu mantan istrinya itu membuat ia sebal.
"Kamu mau pergi ke luar negri, sementara aku temani suamiku Hari, karena meeting di ibu kota. Kamu tahu Siren, sebenarnya aku malas jika ada di sini. Lebih baik di Los Angeles. Bebas tanpa ada duri duri mantan suamiku."
"Hahaha, kamu sendiri rupanya menikah dengan pria berumur, ketakutan kan. Apalagi aku, yang Damar mewarisi seluruh kekayaan yang unlimited."
"Harusnya sih, aku gaet papa mertuamu ya. Biar aku jadi ibu mertuamu Siren."
Plugh.
Siren menyodorkan bantal sofa, kepada wajah Mikha, sungguh teman baiknya itu membuat Siren kesal.
Hari sudah amat sore, Siren pun melaju pulang kerumahnya. Terkait Mikha juga sudah di jemput suaminya, yakni paman Hari. Tinggal Siren dan karyawan lain yang masih menunggu jadwal tutup.
"Bella, rapihkan ya besok saya, akan datang sedikit terlambat!"
"Baik nyonya bos."
__ADS_1
Bella mengetahui jika posisi istri bos muda itu wanita sibuk, belum lagi ditambah mengurus butik dan kantor. Jika ia jadi, menantu orang nomor satu pun, tidak akan sanggup, realitanya banyak harta tetap sibuk mencari uang.
Siren melaju taksi, dan mengambil mobilnya yang lama telah selesai di service. Ia pun bergegas dengan kecepatan rendah, lalu mengambil berkas penting untuk acara penting di paris.
Sementara Damar, yang mulai sibuk di kantornya, ia membuat pikiran Siren kacau.
Setengah jam berlalu, Siren melaju menyetir sendiri. Ketika itu pun ia melihat seorang wanita menyebrang. Lalu mengapa Damar ada disana, berjalan bersama dengan intim.
Siren mengambil ponsel dan merekamnya. Lampu hijau pun menyala. Ia melewati kantor suaminya itu, tak ingin menambah kacau pikiran. Iya mengirim pesan suara pada suami nya, saat itu juga.
[ Hubby sedang apa dimana? ]
[ Sayang. Aku sedang di kantor dari pagi. ]
[ Sibuk tak bisa kemana - mana maafkan ya, jika kamu sudah tiba kabarkan. Aku akan menjemputmu dirumah Dady. Aku akan sampai larut malam! ] pesan suara.
Siren merasa aneh, apakah Damar sedang berbohong. Atau ketakutannya membuat pikiran buruk tentang Damar, sehingga melihat orang lain jadi seperti suaminya.
Siren melaju ke suatu tempat, ia terhenti di sebuah panti. Ia menatap seorang paruh baya dengan bayi kecil mungil, ia akan terhenti dan membuang pikiran kacau, terlebih jika sampai ia mendapatkan suaminya berbohong.
Penuh tanya, ia pasti menghabiskan waktu dengan sibuk, agar tak jadi beban ketika ia diam tak beraktifitas.
Satu jam berlalu Siren masuk, dengan meminta bantuan, dan bingkisan kebutuhan. Pertama kalinya, Siren lewat dan bersapa pada pemilik yayasan panti itu.
Ia menuju ruangan anak kecil dan balita, lalu mendengarkan dan menatap pada bayi laki laki bermata bulat putih, yang montok berusia sembilan bulan, melihatnya membuat hati Siren yang kacau tak pasti menjadi tenang.
Siren pun menggendongnya. Ia pun menelepon ibunya, meminta bantuan kurir untuk mengirim berkasnya ke yayasan dan mengabarkan, jika tak bisa pulang pada ibu, karena rencana ia akan pulang ke mansion Dady Bram.
Hingga larut malam, Siren banyak berbicara dan pamit. Ketika sampai diparkiran ia membuka pintu mobil dan melaju kecepatan rendah.
Tiba saja di jalan, seseorang menyelip dan menghadang mobil Siren. Siren menatap di depannya, sudah ada seseorang dengan mobil jaguar mewahnya. Siren kesal dan keluar, tiba saja seorang wanita menghampiri Siren dan bertatap amat dekat.
"Bahagianya jadi istri pewaris, orang nomor satu? apa kau bahagia Siren? kau sudah merebut posisiku." ucap wanita itu sinis, mendekat ke arah Siren yang masih berdiri.
TBC.
__ADS_1