
Selepas perdebatan Arini dan Siren, yang kala itu Arini masih tak menerima, ketika perjodohan diputuskan. Membuat Arini terus mengancam, jika suaminya akan ia rebut kembali. Arini tidak suka, karena dirinya tidak menjadi bagian keluarga Hartanto, karena Siren. Damar menolak mentah mentah, karena ulah Siren, hanya Siren di pikiran Damar.
"Aku tidak tahu, padahal aku dan kamu lebih perfect dan cantik aku, aku yakin Damar pasti kena guna guna kelurga licik keturunan Tjandra, yang membuat ulah korupsi dimana mana." lirih Arini sebal.
"Kau, jaga ucapanmu!" teriak Siren, namun saat itu ada mobil polisi, dimana Arini pergi meninggalkan Siren, tak ingin di sorot.
Maka Siren putuskan, kembali melakukan perjalanan ke suatu tempat.
***
Berbeda Tempat.
Saat itu pun, Siren pulang bersama suaminya, sedang mobil yang ia bawa. Damar menyuruh asistennya menjemputnya.
"Sayang aku amat bahagia ketika kamu berkunjung, dan aku harap kamu jangan terlalu lelah. Seminggu lagi resepsi pernikahan kita digelar. Aku sudah memberitahu Paman Kenan, dan Dady memintamu untuk tidak lelah, untuk tidak membuatmu padat jadwal. Mengapa belum berhenti resign sayang?"
"Hubby maafkan aku! belum ada yang tepat menggantikannya, sepertinya aku masih suka dengan kegiatan jadwal ku, Aku tak terbiasa dengan kantor dan butik Dady, karena masih belajar. Sesekali membantu mungkin. Tapi jika terjun langsung aku tak bisa, aku harus banyak belajar dari nol, Please bantu aku!"
"Sayang taukah, Aku amat merindukanmu, aku sudah paham kamu masih menginginkan bergabung dengan pak Kenan. Baiklah hingga Tiba aku akan memberikan negosiasi agar jadwal istriku ini tidak padat! bukankah bos mu itu andil, saham milik Dady."
"Sombong sekali sih, tetap saja Dady tidak ikut andil dalam pekerjaan bukan?" gerutu Siren.
"Hubby ... kamu benar benar segalanya, semuanya pasti akan menuruti perkataan mu, bisakah suamiku ini tidak mengatur orang yang lebih tua darimu!" tambah Siren.
"Tidak sayang, jika dengan suatu masalah hal dengan istri tercantik ku, aku akan pasang badan." Damar senang melihat senyum Siren.
Damar perlakuan manis mu, Mengapa aku semakin takut dan ragu, jika semua ini palsu, Siren bersuara dalam hati, memikirkan segala masalah awal yang ia pendam begitu sakit. Menjadi istri pria bersaldo unlimited, membuat Siren benar benar ketakutan kali ini. Hingga mobil pun terhenti di apartemen
"Sayang aku harus mengambil berkas selanjutnya, kita akan ke rumah Dady! sampai waktu tak tau, maaf kita akan lelah berpindah tempat tinggal." jelas Damar, karena kegiatan usaha semuanya ia pegang.
"Hubby, kenapa Apartemen mu ini tidak disewakan? jika kamu tak ingin sendirian, Aku bersedia mencari klien untuk menyewa, bukankah dengan begitu tidak terbengkalai?"
"Benarkah sayang, biar aku rundingkan matang matang. Bagaimanapun apartemen adalah privasi kita berdua, lebih leluasa tanpa Dady tau, ataupun bodyguard Dady yang ramai." jelas Damar.
Damar membuka pintu dengan kartu gold apartemennya, dan ketika istrinya masuk bersandar menaruh tas kecilnya. Ia meregangkan kedua tangannya seperti sedang olahraga.
"Aku lelah sekali hari ini hub ..?!'
__ADS_1
Belum selesai berkata, Damar sudah melahap bibir Siren, memeluknya dari belakang. Setelan jasnya sudah terlepas cepat. Satu luapan Siren hanya bisa mematung. Hanya menerima setiap lembutan permainan suaminya itu.
"Sayang aku sudah lama merindukanmu." bisiknya pada daun telinga.
Damar pun membalikkan badan Siren, dan menjatuhkannya di kasur. Sehingga adegan panas terjadi. Ia mengikat tangan Siren dengan dasinya, melepas semua pakaian. Membuat semua yang ada pada istrinya merasakan puas, memberikan tanda merah di setiap sudut, sehingga adegan panas pun berlangsung lama.
Beberapa jam kemudian, setelah mereka mandi bersama dan bermain kembali, Siren pun merasa lapar.
"Hubby... Aku lapar ini sudah jam 10 malam,
kamu bilang mau ambil berkas?"
"Sayang aku hanya bergurau, berkas penting itu tidak lebih penting dengan dirimu, sudah lama aku menahannya hingga mengental sangat, hari ini kamu memainkannya dengan baik belajar dari mana kamu sayang?"
"Hubby ... bahas yang lain saja, sangat tidak etis kamu bicara secara gamblang! Aku lapar."
Siren bergeming tak mungkin, video dari Mikha ia jelaskan pada suaminya itu. Sebab saat di butik, ucapan Mikha yang bicara untuk bisa memberikan service terbaik, dibanding suaminya tertarik pada wanita lain. Itulah yang diajarkan Mikha, setelah merebut hati paman Hari.
'Astaga, gara gara Mikha, aku jadi cemburu buta dan ketakutan pada suamiku sendiri.' batin Siren.
"Baiklah sayang, aku akan membuat sesuatu untukmu."
"Ada apa sayang, apa kamu menginginkan lagi, setelah melihat aura ketampanan suamimu?"
Cih!
Damar mengusap rambut klimis nya, sehingga semburan air rambutnya memercik wajah Siren.
"Hubby, udah dong! aku ga lelah, lanjutinnya nanti lagi ya."
"Oke sayang jangan seperti itu pakailah bajumu! Cepat jika tidak aku akan melahapmu sampai Pagi. Aku akan buatkan sesuatu tunggu aku di sofa sayang!"
Gleuk.
Siren lupa, ia benar benar bulat, tertutup selimut saja.
Siren melirik cermin melihat tubuhnya, remuk sakit sekali badannya, hampir lima jam berlalu tanpa henti, membuat lelah.
__ADS_1
Tak lama, sebuah pesan berdering di ponsel Siren.
[ Siren. Ini masih awal, aku pastikan suamimu akan jatuh cinta kembali pada masa lalunya, dan bermain nakal kembali! apa kau percaya, jika suami mu benar benar tidak pernah bermain denganku? ]
Siren menelan ludah, ia meminum air dengan segelas besar hingga habis. Menyembunyikan pesan tersebut dan meletakkannya begitu saja.
"Siapa nomor ini, apa Arini atau Sena atau yang lainnya?"
Hingga ia bersandar di sofa dengan lemah, Siren jadi ingat kata kata Arini tadi menghadangnya beberapa jam lalu, sebelum Damar menjemputnya.
"Surprise sayang! sudah jadi. Aku sudah buatkan sandwich bakar, dan susu hangat coklat juga, mie goreng ala chef Damar. Lihatlah sayang ada taburan tomat dan cabai kering seperti bibir tipis mu dan pipi merah mu!" Damar mencium bibir manja Siren kala itu.
"Hubby ... ada ada saja kamu ini, masa pipi dan bibirku disamakan dengan cabai kering dan belahan tomat ini. Kamu nakal deh."
Siren menggelitik Damar, suasana moodnya berubah menjadi naik ketika suaminya menggoda.
"Owh... tidak tidak cukup sayang, jangan dilanjutkan ayo kita makan! atau aku akan makan dirimu lebih dulu sampai pagi, membiarkan makanan ini diam dingin seperti es salju menunggu matahari agar cair."
Hahaha.
Siren terhenti dan menggelengkan serta tertawa kecil. Ia menyendok makanan suaminya itu amat lezat, menyuapi Damar dan satu sama lain bergantian.
"Hubby, kamu habis makan apa sih, gombalmu garing tau gak?"
Biarlah hati ku sangat senang dengan melihatmu tersenyum.
"Ayo sehabis ini kamu ceritakan, mengapa kamu ada di mobil ditengah pantai waktu itu?"
Siren terdiam. Menatap suaminya dengan senyuman dan melahap makanan itu semua dengan cepat. Agar Damar tak menanyakan kembali, sejujurnya gara gara Arini mengancamnya lah dirinya pergi ke pantai, dan suaminya menelepon ia menyusul menjemputnya pulang.
"Sayang, kok diam?" tanya Damar, menyentuh poni rambut istrinya.
"Apa ada yang kamu pikirkan, ada yang kamu sembunyikan dariku?" tambah Damar.
TBC.
Tunggu Crazy Up! semoga cepat lolos review ya, masih ada dua bab lagi setelah ini.
__ADS_1
Happy Reading All.