
Damar, berjalan menuju pulang ke mansion. Dimana letih urusan pribadinya memikirkan istrinya, dan kini project belum juga selesai, hingga Damar belum bisa menyusul Siren ke paris.
Tiba dirumah, Bram menghampiri anaknya, dan melihat tingkah Damar! yang tak biasanya. Bram segera menghampiri putranya itu, yang minum membuka kulkas, dengan wajah lusuh seperti orang stres.
"Kau gusar, jelaskan apa ada masalah di kantor? mengapa kamu pulang seperti ini, apa kamu akan menyusul Siren, hari ini adalah sabtu kamu bisa menyusulnya, asalkan project selesai."
Uh! Dollar .. Dollar dan lagi Dollar, dady selalu saja cerah, jika project berkembang atau bertambah meski 20% perhari dari satu satu saham mereka.
Gleuk ... Gleuk. Memainkan air dalam mulutnya
Damar terdiam menutup matanya, satu jam ia mengamuk tak jelas. Membuat Bram, kaget tak biasanya.
"Bisa jika ada masalah, kau bicara? Hah!" teriak Bram.
Damar pun menceritakan tentang Sena dan berita soal Siren di paris, bersama pria bernama Daru. Bram menelisik, tidak boleh sampai tercemar jika tidak sahamnya akan menurun drastis.
Lama Damar menceritakan soal di kantor, yang mengatakan ia telah hamili Sena, melakukan hal tak senonoh di kantor. Yang Damar rasa, ini sebuah intrik karena Damar tak ingat, dan sudah pasti tidak melakukannya.
Bram, sangat syok dan kaget, bagaimana bisa Sena dan Siren sangat jauh.
"Kau sedang tak bercanda kan, Damar ini masalah besar, sebentar lagi pernikahan resepsi kalian akan dilaksanakan! cepat selesaikan, agar berita ini tidak menyebar ke telinga klien."
Bram, berjalan ke kamar segera bergegas dengan penuh mata yang kunang - kunang dan lemas.
"Tapi Dady, Damar yakin tak membuat nya yang dikatakan Sena, itu pasti kebohongan seperti dulu, Sena dulu di asrama dia melalukan kebohongan, yang membuat Damar rugi. Sebab Damar tak merasakannya. Damar yakin Sena, kala itu pergi." jelasnya.
__ADS_1
"Damar selesaikan setelah itu, pergilah menyusul Siren jangan berucap lagi, bagaimana mungkin kamu bisa berfikir jernih jika kamu tak sadar. Hubungi paman Hari, untuk handle segala klien, jika bisa kau tinggal. Pergilah temui istrimu, dan Dady kasih kamu waktu 1x 24 jam, untuk semuanya selesai!" ketus Bram, berlalu pergi.
Damar pun segera mandi dan bersiap siap terbang ke acara Siren, ia mendapati kabar jika Siren harus menunda dua hari lagi disana, karena acara berlangsung, meski paman Kenan pun ikut serta, tetap saja ia tidak percaya jika Daru si pria kejam itu mulai mendekati istrinya setelah lama masuk bui.
***
**Di Paris**.
"Mikha, acara siang sampai sore ini sudah kosong, kita adakan acara lagi esok siang, sebaiknya kita ke menara Eifel dan museum Lourve, apa kamu mau ikut. Selain itu aku ingin memfoto sesuatu disana untuk terbit an kerjaan kita, sebagai dekor butik juga bisa kan?"
"Menarik sekali Sir, bekerja sambil berlibur terimakasih kamu ipar ku yang best, suka duka kamu selalu mengajakku."
Dua jam kemudian, Siren sudah ada di museum Lourve. Ia memotret bergantian, dengan gaya busana trend butik mertuanya, serta tak lupa, Mikha pun bergantian memotretnya, mereka menghabiskan waktu kosong sebaik mungkin! merilekskan beban pikiran berita yang membuatnya akan perang dengan seorang Damar.
"Iya ... hello paman?"
"Aku dan Siren hanya berdua saja."
"Heum, di museum Lourve mungkin sore atau malam tiba, karena kami sedang mencari sebuah ide berlian, mengembangkan bisnis paman dan butik mertua tercinta semakin melejit." sapa puji Mikha kala itu.
"Ya, pastikan menghindarkan keramain, setelah itu kembalilah ke hotel, kasian Siren akan tertekan, tak mungkin paman juga menerima tawaran seorang Daru. Dan diam saja soal berita itu."
"Baik paman." menutup panggilan, Mikha kala itu.
Heum .. Siren, kau tahu. Paman Kenan, selaku bos memata matai kegiatanmu juga, mungkin takut. Seorang Siren mengecewakan ponakannya. Siren hanya bisa menggeleng kepala.
__ADS_1
"Ayo ... Mikha, kita lanjutkan perjalanan lagi." lirihnya, tapi menoleh dan terhalang seseorang yang tiba mengejutkan.
Seorang aktor artis papan atas dengan gaya casual nya, mendekat dengan asisten dibelakangnya.
"Tuan Daru, kenapa anda bisa disini, aku mohon menjauhlah, jika seperti ini media akan mencecar saya aku mohon!" pinta Siren.
"Tidak kebetulan bukan Siren, aku ingin mengobrol dan makan bersama saja, dengan Mikha juga boleh, ada asistenku Taqy. Jadi Siren tidak akan sendirian, kali ini saja. Anggap saja berdamai dari masa lalu bukan?"
"Maksudmu ini tidak mungkin, pasti akan menjadi double date berita, semua berita akan muncul aneh kembali, aku tidak bisa menerimanya maaf. Kita harus pergi!"
Siren, berjalan menjauh menggandeng Mikha, dan pergi meninggalkan museum dengan singkat. Tapi tuan Daru, benar benar membuntuti Siren kemana ia melangkah.
"Siren, sepertinya obsesi tuan Daru, tidak berhenti menyukai mu, apa dia tidak lelah berhadapan dengan senapan Dady Bram?" jelas Mikha.
"Mikha, jangan bergurau lagi, tidak mungkin! kamu tahu, aku sudah bersusah payah menjauh. Tapi jika seperti ini, aku harus bicara apa pada Damar. Andai Damar, suamiku ada. Argh .. dia kenapa tak membalas menerima telepon dariku ya Mikha?" gerutu kesal.
Huh!
Siren terdiam, namun Mikha menoel bahu Siren, untuk sadar di depannya, siapa yang datang! melupakan, Daru dan asistennya di belakangnya.
"Siren, lihat siapa didepan mu?"
Mikha menunjukan seseorang, sehingga Siren menatapnya amat dalam.
TBC.
__ADS_1