Pengantar Box Jutawan

Pengantar Box Jutawan
DILARANG MENOLAK


__ADS_3

Kembali lagi pada Bram, ia seolah tak percaya dirinya masih hidup atau di dunia alam lain. Yang jelas, Bram merasa tidak pernah ada di tempat yang amat luas dan serba putih, bangunan yang bawahnya seperti diatas awan.


Syok Bram!


"Hei, apa yang sedang kau lakukan?" bentak Olive yang tidak bisa menahan diri untuk tidak bertanya, lantaran Bram mengacuhkan segala ucapannya.


"Aku sedang mencari kamera. Di mana kameranya?"


Bram, melihat kiri dan kanannya. Depan belakang bahkan sampai sisi kanan dan kiri semata-mata untuk mencari keberadaan kamera. Dia menelisik bahwasanya kehadiran pria di depannya diperuntukkan untuk membuat film atau drama.


Bram, kini kembali terdiam. Mana berani dia buka suara apa lagi sampai mengeluarkan kata-kata kasar seperti tadi.


Kalimat yang dilontarkannya beberapa detik lalu saja sudah membuat sebagian tubuhnya membeku, apa lagi sampai dirinya menghina nantinya. Mungkin akan dijadikan daging asap.


Bram bergidik ngeri. Kali ini dia telah memandang berbeda pria dihadapannya yang terus mengaku sebagai utusan Langit dari system itu.


Melihat Bram, yang diselimuti rasa takut, Olive kian merasa senang sebab Bram sudah mengakui dirinya, meskipun tidak sepenuhnya percaya. Namun, itu saja sudah membuat Olive bernapas lega.


Olive membuka kembali halaman selanjutnya dari buku yang disebut-sebut adalah 'Buku Takdir' buku yang setiap halamannya, berisikan catatan kehidupan manusia dan makhluk hidup lainnya.


"Bram Hartanto." Olive menjatuhkan pandangannya pada pemuda pemilik nama yang baru saja disebutnya.


Bram menundukkan kepala, mana berani dia menatap manik hitam yang memancarkan aura gelap tersebut.


"Bram Hartanto. Dua puluh tujuh tahun. Sudah tidak memiliki ibu sejak usia sepuluh tahun. Bercita-cita menjadi Dokter. Namun, sayang jalan yang dipilih adalah menjadi pengusaha kurir delivery untuk membalaskan dendam atas kematian ibu Dayana Cluoe."


Bram yang mendengarnya pun rasanya ingin mengumpat kasar, tapi mana sanggup dia mengeluarkan kata-kata tidak pantas tersebut. Betapa terpuruknya dia saat Olive mengeluarkan kata demi kata, yang disusun menjadi kalimat tersebut, tentang dirinya di masa lampau.

__ADS_1


"Kejahatan yang kau perbuat selama ini tidak dapat dimaafkan begitu saja. Namun, Raja Langit telah berbaik hati, memberikanmu satu kesempatan untuk memperbaiki dirimu serta membawa kedamaian pada dunia," tutupnya sejalan dengan buku sudah ditutup kembali.


Bram mengangkat kepalanya, tapi hanya bertahan beberapa detik saja, sebelum dia kembali menundukkan kepala, merasa malu dan tidak memiliki tenaga dan energi untuk bisa memandang dunia.


Dia merasa menjadi manusia paling lemah dan bodoh di muka bumi ini. Bagaimana tidak? Masih hangat dalam ingatannya, dirinya dengan berani mendatangi markas Organisasi Naga Buaya, untuk menentang duel para anggota serakah, tanpa memperhitungkan jumlah musuh di sana.


Nasibnya memang sial sekali, bukan kembali dengan membawa kemenangan, dirinya malah harus terluka dan jatuh ke sungai beserta mobil yang dibelinya dengan susah payah.


Mendapati tidak adanya lagi semangat pada diri Bram, menimbulkan sedikit rasa kasihan dari dalam dirinya. Olive menjentikkan jarinya kembali, tak perlu waktu lama, beberapa detik setelahnya Bram merasa badannya lebih ringan.


Luka serius pada tangannya dalam sekejap mata langsung menghilang. Kulit tangan Bram kembali mulus seperti tidak pernah terluka, sama sekali tidak ada bekas tembakan.


Bram berdecak kagum, mengangkat kepalanya rasa tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.


"Luka dan rasa sakit yang ada pada tubuhnya sudah berhasil aku sembuhkan," gumam Olive tetap dengan sikap wibawanya.


Bram pun mengubah posisinya menjadi berdiri. Jarak antara dirinya dan Olive hanya beberapa jengkal saja. Ingin sekali rasanya Bram mengucapkan terima kasih pada Olive lantaran sudah mau berbaik hati menyembuhkan lukanya. Padahal, dirinya sudah bersikap kurang pantas padanya.


"Sudahlah, tidak usah mengucapkan terima kasih segala. Sudah menjadi tugasku untuk membantu mereka yang memiliki Takdir Langit," akunya tenang dengan tatapan yang meneduhkan.


Pandangan Bram terhadap Olive pun kini telah berubah 180 derajat dari sebelumnya. Dirinya yang semula menganggap ucapan Olive sebagai lelucon semata, sekarang tidak lagi berani berpikir bahwasanya Olive adalah orang bodoh.


"Jika memang benar aku ini memiliki Takdir Langit, kalau begitu apa yang harus kuperbuat sebagaimana kesempatan ini diberikan padaku?" kata Bram dengan hati-hati. Kini dia harus menjaga setiap kata yang keluar dari mulutnya agar tidak menyinggung perasaan Olive.


Oliver Kristalion mengulas senyuman terbaiknya. Bisa dikatakan ini senyuman teramah yang pernah dirinya tunjukkan di depan Bram.


Olive pun membuka halaman berikutnya dari Buku Takdir yang menuliskan segala hal tentang Bram itu.

__ADS_1


"Bram Hartanto."


Selalu pada bait pertama akan tertulis nama nya di sana. Sang pemilik nama kini tidak mempermasalahkan kalau Olive terus mengulang menyebut namanya.


"Bram Hartanto. Raja Langit telah memberikanmu tugas, yaitu membawa kedamaian pada dunia yang saat ini tengah memasuki era kekacauan. Kumpulkan seluruh preman dan tarik semua pria berseragam hingga berpangkat tahu dirimu, mereka yang terlibat dari segala yang berkuasa tidak lagi menindas orang bawah."


Gleuuk!


Bram menahan menarik napasnya dalam-dalam, lalu membuangnya perlahan-lahan. Bingung harus berujar apa karena tugas yang diberikan Raja Langit sungguh membuat kepalanya menjadi sakit.


"Membawa kedamaian dunia seperti apa, yang diinginkan Raja Langit?" Bram berusaha hati-hati saat bertanya.


Olive pun melanjutkan kalimat yang sempat terjeda itu, "Bram. Tugasmu adalah menghentikan kekacauan yang sedang terjadi di dunia saat ini, banyak dari mereka yang berubah menjadi preman dan mafia meminta jatah pada seluruh pedagang, pebisnis dibalik itu semua mereka dilindungi oleh orang berpangkat dan berseragam."


Bram memijat keningnya yang mulai terasa sakit. Olive meliriknya dan Bram buru-buru menurunkan tangannya, tidak lagi memijat kening, meskipun rasanya semakin sakit.


Sementara itu Bram tidak melanjutkan kalimatnya, ditutupnya buku takdir tersebut dengan kasar, sampai-sampai Bram tersentak kaget.


Beberapa detik berselang, Bram menautkan kedua alisnya setelah mendapat ketenangannya kembali. Namun, tubuhnya malah bergetar. Pikirannya sekarang seperti dibawa berkelana kembali, sesaat setelah melihat ada perubahan ekspresi dari Olive dan pada detik itu juga bulu kuduknya berdiri semua.


"Jika kau berhasil mencapai sistem tertinggi, maka semua orang akan takluk di bawah kakimu!" seru Olive serius di tengah-tengah ketegangan yang ada.


"Apa, sistem tertinggi?"


"Tidakkah aku menjadi sistem delivery saja. Aku tidak perlu system kasta tertinggi?"


"Tidak! Itupun jika kau ingin ditendang langsung menuju matahari. Karena menolak kehendaknya. Kesempatan keduamu hidup, menolong banyak orang! Bukan lagi soal kekayaan, lagi pula kau sudah kaya dan harus mempertahankannya!!!" teriak Olive.

__ADS_1


Tbc.


__ADS_2