Pengantar Box Jutawan

Pengantar Box Jutawan
PERSETERUAN SENGIT


__ADS_3

Dua satpam, dan Ryan pergi keluar ruangan itu dengan tidak hormat, ia memberikan pesan pada Tio, tapi belum ada jawaban. Bahkan Ryan sendiri kebingungan terkait Bram yang kini bisa membeli perusahaan, dan tanah sengketa milik petani bisa mudah ia beli begitu saja. Dari mana uang Bram, tentunya membuat pikiran Ryan bertanya tanya ingin menghancurkan Bram.


Akhirnya Kristal dan Bram menandatangani proses kelanjutan, untuk bertemu seseorang yang menginginkan lahan ini. Sehingga Bram pulang dengan Kristal mengendarai mobil mewahnya.


"Apa yang akan kamu lanjutkan, apakah hari ini kau akan menemui Elea?"


"Misi ku belum berhasil, Jadi harapanku adalah setelah ini kembali ke tempat Qi Ruslan. Setiap misi berhasil, tentunya aku harus menyambungkan ip name, agar hadiah dan saldo di rekeningku tidak nol rupiah bukan."


Hahaha, entah dari kapan Bram sangat senang. Meski tampilannya saat ini biasa saja, tapi Kristal berbisik pada Bram.


"Jangan senang dulu Bram, esok kau akan bertemu seseorang dan setiap misimu akan ada kesulitan kesulitan yang kau dapati, itu berarti kau akan lama menemui Elea. Kau yakin dia wanita setia yang terus menunggumu?"


Tak ingin membicarakan ranah pribadinya, Bram segera ngebut memikirkan perkataan Ryan yang dimana keluarga Elea berhutang banyak.


Sejahat itukah, ia meninggalkan Elea yang sedang kesulitan. Tapi kenapa Hari, orang suruhan yang memintanya menjaga Elea diam diam dari jauh, tidak bicara jika Elea sedang dalam kesulitan dan tekanan di keluarga Hartawan.


***


Esok Harinya.


“Kami tidak akan menyerahkan lahan kami kepada Jaya Wiss!”


Begitulah teriakan demi teriakan protes yang dilontarkan para petani di depan kantor Jaya Wiss. Mereka menuntut perusahaan tersebut untuk membatalkan niatnya mengambil alih lahan-lahan mata pencaharian mereka untuk di jadikan obyek wisata.


Setelah dua hari pertemuan mereka, Bram kembali muncul di kantor Jaya Wiss. Kali ini dia berada di antara petani-petani tersebut. Dengan mengenakan kaus biasa seperti yang dipakai Pak Rahmat dan petani-petani lain, dia tidak terlihat menonjol.


Ryan menyadari ada Bram di sana, begitu juga dengan Saski yang selalu menempel pada Ryan. Saat melihat Bram di sana, Saski mulai melancarkan aksi nakalnya, berkali-kali mengerdipkan matanya kepada Bram.

__ADS_1


Namun, tidak direspons oleh Bram, malah memalingkan wajahnya, hal itu membuat Saski cemberut dan semakin penasaran. Melihat hal itu membuat Ryan semakin tertarik kepada Bram, pemuda itu memiliki nilai lebih di matanya, karena tidak mudah tergoda dengan rayuan Saski.


“Usir mereka dari sini!”


“Kami tidak akan menyerah!”


Teriakan petani kembali ricuh saat melihat kedatangan Hartawan bersama ayahnya, Tio. Mereka duduk berjajar di antara para petinggi perusahaan dan tampak tersenyum meremehkan para petani yang berteriak-teriak mengutarakan kemarahan mereka.


Tentu saja Hartawan dan Tio aman-aman saja. Sebagai petinggi sekaligus tamu kehormatan, mereka duduk di tempat yang khusus dan diberi pengawalan ketat, kalau kalau para petani itu mengamuk atau semacamnya.


Akan tetapi, di detik berikutnya ketika Hartawan menyadari keberadaan Bram, karyawan istimewanya dulu, di antara para petani, raut mukanya langsung berubah. Dia tampak ketakutan jika pemuda itu melakukan sesuatu.


Hartawan tak peduli pada kemarahan para petani. Mereka tak akan bisa menyentuhnya. Tapi Bram, berbeda seolah Hartawan tahu apa yang akan Bram lakukan saat ini.


Putranya Ryan dan Tio lagi-lagi teringat momen saat Bram, mempermalukannya di muka umum.


Bram menatap balik Hartawan sesaat, membuat Ryan memalingkan muka dan bahkan bersembunyi di balik tubuh besar ayahnya.


"Diamlah! Bahkan jika kau bertanya lagi, dia keluarga terpandang diatas kita satu level. Kita bukan apa apa, amat beruntung yang menjadi orangtua pemuda itu." senyum Hartawan, membuat Ryan kesal mendapat pujian dari papanya.


Bram tersenyum lalu kembali fokus pada apa yang sedang ditunggu-tunggunya.


Ketika emosi warga semakin sulit dibendung dan mereka mulai bersikap anarkis, Yuda maju ke depan panggung.


“Bapak-bapak, ibu-ibu, harap tenang! Kita akan menjelaskan mengenai pertemuan hari ini!”


"Lahan-lahan ini, kita akan bangun untuk tempat wisata. Hal ini tujuannya agar kita bisa menarik para wisatawan dari luar untuk menggunjungi desa ini. Bukankah itu menguntungkan warga juga?"

__ADS_1


"Dan lahan-lahan itu akan di bayar ganti ruginya. Jadi, bapak-bapak atau ibu-ibu semua nanti nya bisa membangun bisnis sendiri dengan uang itu. Bisa membuka restoran atau yang lainnya. Bukankah kalau ada tempat wisata, pengunjung akan semakin banyak?"


Terdengar teriakan penuh amarah dari para petani. Mereka tampak siap melakukan apa pun demi mempertahankan sawah-sawah mereka.


"Mohon tenang, dengarkan dulu keputusan akhirnya ini," ujar Yuda kembali menenangkan petani.


Suasana kembali tenang, mereka menunggu kelanjutan ucapan Yuda.


"Saat ini orang disamping saya, akan membeli pt wijaya wings dan membuat lahan pertanian besar besaran bagi siapa saja yang mau bekerja sama, perkenalkan dia adalah saudara Bram Hartanto. Dia berjasa bagi lahan bapak dan ibu, untuk tetap mengelola lahan sendiri meski pemilik sahnya adalah pak Bram."


Hiruk riuk bergeming, seluruh petani berbisik dan kembali diam setelah Yuda menjelaskan.


"Keuntungan lahan yang kalian kelola kini milik pak Bram adalah, 50% untuk kalian, dan 50% milik pak Bram. Seluruh bibit dan segalanya akan di ekspor dari saham 50% milik pak Bram." senyum Yuda.


Pak Rahmat berjabat tangan, sementara seluruh petani merasa di untungkan dan mereka setuju, memberi selamat dan berterimakasih saat itu juga.


"Hidup pak bos Bram."


"Selalu berjaya pak Bram, telah menyelamati kami."


Tio dan Ryan terdiam bungkam, pria yang ia sering olok olok merasa malu bukan kepalang. Bram pun maju beberapa langkah menatap pak Hartawan.


"Bram. Kau berhasil, kau lolos dan benar pewaris seperti papamu. Kau pemuda jenius."


"Terimakasih, maaf pak. Pt anda saya ambil ahli, saya tidak setuju jika lahan ini akan menimbulkan kemacetan. Tapi sumber daya yang akan saya kelola, ini menguntungkan semuanya. Level terendah hingga level tertinggi sama rata mendapat manfaatnya." jelas Bram.


"Satu lagi pak! Ajarkan kedua putra anda sopan dan menurunkan ego kesombongannya, terutama pada skill dan penampilan yang biasa biasa. Tidak semua orang kaya bisa menampakan dengan serba mewah. Tapi otak dan kerja keras yang mewah." senyum Bram pamit.

__ADS_1


Sehingga amarah menampaki jelas, dari raut wajah Hartawan menatap pada kedua putranya yang menunduk.


Tbc.


__ADS_2