Pengantar Box Jutawan

Pengantar Box Jutawan
MEMBERI UMPAN


__ADS_3

"Bram! ini kekasihku, ayah! apa ayah lupa? ayah kan sudah berjanji padaku kalau aku membawanya dalam waktu satu kali dua puluh empat jam, ayah akan--"


"HANYA KEKASIH, JINGGA!" Tjandra dia dengan cepat memotong ucapan putrinya. pandangannya masih sinis menatap Jingga.


"Dia hanya kekasihmu!"


"Maksud Ayah apa?" Jingga bingung dan saat ini Bram masih diam memandang ayah Jingga, belum ada satupun yang terucap di bibirnya hanya dalam relung hatinya saja dia menggerutu.


'Fuuh, beruntung aku yang memang tidak memiliki orang tua lagi! Dulu Elea juga terpaksa harus mengikuti perjodohan hingga hubunganku dengannya kandas! Dan sekarang, anak ini ingin sekali mengembangkan karirnya tapi karena perjodohan dia terancam kehilangan masa pasionnya!' gumam Bram di dalam hatinya. keadaan ini membuat dirinya mengingat kejadian masa Lalu.


Bram merasa terluka. 'mungkinkah ini yang dimaksud oleh Jingga, kalau dia memiliki kemiripan denganku?' Bram mulai mengingat ucapan Jingga yang membandingkan dirinya sendiri dengan impian sebagai artis pada kondisi Bram yang ingin memperjuangkan pride-nya.


'Apa yang bisa aku lakukan untuk menolongnya?' Tapi Bram masih diam, mencoba merendam emosinya, dia juga mencoba memikirkan apa cara terbaik untuk melepaskan Jingga dari paksaan ayahnya. Bram sungguh berempati pada Jingga.


"Maksudku aku tidak melarangmu untuk pacaran dengan siapapun! asal kau tahu siapa calon suamimu, Jingga!"


Bram bergumam tadi, sambil dia mendengar penjelasan dari Tjandra.


"Enggak ayah! Pokoknya, aku nggak akan punya calon suami lain kecuali Bram! orang yang ada di sampingku. Aku sangat mencintai Bram, ayah. Dan aku gak mau pria lainnya, gak sama sekali!" mata Jingga berkaca-kaca.


"Selama ini nggak ada yang perhatian sama aku sama seperti cara Bram perhatian ke aku. apa ayah tahu gimana dia membuatku merasa disayangi?"


'Haduh, dasar artis! pintar sekali dia bersandiwara! Heish.' Bram ingin mengumpat Jingga, tapi ..


'Aku rasa memang benar dia tidak mendapatkan kasih sayang secara bapaknya aja kayak gini! ah, kesian banget! Pantes aja dia pengen jadi kekasihku.' Bram kembali berempati makin dalam. Di saat dia juga sedang menimang-nimang apa yang dia bisa lakukan untuk menolong Jingga.


"Apa yang kau harapkan dari seorang pengangguran Jingga!"


Bukan hanya Jingga yang kaget. Bram pun juga merasakan hal yang sama ketika mendengar ucapan Tjandra, konsentrasinya terpecah, mungkin Tjandra tidak tahu, jika ia adalah putra dari Reksa Hartanto musuh saingannya.


'Jadi dia baru mencari tahu info tentang aku dan pekerjaanku, kah? kalau begini, rahasia masa laluku di media dia belum tahu?'

__ADS_1


Bram agak heran. Tapi ini memang memberikan keuntungan lebih! Bram masih dianggap pria normal oleh Tjandra.


'Sepertinya aku tahu aku harus melakukan apa!' pekik hati Bram, yang kini sedang menyembunyikan kira-kira apa yang sebaiknya dia lakukan.


"Ayah, Bram bukan pengangguran biasa! kau tidak tahu saja kalau Br--"


"Jingga, sudah Jangan berbohong lagi!"


"Heh?"


Bram tiba-tiba menyentak macam itu membuat Jingga membulatkan matanya.


"Ayahmu benar kalau aku hanya seorang pengangguran, sayang!"


'Kenapa senyumnya manis banget!' Jingga, kehilangan fokus. Dia tak tahu bagaimana harus merespon tapi memang matanya kini mengarah pada Bram yang tumben bisa memberikan sesuatu, yang menyejukkan di mata Jingga.


"Haah, ayahmu memang benar tidak ada yang bisa dibanggakan dari seorang pengangguran!" Bram tidak menceritakan Siapa dirinya lebih lengkap lagi, justru malah memindai netra Tjandra


"Ya, karena aku memang seorang yang tak punya pekerjaan! aku sudah berhenti bekerja dari beberapa tahun yang lalu, Jingga sayang!" lalu senyum Bram terlihat, dan dia merubah posisi tangannya dari yang tadinya memang dirangkul lengannya oleh Jingga menjadi Bram sendiri yang justru merangkul wanita disampingnya.


'Huh, anget banget!' Jingga sungguh merasa nyaman dalam dekapan itu. Hatinya sungguh bahagia. 'Tapi fokus dong Jingga!' dia berusaha mengingatkan dirinya lagi.


"Ayahmu tak salah karena aku hanya menghabiskan uang sisa-sisa dari pekerjaanku dulu!"


Bram tidak munafik, dia jujur dan membuat hati Jingga kecut.


'Aduh dia beneran mo nolongin aku apa dia pengennya ayah nyalahin aku sih! kenapa dia malah jawab gitu? hancur sudah dunia persilatan! mo pasrah rada ga rela!'


Ingin sekali Jingga memprotes Bram saat ini juga! tapi apa yang bisa dia lakukan? tidak mungkin juga Jingga mengomeli Bram sekarang. Ayahnya pasti akan mengetahui semua rahasianya. ini tidak baik, bagai buah simalakama.


"Cih! Kau sudah dengar Jingga, pengakuan kekasihmu itu!" sindir Tjandra sambil dia melipat tangannya dan menatap sinis. "Jadi apa yang kau harapkan darinya, hmmm?"

__ADS_1


"Kau lihat yang datang adalah Boim, Bisnisnya berkembang pesat! Sahamnya meningkat, kehidupannya luar biasa, dikelilingi segala kenikmatan dunia!" seru Tjandra dengan sangat bangga sekali di wajahnya menceritakan kebaikan calon menantu yang diinginkannya.


"Kau bisa menjadi nyonya besar, Jingga! kau bisa memiliki segala macam yang kau inginkan dengan menjadi wanitanya!" Tjandra mulai membuka cakrawala dan masa depan Jingga, dengan posisi mereka masih di teras rumah.


"Kau bisa mendapatkan derajat yang tinggi seumur hidupmu, ditambah lagi dengan semua kekayaanku!" Tjandra membuka tangannya, seakan-akan dia ingin menunjukkan kalau dia memiliki segalanya.


"Kau tidak akan pernah jatuh miskin Dan tidak akan pernah kesulitan ekonomi!" lanjut ayah Jingga, membuat Bram rasanya ingin tertawa.


Tapi apakah itu semua menyilaukan Jingga?


"Aku tidak butuh itu Ayah! aku bisa bekerja dan menghidupi kebutuhanku sendiri! bukankah ayah masih memiliki anak lain, Lena dan anak laki laki ayah yang ayah banggakan,?" pekik Jingga menantang, membuat Bram ingat Elea dulu.


"Sampai kapan Jingga?" senyum itu terlihat menghinakan


"Dengar, Jingga, memang saat awal menjadi artis semuanya terlihat sangat indah. Kau masuk ke dalam dunia highlight! semua orang melihatmu tapi itu akan meredup! sama seperti bintang yang berpijar maka suatu saat dia akan mengalami fase mati! sebelum namanya terkubur dan mungkin saja hancur atau bintang itu menjadi sebuah titik hitam! tak lagi berguna!" seru Tjandra sinis.


"Itulah kenapa banyak artis cantik mereka berusaha untuk mendapatkan seorang pengusaha!"


"Tapi saat ini aku masih berguna! dan Aku pastikan Aku tidak akan membutuhkan pengusaha ayah! Aku akan berinvestasi." Jingga masih mencoba membela dirinya.


"Lagian semua bisnis begitu ayah! Butuh inovasi. Dulu bisnis wartel laku, di ganti warnet, terus sekarang keduanya ga laku karena inovasi, itu hukum alam!"


"Kau mau mengajariku? Kau pikir aku buta soal bisnis?" Tjandra protes.


"Apapun, lah terserah ayah mau berpikir apa!" pekik Jingga. "Pokoknya aku tidak akan menikah dengannya ayah!"


"Kau berani menentangku, hmm?" tangan Tjandra sudah melayang dan hendak menyambar pipi Jingga.


"Tidak baik main pukul pada anak perempuan tuan Tjandra yang terhormat!" seru Bram, yang dengan cepat tangan kirinya menyambar dan menghadang Tjandra. Wajah Bram juga terlihat menahan emosinya.


"Bukan hanya papa, aku juga tidak akan menentang kalau papa menghalangi cinta kami!" tambah Jingga.

__ADS_1


TBC.


__ADS_2