Pengantar Box Jutawan

Pengantar Box Jutawan
MENCARI MR TAYLOR


__ADS_3

Benar-benar tidak dapat dipercaya memang, Bram yang sehari-harinya selalu di hormati serta di takuti di lingkungannya. Kini menatap Elea berharap di kasihani dengan matanya yang memerah, jelas tidak butuh waktu lama untuk dirinya hingga bisa mengeluarkan air mata saat itu.


Bram yang keluar dari kekayaan orangtua merintis menjadi karyawan resto, mengantar sayuran box! entah kenapa saat ini, sadar sekeliling orang hanya bisa menghormati dengan title, jabatan dan penampilan. Seburuk itukah orang memandang yang berpenampilan biasa saja. Bahkan kehidupan bagai roda berputar, hingga titik inilah Bram merasa, tak seharusnya menampilkan identitasnya.


“Usap matamu Elea, kita pergi dari sini!" Bram pada Elea setelahnya.


Merangkulnya mencoba menenangkannya, mengajak Elea beranjak dari sana setelah Hermawan hanya terdiam dalam duduknya.


Mungkin ayah dari Elea, sedikit syok karena ia telah menghina putra bekas majikannya dulu. Menyesali sikapnya yang tidak baik pada pemuda bernama Bram.


“Ini, hiks... Air mata terharu Bram." Elea, jelas tidak ingin Bram meledeknya sehingga berkata seperti itu.


Hermawan dengan sang istri tak bisa berbuat apa apa, setelah ia mengusap kepala sang putri dan merestuinya dengan kekasihnya Bram. Tentu saja kalah telak bagi seorang Ryan yang saat itu tak bisa berkata kata, kala Bram menampilkan identitasnya.


Tling! Nada pesan.


[ Jalan texas bungasari nomor 17A, kunci rumah ada di vas merak! Semua sudah beres, sudah bisa kau tinggali anggap saja bonus misimu diawal berhasil ] pesan system.


Dalam perjalananpun, Elea di sibukkan dengan jawaban Bram yang meminta Elea tinggal di rumah baru, sekaligus ia tinggal dekat dengan kuliah, penelitiannya dan pekerjaannya.


Sampailah pada rumah yang Kristal berikan, itu pun menarik perhatian Bram, jika Kristal bisa diandalkan.

__ADS_1


"Kita sudah sampai!" tanya Elea, sesaat Bram membuka pintu mobil.


"Ya, benar ini alamatnya." lirih kembali Bram.


"Benar? Maksud kamu ... Jadi, ini rumah siapa Bram?"


"Rekan ku, Kristal yang menyiapkannya. Sewaktu aku ambil mobil di showroom tempatmu bekerja El." jelas Bram.


Bram merasa Elea sedikit berubah, Entah apa ia cemburu pada Kristal saat ia jelaskan.


"Ga lucu, kamu punya teman kerja secantik dia."


'Memang selama ini dia bukan manusia?' batin Elea.


Bram pun menjelaskan, ada beberapa kamar dan ruangan yang cukup luas untuk berkeluarga, ia meminta Elea yang mencari kandidat untuk menjaga rumah dan membersihkan. Lalu Bram ke arah dapur yang terlihat rak lemari kebutuhan pokok sudah tersiapi. Benar benar anak buah system yang patuh.


Bram mengaduk dua kopi, sementara Elea duduk bagai menunggu seorang pembeli yang memesan di bartender.


"Bram, kenapa kamu ingin menutup penelitian yang sempat kau datangi itu, karena brosur?" tanya Elea.


"Ya benar, pemilik itu masih aku cari. Aku hampir melupakannya, sebentar lagi dua orang pembantu akan datang! Aku akan pergi, pemilik penelitian ilegal itu harus di tutup, dan ada kaitannya dengan tanah yang aku beli beberapa waktu lalu El. Aku sempat mencarinya di hotel menginap, tapi nahas aku kehilangan jejaknya."

__ADS_1


"Owh, baiklah. Good luck Bram, kamu tetap harus hati hati. Kabari aku secepatnya!"


"Tentu El, ini kunci mobil. Bisa kamu pakai, aku akan ke suatu tempat dengan kendaraan lain."


"Bram tidak, ini terlalu mewah."


Bram pun pamit pergi begitu saja, terlihat oleh Elea jika Bram pergi dengan sepeda motor. Melupakan mobil mewah, tidak mungkin ia berangkat kerja dan kuliahnya dengan mobil mewah yang saat itu Bram ambil, dari tempat ia bekerja.


Sementara Bram yang saat itu ke rumah pohon seperti biasa, ia menscroll dari komputer tua namun canggih, dimana kebiasaan tuan Taylor berada.


Bram pun mencetak resi sekaligus orderan timun emas seberat 2kg. Tentu saja orderannya kali ini sedang agak sepi, bahkan bibit yang Kristal kerjakan di lahan sengketa sedikit lambat. Di karenakan banyak cukong, preman setiap harinya meminta jatah dengan alasan keamanan atau penutup mulut. Maka dari itu tugas Bram adalah bernego dan mencari tuan Taylor secepat mungkin.


Tling!


[ Bar Emson, nomor 1001 temuilah asisten Ken, kau akan cepat menemui tuan Taylor. ] pesan system dari aplikasi ponsel Bram, kembali muncul.


Bram tersenyum, dan saat itu juga ia segera mungkin menuju lokasi sesuai pesan.


"Ok. Baiklah, setelah mempacking paket pesanan ini. Akan aku tuju keberadaan Taylor. Huuuuft!" deru nafas Bram yang melaju dengan sepeda motornya.


Tbc.

__ADS_1


__ADS_2