
Setelah Tio mendapat kabar, ia berusaha ke pertanian desa sengketa. Menghasut beberapa warga yang mendukung Bram. Hal itu membuat rencana Tio mungkin berhasil, di saat Bram akan sampai lebih lama tiba di lokasi.
Tlith!
[ Bram, temuilah inggrid dan Hari, setelah kau tenar. Ia menuju lokasi tanah sengketa. Jangan lupa, pertemuan penting. Banyak orang berlomba lomba penasaran akan bibit timun yang saat ini tumbuh menjadi penasaran banyak orang, akan berita itu!" ]
Bram menghubungi pak Rahmat, orang desa yang ia selamatkan. Dan kini, ia akan melihat berapa banyak orang jujur dipihaknya. Atau berapa banyak penjilat yang menghampiri mengaku ngaku keluarga Bram, setelah ia sukses seperti ini.
Tlith!
"Bram, kau dimana? Ada seseorang ibu mengaku dia adalah ibumu, hendak masuk dan melihat arsip! Cepat datanglah." pesan dari pak Rahmat.
Belum Bram hubungi, pak Rahmat dapat di percaya. Sehingga ia sempat mengirim pesan, jika ia akan tiba sesaat lagi.
Tlith!
Pesan itu tiba tiba hilang, Bram amat terkejut akan tampilan di layar ponselnya hank. Tak lama layarnya tampil berwarna merah dengan tulisan berwarna jingga.
10 ...
20 ...
80 ...
Loaaadiiiing ...
__ADS_1
Wuuuuush!!
Angin bertiup kencang, tiba saja beberapa orang terlihat tak bergerak. Bahkan sebuah kopi dalam gelas yang akan di minum mengambang begitu saja bagai patung, seolah kehidupan seperti mati. Hanya ia seorang yang dapat ia lihat, hanya ia seorang juga yang bergerak. Bram sulit percaya, apakah yang ia lihat ini ilusi atau mimpi. Bram menepuk pipinya tapi sakit! Pertanda ia benar benar melihatnya dengan jelas.
Tlith!
[ Selamat datang Tuan! System mengirimkan UFO, dengan kilat menuju desa sengketa dalam beberapa detik! Masuklah, dan fokuslah pada keramaian di desa sengketa! ]
Wuuuushhh ...
Kilat, Bram segera masuk. Ia tak sangka, di saat ia memerlukan dua sampai empat jam, menuju lokasi. System membawa cepat bagai angin.
Sreeeeth...
Wuuuush...
[ Selamat Tuan! Anda telah sampai di desa sengketa. Perubahan orang akan kembali normal, tidak ada yang tahu anda sampai dan tiba selain Kristal! ] ucap System, UFO pun pergi bagai angin.
Plugh! Menepuk bahu Bram.
"Baguslah kau sampai! cepat masuk Bram!" ujar Kristal.
Hingga Bram berdiri di tengah tengah keramaian, termasuk Tio entah dari kapan Tio juga bingung. Sejak kapan Bram tiba, Tio setelah melihat berita. Ia merasa kesal, dan ingin menghancurkan karier Bram, menganggap ia adalah penipu ulung bekedok emas batangan yang dijual dalam sebuah timun sayur.
Kristal menceritakan, soal keributan yang di dasari iri hati. Kekacauan yang disebabkan oleh Tio, menghasut penduduk untuk merusak tanaman bibit timun emas, hal itu Bram sadari, pantas saja Via mengirim pesan tiba tiba ingin bertemu, belum lagi ibu angkatnya tiba datang berada di depannnya.
__ADS_1
"Bram aku ..." Hari terdiam menunduk, akan tetapi sang ibu menghampirinya.
"Kalian masuklah! Ada hal yang aku ingin katakan juga pada kalian! Tapi ingat, jangan sentuh barang barang dan arsipku!" ujar Bram, menatap pak Rahmat untuk menjaganya di ruangan kantor yang dalamnya megah.
Hari dan sang mama masuk, Hari juga menahan sang mama untuk masuk ke dalam ruangan lain. Terlihat juga, satu ruangan di gembok dan tak bisa seseorang masuk kecuali Bram.
Sementaa Bram, ia maju pada keramaian penduduk yang menimpuk kertas ke arahnya tapi di sanggah oleh beberapa petugas.
"Konglomerat Itu Ada di Samping kalian! Jika kalian ingin bertanya, sopanlah!" teriak Kristal.
"Tunggu Kristal, kamu tidak perlu sungkan. Apakah Pria ini membayarmu demi kebohongan ?" seru Tio dengan penuh semangat pada gadis itu.
Gadis itu menggeleng pelan setelah sempat merasa ragu. Kristal tahu, pria bernama Tio, adalah pria licik yang banyak menghasut orang desa yang tadinya tenang.
Tio merasa dirinya sudah cukup sial karena Bram, mengambil keuntungan dari dirinya. Jika dirinya telah di perlakukan demikian oleh seorang karyawan resto, lalu dia sendiri memberitahu pada orang lain, bukankah dia akan menjadi bahan tertawaan? Selain itu, membuat Bram dan berlutut meminta maaf pada dirinya juga tidak akan menyelesaikan masalah. Jadi gadis itu merasa lebih baik tidak perlu dikatakan.
"Dia benar-benar tidak mengganggumu?" tanya Tio tercengang dan tidak mengerti setelah melihat gadis itu menggeleng.
"Tidak, ayo kita pergi!" Gadis itu melirik Bram dengan kesan jijik, lalu berbalik dan berjalan menjauh.
"Hei, tunggu aku punya waktu nanti, lihat saja bagaimana aku akan membereskanmu!" ancam Tio pada Bram, kemudian juga berbalik dan pergi dengan gadis itu.
Setelah melihat Tio dan yang lainnya pergi, Bram mengeluarkan ponsel dan bermaksud menghubungi seseorang. Dia ingin meminta seseorang memberi sedikit pelajaran pada Tio. Tapi setelah dipikir-pikir, dia tidak jadi menelpon.
Bram merasa dirinya sekarang sama sekali tidak perlu membuang-buang waktunya pada orang seperti Tio, yang di rasa dia tidak rela dirinya kalah.
__ADS_1
Kalian warga, masuklah dengan sopan! Apapun yang kalian katakan, akan saya jawab dengan jujur! Terkecuali, pria di sebrang sana yang membuat onar!! Unjuk Bram, ke arah Tio dengan raut kesal, karena penduduk tidak jadi merusak tanaman bibit Bram, yang hampir panen.
Tbc.