
-- DI KANTOR --
"Mau kemana perempuan serakah itu?" cetus Inggrid, sambil menjalankan kursi roda elektriknya.
"Ka Elea mau cari kak Bram, doakan saja ya Mom. Hari, berharap kak Bram cepat kembali. Tidak peduli ia dalam keadaan terluka sedikitpun, Hari butuh arahannya. Apalagi saat ini papa tak pernah jenguk kita, semenjak mama ajak aku dadakan ke belanda. Mama juga kan yang bohong sama Hari, saat itu." balasnya.
Hari, saat itu sambil mengelap meja. Lalu menyambut beberapa pekerja yang terlihat akan menimbang timun emas. Meminta pekerja segera berbaris dan absen jempol di ruang sebelah.
"Dasar Halu, kau ini aneh. Mana ada orang yang udah mati masuk jurang selamat, kamu pasti kena bualan wanita serakah itu. Dia itu Mirip Jaa-laang yang mau nguasain harta Bram. Mama ga bisa biarin ini, sebab ..." nyerocos Inggrid, terpotong.
"Mama ..! Ayolah ini kantor, jika mama tidak percaya ditemani perawat di rumah. Jangan ikut campur usaha kak Bram. Ini sudah waktunya jam kerja, lagi pula wajar kak Bram meminta semua asetnya atas nama Elea. Karena mama, dan Kita selama ini telah di luar batas." gemas Hari, ini adalah pertama kalinya Hari berlaku kata kasar, menyakiti ibunya.
"Kamu berani sama mama bilang kaya gitu, Hari ..?" Inggrid menoleh dan menjalankan kursi roda elektriknya, ke arah luar perkebunan timun emas.
'Maafkan Hari mah! Hari tidak bermaksud.' batin Hari.
SEMENTARA DI BERBEDA TEMPAT.
Elea, saat itu terlihat sampai di pelataran desa Graha, terlihat ia memasuki gapura Graha Indah. Yang anehnya dari desa sengketa hanya sekitar tiga jam, amat melelahkan pastinya saat itu, Elea menyupir sendiri.
Hingga akhirnya, kala itu Elea memarkir dan mendekat ke satu rumah. Elea juga melihat seorang anak yang sedang membantu seorang nenek membersihkan pot.
"Permisi, .." sapa Alea.
"Nek, ada tamu ..."
"Siapa Ar? Se -- sore ini, kita ga punya keluarga .. Apa jangan jangan mereka komplotan yang ..?"
Elea yang sadar, kedua orang di depannya risau ketakutan. Elea mengulurkan tangan dengan menscrool foto Bram.
"Maaf kedatangan saya mengejutkan. Tapi saya hanya mencari Bram Hartanto, saya tahu karena berita dengan anak siswa, bernama Arsen Khaimar tahu tentangnya! Saya mohon, beritahu dan saya bukan orang jahat!" jelas Elea sambil membuka ponselnya.
Arsen dan sang nenek yang sudah akan masuk ke dalam rumah, ia menoleh dan membalikan badan. Mendekat pada Elea dengan melihat sebuah gambar di ponselnya.
"Oh kak Bram, guru tiga bahasa. Justru karena kak Bram, kami berada di tempat baru ini. Masuklah kak! Dan saya adalah Arsen." ujar senyum anak itu.
Elea pun bernafas lega, akhirnya setelah penantian panjang. Ia kini berhasil mendapat titik terang. Jika selama ini, Bram kekasihnya selamat dari maut.
***
__ADS_1
Lain Hal Dengan Bram :
"Oliver!"
Bram, berteriak sejadi-jadinya, setelah berhasil melumpuhkan seluruh anggota genk Merah tanpa tersisa.
Sebagian dari mereka telah meninggal dunia dan sisanya mengalami luka berat, yang jikalau menjalani pengobatan pun, maka tidak akan bisa sehat seperti sedia kala.
Olive yang berdiri di sudut sana terlihat cengengesan, dengan kondisi pakaian yang masih bersih dan rapi. Berbeda dengan Bram, dari ujung rambut sampai kaki bermandikan darah dan keringat.
Olive melipat kedua tangannya, pandangannya dan Bram bertemu dalam garis lurus. Namun, pria di hadapannya itu segera memalingkan wajah, bergegas pergi dari tumpukan mayat yang mengelilingi dirinya.
Dengan sisa tenaga yang ada, Bram berlari ke rumah yang di dalamnya terdapat banyak nyawa yang harus diselamatkannya.
Olive hanya termangu sejenak, lalu menghela napas panjang, sebelum akhirnya berlari mengejar Bram, yang sudah lebih dulu pergi itu. Sepertinya Bram sudah tak sabaran, ia ingin segera berhasil menjalankan misi, dan tak ingin lagi di lebih dulukan oleh Olive.
Bram, mendatangi salah satu rumah bercat coklat kemerah-merahan. Dia langsung mendobrak pintu yang tertutup tanpa cela itu.
Tanpa pikir panjang, segera dia berlari menelusuri ruangan yang ada. Betapa terkejutnya Bram, saat mendapati terdapat sebuah penjara yang berisikan anak-anak di bawah umur.
"Anak-anak!" teriaknya.
Bram, berlari mendatangi penjara tersebut.
"Kalian tenang, ya. Kakak datang untuk menyelamatkan kalian! Kakak tahu dari salah satu teman kalian yang selamat, Arsen Khaimar." seru Bram, yang bertujuan untuk membuat anak-anak itu tenang dan tidak takut padanya.
Mereka sempat tidak ingin mempercayainya, atau mungkin sakin terlalu lama menghuni penjara itu dan setiap harinya selalu mendapat siksaan dari anggota Kura-kura Merah, sehingga sulit bagi mereka untuk percaya dengan orang luar.
"Sial! Aku tidak memiliki kuncinya!" Bram mengumpat kesal lantaran jeruji besi itu terpasang gembok, dan dirinya tidak memiliki kuncinya.
Tidak mungkin Bram pergi keluar, untuk mengambil kunci dari anggota genk Merah yang sudah dilumpuhkannya itu?!
Bram pun tidak kehabisan akal, dicarinya dengan segera benda berat yang dapat digunakannya untuk membuka gembok tersebut.
Badannya segera berputar mencari-cari benda yang mungkin dapat membantu. Tanpa menunggu lama, netranya segera menemukan sebuah balok seberat besi yang disinyalir digunakan untuk menyiksa anak-anak itu.
Segera Bram, menyambar balok yang diletakkan di sudut ruangan tersebut.
PRANGK ...
__ADS_1
PRANGK ...
Dia memusatkan seluruh tenaga yang tersisa pada balok tersebut, memukul gembok yang terkunci itu.
PRANGK ... "Aku pasti bisa, Ya! Pasti bisa membukanya." lirihnya.
PRAAAAAANGK ...
Suaranya yang nyaring membuat anak-anak di sana menjadi ketakutan. Mereka saling berpelukan satu dengan yang lain.
Bram, bisa melihat wajah-wajah ketakutan dari anak manusia yang tak berdosa itu.
PRAAANGK ...
Tepat pada pukulan ketiga, gembok itu berhasil terlepas dari rantai yang mengikatnya.
Bram, buru-buru menarik rantai tersebut dan membuka jeruji besi itu. Anak-anak yang masih saling berpelukan itu tampak semakin ketakutan, lantaran Bram yang bermandikan darah, berpikir kalau pria di depan mata adalah orang yang paling jahat dibandingkan anggota Genk Merah.
"Tenang anak-anak, jangan takut. Kakak datang untuk menyelamatkan kalian. Jangan takut, ya!" teriak Bram, bujuknya hati-hati.
Dirinya tidak memiliki pengalaman tentang anak-anak, sehingga tidak tahu bagaimana cara membuat anak-anak tenang dan mau mempercayainya.
"Kalian jangan takut. Kakak datang untuk menyelamatkan kalian. Kakak adalah orang baik. Percayalah pada kakak, ya."
Bram sebisa mungkin membujuk mereka untuk tidak takut, sambil mengulurkan tangan yang memang masih bersimbah darah itu.
"Apa kau berhasil menyelamatkan mereka?Apa ada yang terluka?"
Terdengar suara lain mengisi ruangan. Bram langsung berbalik badan dan mendapati Olive telah berdiri di depan penjara.
Dia pun akhirnya bisa bernapas lega, lantaran Olive datang di waktu yang tepat.
Pria itu memasuki ruang penjara. Penampilannya yang masih bersih dan rapi, membuat anak-anak yang ada di sana menjadi antusias.
Mereka langsung mempercayai Olive, dalam sekali lihat karena penampilannya itulah yang membuat mereka berpikir, kalau Olive adalah orang baik ingin menyelamatkan mereka.
Olive! terkekeh berusaha untuk tidak tertawa. Anak-anak itu ternyata lebih mempercayainya dibandingkan Bram, yang jelas-jelas telah bekerja keras untuk membuka penjara itu.
"Ayo, anak-anak! Kita keluar dari sini!" ajaknya begitu ramah, sambil menunjukkan senyuman terbaiknya.
__ADS_1
'Zzzzz .. Dasar utusan langit yang selalu, mengambil enaknya saja!' gerutu Bram, mengekor langkah Olive dan beberapa anak anak disandera lebih dulu, menuju arah luar.
Tbc.