
"Ngadi-ngadi itu orang, masa iya gue disuruh ke pemakaman. Cuma pengen jadi artis doang, kudu semedi sama nabur kembang di bawah pohon kamboja kembar," gerutunya tanpa henti.
"Lagian, ngapa juga gue pake kuliah jauh-jauh ke Belanda. Toh, kalau balik ke Indo juga mau apa urusan sama keramat. Masalahnya, ngapa gue nurut aja sih," dumalnya setelah sadar dia berada di tengah-tengah pemakaman.
Mengedarkan pandang berusaha mencari pohon kamboja yang dimaksud. Dia justru melihat pemandangan yang membuat jantungnya berdenyut.
Memperhatikan dengan lekat, mulutnya yang sedari tadi sangat lancar saat mengomel. Tiba-tiba menjadi kelu, persis sama seperti sebelumnya.
Pria itu beranjak meninggalkan pemakaman, dengan menggendong bocah kecil menggemaskan.
Setelah yakin pria tadi sudah pergi, wanita yang ternyata adalah Jingga dan Via yang menggerutu tadi itu. Melangkah menuju tempat Bram tadi, berdiam, menatap nisan dengan lamat-lamat.
Senyum Jingga mengembang, mungkin apa yang dia rasakan saat ini salah. Tetapi dirinya bersyukur sebab Elea, istri dari Bram Hartanto Sudah terbaring dengan tenang di alam akhirat. Tinggal ia menggapai hati Bram, sebagai gantinya dan hidup bahagia, bukankah mempunyai pasangan tajir melintir sudah jadi impian kaum hawa.
"Tenanglah wahai mantan saingan, aku akan menjaga suami dan putramu dengan baik," janji Jingga seolah sedang menatap Elea secara langsung.
"Tunggu, jadi kamu senang kalau Elea pergi, Jingga. Apa kematiannya saat itu ..?"
"Tutuplah mulutmu Via, bukankah kamu juga pernah jatuh cinta pada Bram. Ingat, Bram hanya akan jadi milik aku." celos Jingga, membuat Via ternganga. Beruntungnya saat mereka ke makam, Bram dan seseorang sudah pergi, sehingga tak dengar pembicaraannya saat ini.
***
Kediaman Keluarga Tjandra.
Dengan enggan Jingga pulang ke rumah yang menurutnya sangat tidak nyaman. Terlalu besar, terlalu mewah, terlalu megah. Dia benci semua yang serba terlalu, lagipula hawa rumah tersebut aneh menurutnya. Seperti menyimpan kebusukan yang sangat rumit dan besar.
Ingatan Jingga, pada Elea seolah membuat dendam. Jika bukan karena kesalahan, tidak mungkin ia menjadi anak keluarga yang selalu di nomor akhir, sehingga Elea selalu saja di prioritaskan.
"Dimana Jingga?"
Lamat-lamat Jingga mendengar ayah angkatnya dan abangnya tengah membicarakan dirinya.
Meski berkali-kali Tjandra, membenarkan panggilannya, Jingga kekeh memanggil dirinya dengan sebutan ayah.
__ADS_1
"Jingga sedang keluar, Pa," jawab abangnya, bernama Hamish.
Hasrat untuk menguping menggebu dalam diri Jingga, dibalik jendela.
"Bagus kalau dia tidak ada di rumah. Dia dan mama tidak perlu tahu tentang kehidupan Papa selama di sini," gumam Hamish. Ada sedikit rasa bersalah pada Miranti, almarhum istri keduanya.
Biar bagaimanapun, rasa cinta memang mulai tumbuh dalam hati Jingga untuk Miranti, ibu dari Elea. Jingga dan Elea adalah kakak beradik yang wajahnya mirip meski berbeda ibu, namun sebuah misteri perjanjian kala itu mereka menyerahkan salah satu anaknya pada keluarga Tjandra, sebagai pancingan keturunan Tjandra dimulai.
"Jadi, Tante Dayana ninggalin saham buat Bram. Terus Papa tahu dan Papa ambil dokumen itu dan disembunyikan?" sang kakak seolah memperjelas kebusukan papanya sendiri.
"Dan sekarang Bram benar-benar menjadi gelandangan tanpa memiliki private yang dulu dia agung-agungkan. Hahaha biar tahu rasa dia," gelaknya
Jingga yang mendengarnya tersentak mundur, dalam hati dia menyangkal. Niat hati ingin menemui Lena, endingnya ia tak jadi melangkah.
Bram yang ayah dan abangnya maksud, bukanlah Bram yang selama ini dia kenal.
Bram yang rela belajar siang malam, Bram yang rela bekerja sebagai pengantar makanan dan sambil kuliah demi bisa hidup di negara asing.
Bram yang memilih tinggal di kontrakan petak, daripada menyewa flat atau apartemen yang nyaman, mengalah untuk ibu tiri dan adiknya Hari. Berita sedikitpun tak pernah Jingga lewati soal Bram.
"Tapi, Miranti tetap ibu yang baik. Dia menyayangimu meski akhirnya dia tahu bahwa kamu anak kandung Papa dengan mamamu," kenang Tjandra. Beberapa kali dia mendapati Miranti yang terlihat murung dan merenung.
Namun, tetap tersenyum kala menyambut kedatangannya. Sungguh sekalipun Tjandra tidak memberikan ekspresi penuh cinta, tapi setidaknya dia memperlakukan Miranti dengan baik.
"Iya sih. Mama nggak tahu kalau Papa menikah lagi sama mama Miranti?" tanya Hamish melihat ibunya yang anti poligami. Jelas akan marah besar, ketika tahu suami yang sangat dia cintai membagi hati dengan wanita lain.
"Mamamu tidak tahu kalau Papa menikah lagi, yang dia tahu Papa sedang berusaha untuk menjadi orang sukses di sini. Kemudian Papa memboyong kalian ke mari setelah Miranti meninggal dan Papa menyingkirkan Bram."
Jelas sudah semuanya bagi Jingga sekarang, dia tahu kini. Hal apa yang membuatnya merasa tidak nyaman tinggal di rumah yang bukan dari hasil kerja keras sang ayah. Ya, hasil kerja keras memang. Hasil kerja keras menipu dan menyakiti orang lain, termasuk mamanya. Dan Jingga pernah dengar, jika ayahnya menghubungi seseorang untuk mencelakai sebuah mobil, pada saat Jingga berusia belasan, yang hingga saat ini Jingga masih selidiki.
Berlari naik ke kamarnya yang ada di lantai atas. Jingga mengobrak-abrik kamarnya, untuk menemukan apa saja yang menjadi penanda jika Bram pernah tinggal di rumah yang dengan tidak tahu diri dia tinggali.
Tidak menemukan apa pun di seluruh sudut dan penjuru kamar, Jingga beralih pada walk in closed yang tidak berhenti membuatnya berdecak kagum. Aura maskulin sangat kental dan terasa di sana, itulah kenapa dari semua kamar yang berjajar di rumah mereka. Jingga merasa nyaman di kamar tersebut.
__ADS_1
Saat memperhatikan dengan seksama isi di dalam walk in closed, ada sebuah laci kecil yang tidak terlalu terlihat di sudut kaca.
Kuncinya sangat unik.
Ketika membuka laci tersebut, Jingga semakin tidak bisa membendung air matanya.
Kenyataan tersebut benar-benar meremukkan hatinya tanpa sisa.
Takdir memang adil untuknya, ketika ayahnya mati-matian berusaha menyingkirkan Bram. Dia justru mengejar-ngejar pria itu seperti wanita murahan.
"Kamu lebih dari layak untuk ini Bram. Kamu jauh lebih dari pantas untuk ini," racau Jingga.
Dia merasa Bram tidak pantas diperlakukan sekeji itu, pemuda yang tidak pernah mengeluh. Meski harus bekerja tepat setelah pulang kuliah, sekaligus mengejar prestasi. Bahkan hingga kini, Jingga masih menunggu datangannya cinta tulus dari Bram, apalagi setelah kematian Elea.
Menyeret tubuhnya ke sudut walk in closed, Jingga meringkuk meratapi hidupnya yang menyedihkan. Andai saja ia dulu tidak dipisahkan, tumbuh bersama Elea. Ah! rasanya sulit, jika aku hidup bukan di bagian keluargaku yang asli.
Kenyataan sebesar ini, kenapa harus dia yang tahu?!
Jika Jingga mengatakan semua apa yang ia dengar. Tentu paman Reksa akan lebih murka, lalu keluarganya hancur.
"Dari awal, keluarga ini sudah hancur. Hanya aku yang merasakannya, sedangkan mama berusaha untuk menyangkal kehancuran yang terjadi. Aku tidak bisa tinggal di rumah ini lagi," rintih Jingga dengan rasa bersalah yang menggulung dirinya tanpa ampun.
"Ya ya. Aku harus pergi dari sini, apa pun akan aku lakukan agar aku terhindar dari karma yang akan menimpa keluarga ini." Jingga tidak membawa apa pun sebelumnya, maka jika dia keluar dari sini. Dia tidak akan membawa apa pun juga.
Menyeret langkahnya untuk keluar dari kamar yang dia yakini milik Bram sebelumnya, pasti akan mau menampungnya. Mungkin Jingga, akan datang ke paman Reksa meminta bantuan tinggal.
Satu foto masa kecil pria itu digenggam oleh Jingga, foto senyum lebar Bram yang tidak tahu jika kehancuran menantinya di depan matanya sendiri.
'Bram, aku akan melindungimu dari keluarga Tjandra. Aku tahu, dia adalah mertua adikmu Hari. Tapi aku tumbuh berada ditangan yang tidak tepat, bahkan hubungan kita aku ingin seperti dulu, kamu acuh seolah tak kenal.' batin Jingga, meraih tas jalan perlahan.
TBC.
Sambil tunggu Up! Yuks mampir temen litersi author.
__ADS_1