
Sementara di dalam kamar, Bram terlihat membuntuti keadaan adiknya itu. Bram, pun tak ingin Hari berkecil hati hanya karena keberadaan Bram, kembali di keluarga.
Bahkan Corp Gold Miror pun, Bram tak menyalahkan sepenuhnya Hari. Memang butuh ketelitian, kala Elea meninggalkan kantor itu, hanya karena Elea saat itu mengejar Bram. Dan Ryan, yang masuk dengan nama orang lain, tentu saja siapapun pasti kecolongan.
Hingga saat itu, Bram menatap inggrid sang mama. Bram, juga meminta mamanya itu mempercayakan padanya soal Hari, bahkan ia ingin merangkul Hari untuk tidak marah atas perlakuan sang papa. Bagaimanapun Hari, tetaplah adiknya dan salah satu pewaris keluarga Hartanto juga. Hanya karena kehebatan, terlihat paling pintar, Bram tak ingin dirinya dan Hari bermasalah karena soal pengakuan waris, dari papanya.
Sssstt! Terlihat Bram, memberikan telunjuk pada ibunya, bermaksud Bram adalah mendengarkan pembicaraan Hari dan temannya itu. Sehingga Elea mengajak ibu mertuanya itu ke tempat lain dan berbincang bincang, seolah mencari perhatian lain.
"Lo harus hati-hati Hari, gue punya feeling kalau kakak Lo. Lebih dari yang kita kira selama ini. Ingat apa pun yang terjadi nanti, kita semua di sini buat lo," pesan Robi. Sahabat Hari, yang selama ini selalu perduli padanya.
"Dah lah, kita cabut sekarang!" ujar Hari, yang ingin melampiaskan kemarahannya dengan hobinya dulu, yakni balapan liar.
Hingga beberapa saat mereka keluar, Bram pun turut membuntuti sang adik, sampai di tempat aksi balapan dengan keramaian. Tentu saja kala itu, Bram mengubah penampilannya sama persis mirip anak muda balapan motor. Dengan penutup masker dan topi gaulnya.
Balapan sudah berlangsung, Hari sendiri tidak perduli. Dia memilih terlentang di atas motornya yang terparkir, menatap langit malam. Menghitung jutaan bintang, mengangkat telunjuk dan ibu jarinya.
Dia tersenyum ketika ada satu bintang paling terang yang seolah terperangkap di jarinya.
'Papa tidak membencimu, Nak. Dia hanya ingin kamu seperti keinginannya kuat dengan nama lanjutan yang disegani, demi Mama bersikap baiklah ya!' inggrid, disebelah Elea di ujung dalam mobil, menatap Hari anaknya itu. Ia memang sosok seorang ibu yang luar biasa bagi Hari, karena kesalahannya dulu yang tak baik pada Bram, membuat Inggrid menyesal akhir akhir ini disadarkan.
Mengingat sang mama, jantung Hari yang ingin balap liar, seperti diremas. Bergegas menstarter motornya, dia melaju dengan kecepatan tinggi untuk pulang, setelah ia balapan liar dalam beberapa jam. Tanpa tahu, disana ada Bram yang ikut aksi motor besar dibelakang Hari, menyamar sebagai teman Genk nya tanpa disadari Hari, tentunya.
Hingga beberapa saat kemudian, setelah Bram tahu Hari akan pulang, ia lebih dulu pergi menuju mobil membawa Elea, dan mama inggrid sampai rumah. Sebelum Hari di rumah.
***
__ADS_1
Setelah sampai di depan rumah besarnya, Hari mengerem motornya sampai menimbulkan bunyi decitan keras.
Ada yang aneh dengan suasana rumahnya, rumahnya masih sama persis seperti ketika dia tinggal pergi. Tetapi ada yang hilang, ada yang kosong di sana.
Langkah kaki Hari juga terasa berat, meski demikian dia berjuang untuk masuk ke dalam rumah. Yang semakin dekat semakin menimbulkan nyeri yang menghentak langkah kakinya saat itu.
Sampai di ambang pintu, kakinya seolah membatu. Dia ambruk tanpa mampu untuk menangis.
Hari, tidak menyerah, dia menyeret tubuhnya perlahan. Rasa sesak yang menghimpit hatinya terasa semakin memuakkan. Air mata mengalir tanpa mampu dia tahan. Saat sampai di rumah, pemandangan foto dan banyak orang membuat kakinya tanpa tulang melangkah.
Semua orang yang ada di sana terdiam, tidak mampu mengatakan apa-apa.
"Hari, yang kuat ya." Seorang wanita yang menjadi pengawal kemanapun Hari pergi, berupaya menenangkan diri. Ia adalah Kristal, yang tiba saja muncul seolah sok tahu akan keadaannya sekarang. Hari juga bingung, kadang Kristal bagai penolong kadang juga bagai api memanas manasinya.
Tetapi kali ini mata Hari tak tertahan, ketika ia datang menjelang pagi. Bahkan Bram yang menghubungi Hari, saat itu di reject berkali kali. Dan kali ini ia amat menyesal.
"Ma-ma, Hari pulang seperti mau Mama. Hari tidak telat Mama," bisiknya monoton.
Isi kepalanya riuh dan penuh oleh semua kilasan tentang ibunya, seharusnya dia tidak pergi meninggalkan ibunya, sejak malam perdebatan itu.
Seharusnya Hari ada di rumah menemani ibunya.
"Jangan sentuh istri, Saya." Reksa geram melihat Hari, yang memeluk erat jenazah Inggrid.
"Biarkan Hari memeluk Mama, Pa. Mama suka dipeluk Hari," rengek Hari memilukan.
__ADS_1
"Kamu yang membuatnya meninggal," geram Reksa Hartanto, hampir melerai pelukan erat Hari, bahkan Elea dan Bram ikut menahan air mata, tapi tumpah juga.
"Nggak! tadi Mama baik-baik saja. Mama sehat, iya kan Ma. Hari cuma pergi sebentar Ma, Hari nggak ikut balapan lagi kok. Hari cuma suntuk soalnya Papa nggak perduli sama Hari. Hari iri sama kak Bram, MAMA BANGUN, HARI JANJI NGGAK AKAN NAKAL MA," raungan Hari, menimbulkan rasa sesak bagi seluruh penghuni rumah. Terutama para pekerja yang memang tahu bagaimana sifat tuan mudanya sedari kecil.
Bram, menatap dari kejauhan, siapa yang tidak tahu jika pemuda itu tidak menyukai ibu yang selalu bertingkah konyol, tapi kala ibunya sadar malah Hari, lah yang salah mengartikan sikap papanya yang tegas akhir akhir ini.
Sedangkan Reksa Hartanto, sama sekali tidak tersentuh dengan tangisan Hari, ia kecewa pada anaknya itu yang konyol seperti dulu jadi berandalan, ketimbang menyelesaikan perusahaan yang goyah karena ulahnya.
"Pergi kamu dari sini! Kematian Inggrid itu karena ulahmu." Reksa mengusir Hari, meski istrinya masih belum dimakamkan. Dia muak menatap pemuda yang dianggap sudah membuat istrinya meninggal.
"Nggak! Hari mau sama Mama, Hari nggak mau ninggalin Mama," tolaknya dengan keras kepala.
Reksa, menarik kerah kaos yang dikenakan oleh Hari lalu akan meninju wajah pemuda itu. Akan tetapi ditahan oleh Bram, agar sang papa tidak emosi dan malu dilihat banyak orang, meski hanya para pekerja saja.
Pekikan nyaring seluruh pekerja tidak mampu membuat Reksa Hartanto, menghentikan kemarahannya.
Hari, sendiri sudah mati rasa, hatinya jauh lebih sakit ketimbang fisiknya. Kehilangan sosok ibu yang selama ini melindunginya, lebih dari mampu membuatnya mati rasa.
"Bunuh Hari, Pa. Biar Hari bisa ikut mama, papa punya orang yang kuat, maka suruh saja meraka Pah!" lirihnya dengan pilu memicu tangis seluruh pekerja di sana.
Bahkan beberapa pelayat dari kolega yang baru tiba, Bram tidak mampu membendung tangis mereka. Karena sang papa bertengkar menyalahkan Hari lagi.
"Pah, sudah cukup menyalahkan Hari. Bagaimanapun semua takdir, bukan salah Hari. Jangan menyalahkan Hari lagi, keberadaan Bram, bukan ini yang kita inginkan."
"Dulu kau terusir, hidup nyaman bertukar Bram. Jadi usir adikmu saat ini!" teriak Reksa, lalu mendekat ke arah Inggrid yang sudah ada di peti jenazah.
__ADS_1
Hari terhenyak, sesak nafasnya. Meski kala itu Bram, meminta Elea untuk membujuk Hari tidak keluar dari rumah. Bram juga merasa bersalah, harusnya ia melarang inggrid pergi semalam itu membuntuti Hari, yang Bram tidak tahu jika ibu tirinya itu sedang menahan sakit.
TBC.