
Saat itu, Olive pergi begitu saja tak menjawab pertanyaan akhir Bram. Bram yang memutari langkah kebingungan, ia terperanjat akan jendela seputih awan. Hingga menampaki ujung, terlihatlah itu awan tebal seolah dirinya diatas ketinggian 5000 kaki atas langit. Ada lagi lapisan awan yang tebal dan amat jelas.
Mungkin yang phobia ketinggian akan pingsan, untungnya Bram tidak phobia ketinggian, jika ia phobia mungkin bisa mati tiga kali! Hyaks.
Hingga saat jenuh si utusan langit tak nampak, ia menoleh dan kaget akan sesuatu mengejutkan.
"Astaga! Tuan membuatku terkejut saja. Selalu ... saja muncul secara tiba-tiba. Tuan ini hantu atau manusia, kenapa kalau muncul selalu saja mendadak? Membuat jantungku menjadi tidak baik-baik saja," gerutu dan protes Bram sambil mengelus-elus hatinya akibat terkejut akan kedatangan Oliver yang sudah seperti Jelangkung saja.
"Ngapain Tuan di sini?" hardiknya kemudian.
Olive pun ditanya menunjukkan ekspresi datar, seperti yang dirinya lakukan setiap harinya.
"Apa lagi kalau bukan memantau perkembanganmu." balas utusan langit.
"Perkembangan diriku?" ulang Bram sambil menahan diri untuk tidak mengumpat dan terbangun dari posisi duduknya.
"Ya, perkembanganmu. Setiap saatnya aku harus melaporkan perkembangan dirimu pada Raja Langit, agar nantinya ia memutuskan dirimu layak atau tidak untuk naik ketahap selanjutnya," beber Olive, selaras dengan ekspresinya yang datar-datar saja.
"Ah, jadi untuk bisa naik pada tingkat selanjutnya harus mendapatkan persetujuan dari Raja Langit?"
"Ya, benar sekali," sambar Olive cepat, lalu ia menjulurkan tangan dan mengibaskan kipas segede gaban di depan Bram.
__ADS_1
Bram pun menelan ludahnya berat-berat, hampir saja ujung kipas itu mengenai pipi kulit wajahnya yang mulus. Dan ia segera menanyakan lagi saat itu juga.
"Dalam artian, kalaupun aku berhasil mendapatkan Poin Kemenangan sesuai Level pun, belum tentu naik ke tingkat selanjutnya, begitukah?" kemudian tanya Bram ragu-ragu.
Olive mengangguk, sambil mengerjapkan matanya, "Ternyata dirimu pandai menelaah juga ya. Poin plus untukmu, setidaknya aku tidak perlu repot-repot menjelaskan panjang kali lebar untuk masalah ini."
Olive pun dengan enteng menjawabnya. Sementara itu, Bram terkesiap. Dirinya yang sejak awal sudah pusing dengan sistem-sistem seperti ini, pun dibuat semakin sakit kepala lantaran penjelasan Olive yang seolah langsung menjatuhkan mentalnya, sebelum bertanding.
Olive mendapati perubahan sikap Bram yang semula murung, kini semakin pucat pasif itu, merasa tidak peduli sama sekali. Sebagai Utusan Langit, tak diharuskan baginya untuk menaruh rasa iba pada manusia.
Setelah selesai menyampaikan pesannya, Olive sudah berbalik badan dan hendak meninggalkan kamar yang ukurannya hanya 3×3 itu.
Pertanyaan tersebut nyatanya berhasil menghentikan langkah Olive. Dia segera berbalik badan dan mendapati Bram tertunduk dengan buku catatannya yang telah ditutupnya.
Olive sudah membuka mulutnya dan siap untuk mengeluarkan ceramahnya, tapi belum sempat kalimatnya dikeluarkan, Bram sudah lebih dulu berkata.
"Kalau begini jadinya, mengapa Raja Langit memberikanku kesempatan hidup kembali?"
Bram mengangkat kepalanya, menjatuhkan pandangan pada sosok pria berdiri beberapa meter darinya. "Kenapa tidak, saat mobilku terjun ke sungai, Raja Langit mengambil nyawaku? Mengapa harus dibangkitkan lagi?"
"Bukankah urusan duniamu masih banyak hutang dan janji, kau ingin menikahi wanita dan membuat papamu bangga. Terlebih adikmu! Yang tidak satu ibu itu. Ia akan hilang arah, karena ibu tirimu ingin menguasai kekayaan milikmu dan papapmu! Hari tidak bisa diandalkan, ia terlalu penurut dan takut pada ibunya. Tapi jika kau ikhlas, maka aku bisa bernego pada Raja Utusan Langit." ujar Olive.
__ADS_1
Bram, yang semula tenang-tenang saja, kini tidak dapat kendalikan emosinya. "Sistem apa ini, yang tingkat kenaikannya harus ditentukan? Bagaimana bisa Raja Langit menciptakan sistem yang membebankan pemainnya? Apalagi di ingatkan tentang keluargaku yang kacau. Bisa bisanya dia menjabarkan semua tentangku tahu." lirih Bram.
Nada suaranya mulai bergetar, bersamaan dengan emosi yang kian tidak beraturan, akibat pagi-pagi sudah mendapatkan kejutan yang tak terduga dari Olive.
Sementara itu, laki-laki dewasa yang memiliki nama lengkap Oliver Kristalion itu, masih tampak tenang. Meskipun Bram yang terus berceloteh ke sana kemari.
Olive seolah menutup telinganya rapat-rapat, membiarkan Bram, lebih dulu mengeluarkan seluruh unek-uneknya, setelah semuanya keluar, barulah dirinya mengambil tindakan selanjutnya.
Menurut sudut pandangnya sebagai Utusan Langit, bahwasanya masih sangat wajar kalau manusia mengeluh disetiap kesempatan yang ada karena pada dasarnya, manusia memang lebih banyak mengeluhnya dibandingkan tindakannya.
Hampir lima belas menit Bram berceloteh banyak hal. Mulai dari keluh kesah tentang kehidupannya yang susah dan kini semakin susah. Lalu, penyesalannya di masa lampau karena tidak mampu mewujudkan mimpi kedua orang tuanya dan yang terakhir adalah berceloteh tentang wanita, ingin menikahi Elea dan melamarnya gagal karena ia telah kecelakaan lebih dulu.
Kalimat-kalimat terakhir Bram malah sama sekali tidak ditanggapi Olive. Seperti ucapannya itu masuk telinga kiri dan keluar dari telinga kanan.
Dirinya terlalu malas untuk menanggapi soalan tentang wanita. Apa lagi masalah percintaan, Olive merasa jijik, jikalau melihat manusia yang menangis apa lagi sampai mengakhiri hidupnya hanya karena putus cinta. Apalagi jika Olive bukanlah manusia, perasaannya tidak memiliki magnet cinta. Tapi hanya magnet belas kasih, akan tugasnya dari Raja Utusan Langit.
"Apa kau sudah selesai dengan ceritamu?" tanya Olive, yang berhasil memecahkan keheningan di sana.
Hal itu membuat Bram menggeleng kepala, karena mahluk di depannya begitu tega tidak merespon keluhannya.
Tbc.
__ADS_1