Pengantar Box Jutawan

Pengantar Box Jutawan
MATI HIDUP LAGI


__ADS_3

"Beginikah rasanya kematian?"


Bram, merasakan pandangannya perlahan-lahan mulai gelap, sejak awal memang sudah gelap. Baginya penglihatan terakhirnya adalah gadis berkacamata hitam dengan tongkat sebagai penunjuk jalannya.


"Benarkah tidak ada lagi penyesalan?"


Bram rasanya ingin tertawa karena merasa bodoh. Mengingat apa yang sudah dirinya lakukan di markas Organisasi Naga Buaya sebelum akhirnya jatuh ke sungai? Sudah benarkah tindakannya itu atau mendatangi markas Organisasi sebelum waktunya, adalah kebodohan?


"Kau memang manusia yang bodoh!" seru suara lain yang terdengar samar-samar.


Bram, tersadar bisa membuka matanya dan mendapati dirinya sedang terbaring sambil menatap langit penuh bintang.


"Inikah yang namanya surga? Apakah suara yang kudengar tadi, adalah malaikat?"


Bram, tidak bisa percaya. Dia berusaha mengubah posisinya menjadi duduk, tetapi seluruh tubuhnya terasa sakit dan sulit untuk digerakkan. Bram yakin kalau dirinya telah tewas dan tempat ini pun terasa asing baginya. Mungkinkah surga berbeda dari yang dikatakan dalam buku-buku agama?


"Ini bukanlah surga bodoh!"


Bram, dapat mendengar jelas suara seseorang yang mengumpat kesal. Suara yang sama yang didengarnya beberapa detik lalu, sebelum membuka mata.


Dia mengangkat sebelah tangannya, masih terdapat luka bekas tembakan yang diterimanya saat hendak menghindari kejaran Organisasi. Masih hangat dalam ingatannya orang-orang yang mengepung dirinya dari empat penjuru mata angin. Tak ada sedetik pun bagi Bram untuk menarik napasnya lantaran serangan datang bertubi-tubi tanpa adanya jeda.


"Letak lukanya masih sama seperti yang terlihat terakhir kali. Kalau begitu artinya, aku belum mati dan tempat ini bukanlah surga?" pikir Bram menelaah.


"Siapa yang mengatakan bahwa kau sudah mati, bodoh!"


Kembali terdengar suara umpatan. Kini semakin jelas seolah-olah ia yang berbicara itu ada di depan mata.

__ADS_1


Bram, jadi penasaran dari mana sumber suara itu datang dan siapa yang telah mengatakan 'bodoh' berulang kali tersebut?


Ketika hendak mengubah posisi duduknya, sebelum itu Bram berbalik ke belakang, saat berbalik kembali pada detik itu juga sesosok pria berjas hitam dengan celana hitam muncul di hadapan Bram.


"Boom!" Ia bersuara cukup tinggi, dilakukan guna mencipta kesan kejutan bagi Bram. Hasilnya sangat memuaskan, pemuda dua puluh tujuh tahun itu terkejut bukan main.


"Astaga!" Bram, mengelus-elus hatinya saking terkejutnya. Sebelum dirinya berbalik badan tadi, pria tersebut belum ada, tapi kenapa saat ke posisi semula ia langsung muncul tanpa tahu darimana datangnya.


Andai saja penampilan pria misterius tersebut tidak rapi layaknya pengusaha, ada mungkin besar Bram sudah meneriakinya maling atau setidaknya perampok. Bahkan bisa jadi langsung melawannya dengan segenap tenaga yang ada.


"Siapa kamu? Mengapa kamu datang tiba-tiba di depanku? Membuat orang jantungan saja, untungnya aku tidak memiliki riwayat jantung," seloroh Bram, agak mengerucutkan bibirnya.


Bram ingin sekali beranjak bangun, tetapi tubuhnya masih terasa sakit dan sulit untuk digerakkan sepenuhnya. Sementara, pria yang muncul entah darimana itu menarik dirinya menjauhi Bram, tidak seperti sebelumnya yang mencongok tepat di depan wajah Bram.


"Perkenalan namaku Oliver Kristalion. Panggil saja aku Oliv. Aku adalah utusan dari Langit, datang ke Bumi membantu mereka yang mendapatkan takdir Langit untuk menjalani kehidupan kedua," akunya singkat, jelas dan padat. Langsung pada intinya.


Bram rasanya ingin tertawa setelah mendengar pengakuan bodoh dari pria yang juga penampilannya sangat mencolok. Dirinya memandang pria bernama lengkap Olive itu dari ujung rambut sampai kaki, menelaah benda-benda yang menempel pada tubuh pria yang mengaku sebagai utusan Langit tersebut.


Kacamata hitam, jas hitam, celana hitam, sepasang sepatu hitam dan payung yang juga berwarna hitam.


"Hei, Tuan! Menurutku, Anda lebih pantas disebut tukang pijat keliling dibandingkan dengan Utusan Langit!" seru Bram bernada ejekan.


Pikirannya memang sempat melalang buana, berfantasi benar-benar membayangkan bahwasanya pria dihadapannya memang utusan Langit. Namun, setelah kesadarannya kembali, maka pengakuan itu seperti isapan jempol belaka baginya.


Olive menautkan kedua alisnya, sambil membuka kacamata hitamnya dan berkata


"Tukang pijat? Apa itu? Manusia seperti apa dia? Sampai-sampai kau berani menyandingkan diriku yang adalah utusan Langit dengan manusia bernama Tukang pijat itu? Bukannya aku tidak mengenal, tapi diriku biasa menangani takdir manusia yang berada di kelas atas. Dengan bantuan system kau dapat hidup keduakalinya dengan batas kemampuan luar biasa."

__ADS_1


Kini giliran Bram yang dibuat terkejut, mulutnya bahkan sejak tadi tidak mau tertutup rapat, tapi kalau boleh jujur dirinya sudah dikejutkan berkali-kali, mulai dari Olive mengenalkan nama, lalu menyebutkan diri sebagai utusan Langit dan yang paling mengejutkan adalah kalimat terakhirnya, 'Membantu Mereka Yang Mendapatkan Kesempatan Kedua'. Bram, seperti sedang mendengar dongeng yang biasa dibacakan ibunya sebelum tidur.


Bram mendongak, pandangannya jatuh pada pria yang sedang menunjukkan senyuman penuh kemenangan itu.


"Tidak usah repot-repot menunjukkan ekspresi terkejut seperti itu. Aku sudah bisa membaca pikiranmu."


Kejutan tidak berakhir sampai di sini saja. Olive pun menjentikkan jarinya beberapa kali. Sebuah benda persegi yang bentuk dan lekukan sama persis seperti buku itu, hadir begitu saja di tangan Olive. Munculnya benda persegi tersebut layaknya magic yang biasa ditunjukkan para pesulap.


Bram terbelalak, mulutnya terbuka lebar, dia sulit mengeluarkan kalimatnya karena tercekat di ujung tenggorokan.


Olive memamerkan buku dengan sampul berwarna coklat kayu itu dan terdapat tulisan aksara kuno di bagian depan sampulnya. Sayangnya Bram, tidak bisa mengartikan tulisan tersebut.


Olive menimang-nimang buku tersebut di tangan kanannya, lalu tangan kiri mulai membuka halaman pertama bukunya yang entah berisikan kalimat apa di dalamnya.


"Bram Hartanto," sebut Olive, pada detik saat halaman pertama dibukanya.


Sementara sang pemilik nama semakin tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya lantaran tidak menduga, bahwasanya pria di hadapannya sekarang ternyata mengetahui nama asli dirinya. Mungkinkah buku tersebut sudah tertulis namanya? Tebak Bram.


"Bram Hartanto," ulang olive sambil melirik pemilik nama yang baru saja disebutnya.


"Bram Hartanto, lahir di Hawai, 17 Maret 1994. Waktu kematian, Hari Selasa, tanggal 12 Oktober 2022, pukul 17:15. Meninggal karena mobil menabrak pembatas jembatan dan akhirnya terjun bebas ke sungai," selorohnya sambil beberapa kali mencuri pandang.


"Pemicu kecelakaan disebabkan mobil yang mengebut. Saat sudah berada di puncak jembatan, mobil oleng karena salah satu tangan terkena peluru. Lalu, banting stir ke kanan saat seorang wanita hendak menyebrang. Namun, ada pengendara lain di depan, hasilnya mobil pun oleng ke kiri dan terjun ke sungai."


Olive pun menutup buku setelah selesai menyampaikan kata demi kata yang tertulis di dalam buku tersebut, membuat Bram masih cengok tak bisa berfikir.


Tbc.

__ADS_1


__ADS_2