
'Cih! Dia pikir suaranya berteriak-teriak di telepon aku ga dengar apa?' bisik hati Bram, tapi dia tetap tenang. Tak juga menyindir Jingga berharap pintu tertutup Jingga sadar.
"Aku rasa hidupmu saja yang masalah!" tambah Bram lagi sambil mengubah posisi tangannya bersedekap.
‘Sial, dia benar! Memang hanya aku yang ada masalah. Tapi apa yang harus aku lakukan supaya ini terlihat urgent juga untuknya?’
Jingga tahu setiap orang tidak akan mau melakukan sesuatu kalau memang tidak ada keuntungan bagi dirinya. Apalagi sekarang permintaan Jingga ini sesuatu yang lumayan menantang. Apa kira-kira yang bisa membuat Bram setuju untuk membantu menjadi kekasih pura-puranya?
"Bram, ayolah diluar kontestan aku tahu hidupmu sebagai seorang laki-laki yang menyukai laki-laki lain, ini berbeda! Aku tahu kau begitu mencintai Elea, tapi aku mohon bantu aku kali ini!"
"Memang apa lagi?"
Jingga baru mulai bicara, sudah dipotong. Gemas juga dirinya mendengar jawaban Bram. Sehingga Jingga berusaha mendinginkan otaknya, masih dalam posisinya yang duduk di tempat tidur, karena Jingga tidak mungkin berdiri dengan kondisi dia tidak memakai apapun. Hanya kemeja Bram, tanpa dalaman.
"Dengarkan aku dulu jangan potong ucapan ku, Bram, anggap aku wanita bayangan, jelas aku tidak ingin dinikahi pria lain, hanya satu yaitu kamu Bram. Maafkan kesalahan aku dulu, please!"
__ADS_1
Jingga merenggut, dia ingin Bram tahu alasannya, kemungkinan ini adalah penawaran yang seharusnya dianggap luar biasa oleh lawan bicara Jingga.
"Kau tidak menyukai Wanita. Bukankah dengan kau menjadi kekasihku ini bisa menjadi kamuflase? Kau bisa melindungi jati dirimu sendiri dan orang-orang tidak akan menganggapmu aneh dan membencimu. Hanya karena, maaf ditinggalkan seseorang yang kamu cintai."
"Aku sudah tidak peduli! Aku bangga menjadi diriku sendiri seperti ini! Terserah orang mau bilang apa."
‘Ya ampun ternyata dia punya pride. Bagaimana ini?’ lagi Jingga harus mencari urgensi yang lebih menantang untuk Bram mau menerima tawarannya. Berpikir keras, makin ngepul otaknya.
"Kau mungkin tidak apa-apa! Itu hanya sesaat, sekarang saja, Bram!" sentak Jingga dengan matanya melotot menatap Bram.
'Keren kan alasanku, touching banget pasti!'
Jingga sangat pede! Ini adalah sebuah alasan yang masuk akal bukan? Keluarga adalah satu-satunya hal yang paling penting dan akan mendapat sorotan terbesar, termasuk mendapat hujatan terbanyak dari orang-orang di sekitarnya di saat seseorang mengakui dirinya menyimpang, ini akan mempengaruhi nama baik keluarga.
Tapi apakah ini masalah urgent untuk Bram?!
__ADS_1
"Aku tidak masalah, kok! Aku tidak punya keluarga lagi yang harus aku pikirkan. Aku hidup sebatang kara! Lagian, seluruh Indonesia tahu kayaknya aku bukan pria biasa." Bram merespon dan menahan senyum smirk.
"Kau tak tahu kah kalau aku ada kasus video yang membuka jati diriku beberapa tahun lalu?"
‘Sial sial sial! Begitukah kenyataannya? Owh, Ony, kenapa kau tak ceritakan latar belakang keluarganya? Dan kenapa aku bisa lupa gosip yang dibilang Ony!’
Jingga seperti kehilangan kata-kata, tidak ada yang urgent buat Bram. Dia tak malu dengan dirinya yang sekarang, tak juga terbebani dengan orang tua. Bram saat ini malah tersenyum, entah apa maksudnya Jingga tak tahu.
"Aku bisa membayarmu, Bram. Hmm, mungkin kau butuh uang tambahan? Kau sudah ga kerja kan di perusahaan dulu?" Jingga hopeless, menawarkan uang adalah solusi terakhir.
"Bodoh, kau lupa aku seorang bos dan usahaku banyak. Lebih baik kau keluar, kau pilih mau eliminasi, dan aku tidak akan membantu hal konyolmu. Kau lupa, orang terakhir yang pergi dari kamar ruang sakit Elea koma?" unjuk Bram, pada Jingga ke arah pintu agar Jingga keluar.
"Baiklah, tapi tidak semua yang kamu pikirkan, akulah peyebab Elea mati Bram." kesal Jingga, berlalu pergi begitu saja.
"Dasar wanita aneh." lirih Bram menutup pintu keras. Lalu Bram, menghubungi Kenan untuk datang ke tempatnya.
__ADS_1
TBC.