
Elea, ia sudah menampilkan kebaya anggun berwarna putih gold, dengan renda ukiran yang tak biasa tentunya, ada hal yang membuncah pikiran Elea, kenapa Bram disampingnya, berbeda tirai tak bersuara dan biasanya para laki laki yang ketika calon pengantin mencoba gaun, ia akan masuk dan merangkul dari belakangnya diam diam! Hal itulah yang di pikirkan Elea, di saat menonton Drakor.
'Bram, karena kamu sedingin es dan tidak playboy. Kenapa aku takut kamu digaet wanita lain, apalagi kekayaanmu unlimited, meskipun aku tahu dan memegangnya sebagian. Tetap saja, kenapa aku was was.' gumam Elea.
Elea pun keluar, lalu dua orang karyawan fitting senyum, dan Elea bertanya kala itu. Kemana pria yang bersamanya, yakni calon pengantin pria yang bersamanya tadi.
"Mbak, pria yang di samping kemana ya..?"
"Owh, Tuan Bram. Tadi ada seorang pria bernama pak Olive, ia memberikan sebuah kertas ini Bu." ujar Citra, salah seorang karyawan memberikan surat.
Elea ada rasa ragu ragu, ketika surat berwarna merah bergaris hitam itu ia buka, Elea baca dan terkejut ketika itupun ia meminta dibukakan kebayanya.
"Tolong bantu lepas gaun kebaya saya! saya harus ke suatu tempat!" cercah Elea, dengan mata yang menyala menahan air mata.
Karyawan itu pun menurut, setelah saling pandang! Elea meminta fitting ulang ke mansion calon mertuanya nanti, dan akan dihubungi lagi nanti.
Elea berlari, ia menuju mobil SUV putih, yang terlihat dari kaca itu adalah Tuan Olive, yang menatapnya agar cepat.
***
Sementara Di Tempat Lain :
"Ayo, jalan!" seru pria yang memegangi tangan kanan Bram.
Pemuda itu menoleh ke kanan karena matanya yang tertutup, dirinya tidak bisa melihat pria itu. Namun, dalam hatinya dia mengumpat kesal.
Bram pun mengikuti arahan dari para pria itu, meskipun harus tertatih-tatih lantaran matanya tertutup kain.
"Hei, kalian! Sebenarnya kalian ingin membawaku kemana?"
"Diam dan ikuti saja!" teriak pria yang mengekor di belakang. Hanya ia yang berjalan sendiri tanpa memegangi pemuda itu.
Bram diam. Indra penciumannya seketika bereaksi saat aroma busuk menyeruak seisi ruangan. Hidungnya yang sensitif seketika mendorong lambungnya untuk memuntahkan isi perutnya kembali.
__ADS_1
"Ayo, cepat bawa dia masuk!" perintah pria itu.
Keempat pria lainnya mendorong Bram untuk masuk ke ruangan yang di dalamnya sudah ada beberapa pria lainnya yang juga berkepala plontos, tato sepasang kapak di lengan kanan dan pelipis mata.
Tubuh Bram, dibanting ke lantai. Dirinya kalang kabut karena masih belum bisa melihat situasi sekitarnya. Ada di mana dirinya dan siapa saja yang berada di dekatnya? Dirinya tidak tahu.
"Dia anggota baru di sini. Cepat, cukur habis rambutnya!" perintah ia yang paling berkuasa di antara lainnya, saat itu Bram mulai merasa emosi kala rambutnya diperintahkan agar dicukur habis, Bram batinnya juga memberontak.
'Apa, cukur habis rambut?'
Bram masih tidak yakin dengan apa yang didengarnya. Namun, belum sempat dirinya percaya, tubuhnya sudah lebih dulu ditarik oleh seseorang yang jelas tidak tahu rupanya itu.
"Apa yang ingin kalian lakukan?"
Teriakannya malah memantik tawa semua orang yang ada di sana. Bram, bisa mendengar jelas mereka sedang merasa senang. Dia diam. Pasrah.
Tidak lama kemudian, terdengar suara mesin yang cukup kencang. Bram semakin memberontak ingin dilepaskan. Namun, pria-pria yang memegangi kedua tangannya memiliki tenaga yang besar, sehingga dia tak mampu melawan. Perlawanannya seolah tidak ada apa-apanya.
Bram, bisa merasakan rambutnya ditarik dan suara mesin itu semakin keras terdengar. Sekarang dia bisa menebak, itu adalah mesin pencukur rambut.
Dirinya memberontak. Tubuhnya bergerak kesana-kemari, tetapi perlawanannya seolah-olah sia-sia saja. Dia merasakan rambutnya terpotong secara paksa.
Mereka yang ada di sana menertawakan pemuda itu. Kepalanya mulai kehilangan rambut. Bram akhirnya pasrah dan harus tetap tenang untuk menghadapi situasi sekarang.
Beberapa menit kemudian, Bram benar-benar kehilangan rambutnya yang berharga.
Setelah kepalanya plontos barulah kain hitam itu dibuka. Akhirnya Bram dapat melihat kembali. Dipandangnya satu persatu orang-orang di depannya.
Kedua tangannya mengepal. Rasanya ingin meninju mereka sampai tidak berdaya. Namun, ini bukan saatnya memulai peperangan. Jalannya saja bahkan belum terbuka.
'Baiklah. Aku harus sabar,' batinnya menatap nanar wajah-wajah sangar anggota Genk yang Bram rasa, ia adalah tetua tertinggi di atas atap mengintipnya dari bawah.
'Sabar, Bram. Bertahanlah beberapa jam ini. Setelah dirimu menemukan ketua mereka, maka mereka tidak akan ada lagi di dunia ini! maka aku akan menyeret anggota berseragam yang maunya menerima suap, tapi tak bekerja. Haruskah aku menjadi aparat tertinggi, agar memusnahkan mereka di depanku ini yang licik.' batin Bram bergumam.
__ADS_1
Tentunya dia mengatakan itu semua di dalam hatinya. Bram ingin mengumpat dan mengutuk mereka yang sudah menghilangkan waktu berharganya. Namun, sekali lagi, dirinya harus menahan ledakan emosi, agar tidak menciptakan peperangan, sebelum bertemu tetua tertinggi.
"Sekarang kau sudah resmi menjadi anggota kami jika kamu mau, menuruti apa yang aku perintahkan!" kata pria yang sedari tadi hanya diam menonton saja.
Bram mengangguk, "Jadi, apakah aku sudah bisa bertemu dengan ketua kalian? Bukankah setiap anggota baru harus dipertemukan dengan ketua?" bujuk Bram, yang mempunyai siasat.
Dia memancing dengan kata-kata menjerumus karena inilah yang sudah ditunggu-tunggunya.
"Belum bisa! Kau masih belum memenuhi syarat untuk bertemu dengan ketua!" tegas pria itu kembali.
Bram menganga lebar, sulit dipercaya, setelah apa yang telah diterimanya, dirinya masih belum memenuhi syarat untuk bertemu ketua tertinggi, entah saat Bram kehilangan tenaganya!! ia dibanting pun tenaganya lemas, entah kenapa kekuatan dan kemampuan bela dirinya hilang begitu saja, Bram menatap seisi ruangan yang anehnya mirip dengan gudang listrik bawah tanah.
"Syarat apa lagi yang harus aku jalani?" tanyanya sebenarnya malas untuk bicara.
"Dirimu harus mengalahkan tiga puluh orang diantara kami di atas arena tanding. Bagaimana, apa dirimu bisa melakukannya?" kata pria itu menerangkan.
"Mengalahkan tiga puluh dari kalian, begitu kah?"
Pria itu mengangguk, "Benar. Tiga puluh pria dewasa. Jika dirimu berhasil keluar sebagai pemenang, maka dirimu diperbolehkan untuk bertemu ketua, tapi jika kalah, maka ..."
KREK ...
Pria itu menunjukkan gerakan tangan yang menggores leher, mengartikan kalau Bram kalah, maka nyawanya yang akan menghilang.
"Baiklah. Aku bersedia. Bahkan diriku yakin akan bisa mengalahkan lebih dari tiga puluh orang!" ungkapnya percaya diri seraya membusungkan badan dan mengangkat kedua bahunya.
Pria itu mengelus dagunya seirama dengan kepala mengangguk pelan, "Boleh juga semangatmu. Ketua pastinya akan senang jika bertemu pemuda seperti dirimu."
Bram menoleh, ia mengitari beberapa puluhan orang mengepungnya. Sementara kedua tangannya telah dilepas oleh dua orang pria berbadan SUMO! dan kali ini telah banyak orang yang mengepung nya, sehingga Bram menuju mata liarnya agar fokus mengalahkan dari mereka semua.
'Olive, dimana kau utusan langit! Kenapa aku tidak bisa menggunakan kekuatanku, kenapa tangan sengatan listrik ku hilang begitu saja.' pandangan Bram, yang fokus menuju lima orang dari kanan dan kiri, maju menghampiri seolah ingin mengeroyok. Sementara Bram, ada di tengah tengah mereka, dan di atas terlihat berjejer seolah penonton.
TBC.
__ADS_1