
Tiba di pagi hari Elea bersiap pergi ke mesjid, dari semalam entah kenapa hati berbunga bunga. Ketika Bram mengutarakan perasaan, ia merasa bahagia melupakan kesedihan akan putus sekolah dan pergi jauh. Sahabat karib kini entah status berubah atau tidak merasa konyol, karena Elea merasa nyaman dan aman, jika dekat dengan Bram meski status mereka masih pelajar.
Elea pun melihat jam delapan, kini penuh tanya janjian dan alasan apa pada ibu ia akan pergi bersama teman prianya. Dengan nafas panjang Elea meminta izin. Karena ia sadar Bram tidak pernah ingkar janji selama berteman, dan tidak pernah melihat keburukan selama ia lihat.
Tiba pukul sepuluh kurang sepuluh menit aku pamit ke ibu untuk pergi dengan Bram, meski penuh tanya kemana, aku pun tidak tau. Aku kilas menjawab.
"Mau ke sekolah ruang BP soal aku sekolah bu," terpaksa Elea berbohong lagi, demi menghindar dari pindahannya saat ini.
"Ampun ya Tuhan, maafin Elea berbohong kali ini." batinnya merasa bersalah karena dua hal ia berbohong saat ini dan tentang kerjaan freelance nya.
"Benarkah sayang, kenapa Bram yang antar ?"
"Kebetulan Bram searah bu, Elea nebeng sekalian aja." ibu pun mengizinkan.
Uuuuch. Ibu yg aneh tidak merasakan apa masa remaja terus saja bertanya detail. Meski Elea pun tidak tau sebenarnya dan berbohong kecil. Tiba saja hati Elea merasa berdebar. Tidak seperti biasanya. Apa mungkin karena sekarang canggung dan malu. Karena Bram semalam mengutarakan jadi aku pun merasa membalas, sikap seperti ini. Atau memang aku punya perasaan sebelumnya. Entah lah aku masih bertanya tanya bahkan sering kali mencari tau tentang perasaan diriku sendiri, lamunan Elea kala itu.
"Aku kenapa Ya?"
__ADS_1
Hingga ia berjalan dan menepi tak sadar sudah sampai. Bram menoleh ke arahku sebelum aku memanggil, ia sudah melihat lebih dulu dan tepat dihadapan Bram sudah amat dekat.
"Sudah siap El, maaf ya soal semalam. Aku tadi pesan kamu untuk ikut aku, syukurlah kamu masih mau nemuin aku." ucap Bram.
"Owh. Aku sudahlah, lagi pula aku ga mau bahas soal mangkok sendok emas kamu itu yang katanya bisa bicara aneh."
Bram terdiam, ia harus membuktikan banyak cara agar dirinya bisa meyakinkan Elea. Bram tidak bisa pulang ketempat asal, ketika mangkok itu bicara jika keduanya benar benar percaya dan benar saling mencintai, maka akan dengan sendirinya semua terbuka dari mana Bram berasal, dan Elea yang telah mati itu kembali hidup, lahir kembali menjadi remaja yang selama ini Bram cari terpisah karena jeblosan sumur system.
"Baiklah, aku janji ga akan bicara soal itu lagi." lirih Bram.
Tiba disuatu pemandangan ringan dingin penuh pohon pohon melewati komplek perumahan, Elea pun bertanya dan sedikit melirik kaca spion untuk menatap wajah cool sahabat pria nya ini.
"Bram kita kemana ?" Elea bertanya kembali.
"Ke rumah bibi aku El. Aku mau mengunjungi beliau, karena paman sakit juga ada titipan dari papa."
"Tapi kenapa kamu ajak aku Bram. Tadi katanya .. eeemh, apa kata orangtua kamu, yakin mengizinkan ?"
__ADS_1
"Udah tau Elea, sebab aku ga pernah bohong tiap apapun sekecil apapun." lirik senyum Bram menatap wajah Elea dari spion.
'Haah. Kok aku mulai ke sindir Ya.' batin Elea menjerit, karena mudah tak berkata jujur hingga membuat rasa bersalah jelas pada ibu.
"Nanti disana ada paviliun dan pemancingan kita seharian aja disana Elea. Aku ajak kamu biar kamu enggak sedih Elea dan kita bisa leluasa ngobrol serius."
"Serius. Apa yang mau kamu bicaraiin?"
Bram terdiam. Tapi perasaan Elea semakin tak menentu, pertama kalinya ia jalan sedekat ini bersama sahabat lawan jenisnya, seserius apa sih anak sekolah bicara, Apa akan sulit sama seperti ayah dan ibu yang kini menghadapi masalah dan sering berselisih.
Benak Elea melamun dan memutar mata ke arah samping. Namun sesekali menatap kaca spion, sekedar menatap wajah Bram yang ditutup helm, namun lekukan hidung dan mata indah terlihat itu terlihat jelas sehingga membuat teduh.
Tapi sorot mata Elea begitu kecewa, kenapa ransel Bram terbuka setengah, Elea menatap mangkok dan sendok emas itu kemanapun.
'Jika aku balas perasaan Bram! aku pasti kebawa tidak waras. Bagaimana bisa Bram pergi kemanapun, dan yakin jika benda ini bisa bicara. Hah! aku tidak waras, atau sebenarnya Bram yang tidak waras.' gumam Elea berkecamuk.
"El, kita udah sampai." lirih Bram, membuat lamunan Elea terhenti.
__ADS_1
"Ah, iy. Sebentar aku turun lebih dulu ya."
TBC