
"Hubby, aku lelah tak ada yang cocok dan sesuai. Lagi pula gaun itu sudah di rubah oleh om Dayu, untuk apa menghamburkan uang?"
"Sayang, jika uang aku hamburkan untuk dirimu aku tidak masalah, asalkan kamu lepaskan gaun itu dan cari yang sesuai disini!"
"Tapi aku mau yang di om Dayu, please .. hubby."
"Tidak, atau kita tak akan datang, begini saja aku akan carikan gaun disini. Tetap nanti kita lihat mana yang lebih pantas untuk besok acara malam."
Cih.
Siren pun menuruti dan berharap gaun yang senada dengan sahabatnya tetap dikenakan. Meski di rombak sedikit minim.
Beberapa Jam Kemudian.
Sahabatku telah datang, Kara pun menyapa pada Damar, begitupun sebaliknya Damar. Siren menarik Mikha dan Kara ke ruang meja Dady Bram. Mereka berdiskusi, tertawa, dan sedikit marah, dan sedikit mellow.
"Lihatlah, tiga wanita disana sedang membicarakan apa?" ucap Zei pada Damar.
Sementara Zei dan Damar menatap pada wanitanya. Mereka berbeda dengan Dani yang kesal melihat Zei menyukai Mikha, gebetannya, tanpa mereka tahu, jika Mikha telah menikah dengan sang paman. Hingga satu jam berlalu mereka berbicara dan segera pamit.
Semua mata tertuju karyawan butik menohok. Seperti ini kah, perkumpulan orang ternama, cantik dan handsome?! Bella menepuk karyawan lain, agar fokus dan melanjutkan pekerjaan kembali, sementara Hena semakin iri, berharap jika tak mendapati kakak kelas, seorang teman kak Damar jatuh cinta padanya. Hiks batin Hena berkecamuk penuh harap.
"Dah, sayang Kara, Mikha hati - hati ya, sampai jumpa besok malam. Ingat jangan ngebut ya Mikha, kasian Kara!"
Thanks muach, mereka berpisah, berpeluk cipika cipiki. Serasa berat, sayang sekali waktu terbatas.
'Next quality time jadi ya, satu hari full kita luangkan.' ucap Kara dan Mikha pada Siren.
"Yes, aku menunggu jadwal kalian yang padat longgar dan kosong, Mikha, Kara dah hati hati." Siren melambaikan tangan pada kedua sahabatnya itu hingga tak terlihat.
Sayang, rencana quality time bareng, sahabatmu apa jadi, kapan itu?!
"Iya hubby, tapi aku menunggu Kara cuti selama seminggu. Mungkin akhir pekan, dan Mikha jadwal kosong syuting, serta jadwal ia diberi job oleh paman, hanya aku sekarang yang sibuk ..?"
"Sibuk apa?"
Damar menatap istrinya penuh sorotan, dan memegang lengan istrinya, serta merangkul pinggangnya.
"Sudah, hubby malu ini didepan umum!"
"Jawab dulu sayang?"
"Aku sibuk seperti biasa hanya saja, ada baby besar yang selalu cemburu jika kegiatan ku padat. Haish."
Siren melirik dan Damar gemas, andai di rumah aku sudah menghukum mu sayang.
__ADS_1
Ampun, hubby aku hanya bercanda, jawab Siren saat Damar berulah mesra.
Hei, lihat lah kalian melupakan kami, jika benar ada quality time ajak ajak aku ya,
ucap zei. Kami juga, ucap Deni dan Dani.
"Aku .. mengajak kalian, seperti nya tidak bisa." ucap Siren.
"Kenapa sayang?"
"Karena ini quality time khusus, dan jika kalian ingin ikut, aku tanya sahabatku dulu. Sebab aku takut mereka membawa pasangan juga. Jika kalian ikut bawalah pasangan kalian! ucap Siren lepas menatap teman teman Damar.
"Hah, baiklah aku pamit."
"Ada apa dengan mereka hubby?"
Siren menatap suaminya, bergegas mengambil tas dan paperbag di ruangan butik.
Hubby, ayo aku lelah hari ini pegal sangat!!ucap Siren manja.
Damar pun segera memijit tungku leher istrinya, dan memberi kecupan manis saat meninggalkan butik.
"Biarlah hubby, percintaan sahabatmu dengan sahabatku biar mereka urus, sama hal seperti kita, apa kita pernah berfikir akan bersatu. Bahkan Mikha saja tidak ingin status menikahnya dikenal, karena pamanmu."
Silahkan tuan putri Damar, hati hati saat masuk, lalu Damar memakaikan belt. Dan menutup pintu mobil dengan manis dan manja.
Hena karyawan magang itu, hanya bisa memandang, melihat kakak kelas impian nya pergi tak berjejak. Hanya bisa mengagumi. Batin Hena yang membawa berkas laporan stok barang.
Esok berganti tiba, Siren dan Damar bersantai di rumah.
"Sayang, buat sarapan apa?"
Damar melihat istrinya di dapur dengan sebuah celemek, yang menempel pada bajunya. Sedikit kotor hidung dan pipinya.
Aku, tidak buat sarapan hubby. Apa kamu sudah lapar, sebentar lagi aku akan selesai. Aku sedang membuat cake brownies spesial ala nona Siren .. euum maksudku nyonya Damar.
Oh..., benarkah?! aku jadi penasaran rasanya sayang.
"Hubby, ini untuk Paman Kenan dan tante Narti, cake ini buatan terenak. Hari hariku, kamu tahu dia itu seorang yang supel mendukung kita bersama bukan?"
Siren menatap wajah suaminya yang cemburu dan masam seperti cuka apel.
"Terus saja mengingat, aku kira untuk ku."
Hubby, please sudah berapa kali aku mengatakan tak ada perasaan berlebihan pada paman, aku selalu menganggapnya paman keberuntungan, meski tak bertemu denganmu perasaan itu berbeda. Aku sudah lebih dulu membuatkan kamu, namanya brownies cinta. Cup Cup jangan masam begitu. Aku tak pernah menomor dua kan kamu!!
__ADS_1
"Benarkah, sayang. Eits lihat hidung pipi hitam, biar aku bantu apa yang kamu butuhkan, tenaga ku ini akan selalu siap siaga, apalagi siap dalam ..?" Damar terdiam sejenak membuat Siren penasaran.
Dalam apa hubby? Damar mencium bibir istrinya.
"Kamu mau tahu sayang?" bisiknya kriminal.
"Tentu, ayo katakan jangan buat bumil penasaran."
"Dalam ranjang, lalu Damar Mencium bibir tipis, sementara Siren menahannya."
"Hubby, sudah ah, kamu selalu seperti itu, ini di ruang terbuka."
"Baiklah, kalau begitu lihat itu sayang!" Damar menunjukan arah pojok kanan.
"Yang mana hubby ..?"
Muach .. Damar pun beraksi kembali, Siren hanya pasrah dan menerimanya tak menolak ketika suami berulah.
"Euuum .. jadi jika tak ada Dady seperti ini ya.
ucap Bram, yang sedang duduk.
"Dady sudah kembali?"
Damar dan Siren bersamaan terkejut. Bahkan Siren pun malu, ia membersihkan diri dan menyambut mertuanya. Dady Bram pun menyambut menantu dan anaknya yang nakal itu.
"Dasar bocah Dady, jika mau mesra mesra dikamar! tidak tahu malu, untung klien Dady pulang tidak lihat aksimu bocah!" Bram memarahi Damar.
"Maaf Dady."
Siren hanya tersenyum, Damar sudah pasti dengan seribu alasan membenarkan diri, bahkan lama mereka bercengkrama dan akhirnya makan bersama di pagi hari. Tak lupa cake cinta yang Siren buat, dihidangkan.
Damar dan papa mertuanya itu, memujinya, meski masakan tak cocok di lidah, tapi urusan membuat cake Siren patut di acungi jempol.
Hingga Sore pun tiba, Siren merajuk ingin memakai gaun yang telah dirombak om Dayu.
"Sayang, please jangan keras kepala dan merajuk seperti ini. Sudah hampir satu jam kamu merajuk, jika seperti ini aku mengalah."
"Ada apa sayang, Damar ada apa dengan istrimu?" ucap Bram yang telah rapih untuk pergi, terhambat melihat putra dan menantunya itu di tepi teras.
Sementara Damar akan pasrah, jika Dady Bram tahu, ia pasti akan membela Siren dari pada anaknya sendiri.
"Siren, apa putraku melukaimu?" tanya Bram, membuat Damar membola.
TBC.
__ADS_1