
Setelah melihat pesan, Bram sedikit bingung. Ia mengabaikan, dan berusaha mengabaikan menuju rumah Timun, dimana ia bekerja untuk menjualkan pada agent yang memintanya untuk mengirim, dan sampai saat ini setiap Bram antar paket tersebut. Bram akan selalu mendapat kode yang membuatnya banyak uang.
Tak lama, dalam perjalanan hati Bram yang melupakan Elea. Tiba saja, temannya Agi, menelepon.
Kring! Kring! Kring!
Belum juga Bram menelepon Agi, temannya itu sudah meneleponnya lebih dulu. Kebetulan sekali.
Dengan menggeser tombol hijau, Bram pun menjawab panggilan Agi.
Namun, bukan kabar baik yang di terima Bram, dari panggilan telepon si Agi. Agilah justru yang meminta tolong padanya.
“Bram kau benar telah di pecat dari resto, kau bekerja dimana saat ini bantu aku, tolong aku! Mati aku, Bram! Sepertinya hari ini aku pasti akan mati! Aku sedang di kejar-kejar debt collector! Aku… aku terlilit utang, Bram! Aku terjerat utang 600 juta. Itu kupakai buat melunasi pinjol-pinjol dalam dua tahun terakhir bekas operasi mamaku. Sekarang aku harus melunasi utangku itu, dan tagihannya 800 juta karena ada bunga! Kalau aku tak juga membayarnya hari ini, aku pasti mati! Orang-orang itu akan datang dan menghajarku sampai aku mati. Tolong aku, Bram! Tolong aku!” ujar Agi di ujung telepon sambil menangis terisak-isak. Dia tidak memberikan kesempatan kepada Bram untuk bicara, telah dipotong.
Mendengarnya, Bram langsung lemas seketika. Dia bingung sekarang harus bagaimana. Dia kesal kepada Agi, tetapi juga mencemaskan nasibnya. Agi adalah satu-satunya orang yang bisa dia anggap teman selama dia tinggal di kota ini.
Dan sebagai seorang teman, Bram percaya dia tak boleh diam saja. Sementara Agi sedang terancam bahaya. Akhirnya, meski tak yakin apa yang bisa dilakukannya, kepada Agi dia berjanji dia akan melakukan sesuatu untuk membantu Agi melunasi utangnya itu. Panggilan pun diakhirinya.
Bram, menghela nafasnya berat. Dia tak tahu apa yang harus dilakukannya. Dia mulai frustrasi.
“Ya Tuhan, kenapa jadi seperti ini? 800 juta? Dan harus hari ini?” keluh Bram, sambil menjambak rambutnya sendiri.
Dia juga ingin sekali berteriak, sekencang-kencangnya, tanpa peduli akan seperti apa orang-orang di sekitarnya bereaksi. Tetapi, sebelum sempat dia melakukannya, ponsel bututnya kembali berbunyi.
“[Selamat! Uang 1 miliar sudah di transferkan ke rekening Anda!]”
__ADS_1
Bram mengernyitkan dahinya melihat pesan yang tidak masuk akal tersebut.
“Dari aplikasi ini lagi? Dasar aplikasi tidak jelas!” umpat Bram.
Dia yakin sekali itu tipuan. Pesan-pesan itu benar-benar tidak jelas dan dia ingin sekali mendatangi si pengirim pesan untuk menonjok mukanya. Gara-gara pesan-pesan itu juga harinya jadi seburuk ini.
Bram terpikir untuk menghapus aplikasi yang tak pernah diinstalnya itu. Namun, dia teringat kalau saat ini sahabat baiknya sedang dalam bahaya dan sangat membutuhkan pertolongannya. Dan seandainya dia memang punya uang 1 miliar rupiah, karena setiap delivery yang ia kirim itu tidak lebih hanya jutaan saja.
“Ah, yang benar saja,” gumam Bram, sambil menggelengkan kepala. Dia pastilah begitu frustrasi sampai-sampai berkhayal sejauh itu.
Tetapi dia putuskan untuk membuka aplikasi m-banking di ponsel bututnya itu untuk sekadar mengecek saldo tabungannya. Dan ternyata… uang sebesar 1 miliar rupiah itu benar-benar telah ditransferkan ke rekeningnya! Itu benar-benar terjadi!
“Ini… serius?”
Mata Bram, terbelalak. Mulutnya terbuka. Tangannya yang tengah memegang ponsel bututnya itu gemetar tak henti-henti. Bram segera melaju kendaraan, setelah sampai di rumah pohon itu ia masuk dan memarkir. Meski penuh misteri, ia langsung menuju kotak dan memberikan bukti transfer senilai 8.000.000 juta rupiah di kotak penjualan.
[ 'Bram selamat, misi pertama bonus uang satu milliar sudah kakek kirim ke rekeningmu! gunakanlah uang itu sebaik mungkin, menolong orang dan apapun itu! Terimakasih sudah membantu kakek berjualan dan kamu bersedia mengantarnya!' ]
Gleeuuk! Terdiam Bram, kebenaran kakek Ruslan benar di sekeliling tak pernah ada yang tahu, setiap ia masuk ke rumah kakek Ruslan. Bram harus melihat suasana benar sepi, sehingga kali ini ia mengetahui beberapa tentang kakek Ruslan yang tidak ingin di ketahui banyak orang.
"Baiklah kek! Aku bersedia, seharusnya aku yang berterimakasih karena pekerjaan kurir ini, terlihat sulit menjual dengan harga fantastis. Akan tetapi imbalan untuk kurir sepertiku, sangat mustahil mendapat hadiah setelah pengantaran berhasil. Tapi maaf kek! Aku baru berhasil merekrut tiga pelanggan."
[Misi ke-1: Gunakan paling tidak 80% dari uang yang ditransferkan ke rekeningmu ini untuk menolong orang yang memerlukan bantuan dan mempermalukan orang yang sombong! Batas waktu: 3 hari! Jika gagal, rekeningmu akan dibekukan dan sesuatu yang buruk akan menimpamu.]”
Bram masih tampak mematung dan mengernyitkan kening. Dia tidak mengerti apa maksud pesan tersebut.
__ADS_1
“Misi? Dari siapa?” tanya Bram masih memandang layar ponselnya yang retak.
Bram heran kenapa dia harus melakukan misi yang entah dari siapa itu? Lagipula, dia masih bingung memikirkan bagaimana bisa dia mendapatkan uang sebesar 1 miliar rupiah, hanya dari mengantar paket sebuah timun emas, dengan kode slot yang ia temukan pertamakali.
‘Apa tujuan orang ini memberikan misi? Lagipula, misi macam apa ini? Dalam waktu tiga hari harus menghabiskan 80% dari 1 miliar? Akan di gunakan untuk apa uang sebanyak itu?’ berbagai tanya berkelebat di dalam kepalanya.
Lalu dia teringat Agi, temannya yang sedang dalam kesusahan terlilit pinjol itu.
‘Oh iya Agi! Aku harus segera menolongnya. Masalah misinya nanti saja dipikirkan,’ pikir Bram.
Dia lalu memesan ojek online dan menuju ke kost'an temannya itu. Tanpa disadari, seseorang memperhatikan Bram yang keluar dari pohon tersebut dengan sepeda motornya.
Sampai di kostan Agi! Bram mengetuk dan memberikan pada Agi dengan wajah suram saat membuka pintu.
"Bram, terimakasih kau datang. Bram, jika kau mau membantuku, aku harus membayar denda bunga sebesar delapan juta setiap hari. Sedangkan aku menjadi koki di tempat pak Harta di resto saja, tidak seperti itu. Kau tau kan, mamaku sakit keras." jelas Agi.
"Ini! Lunaskanlah. Jika kau lelah bekerja di resto pak Harta, bekerjalah denganku!" senyum Bram lalu kembali ke motor, setelah memberikan satu kantong plastik di tangan Agi.
"Wuuaah! Bram, kau kerja apa. Bahkan kehidupanmu susah dariku. Kita itu mengenal dan solid." panik kebingungan Agi.
"Lunaskanlah! Aku hanya perantara. Jangan pingsan ya! Aku harus bekerja lagi." senyum Bram, yang pamit.
'Apa kerjaannya sekarang? Apa dia jadi bandar obat obatan terlarang?' begidik ngeri, tapi Agi langsung masuk ke rumah, guna bersiap ke bank keliling untuk melunaskannya.
Sementara Bram, ia senyum diperjalanan karena jerih misinya sebagai pengantar kurir box, setiap hari menghasilkan jutaan dari misinya mengantar dan bisa menolong orang disaat kesusahan.
__ADS_1
Tbc.