
"Baiklah segera lakukan yang terbaik, Kita bertemu Dua jam lagi!" Bram, mengakhiri panggilan dan senyum tertarik menghiasi.
Saat ini Bram, menghampiri salah satu bagian keluarga Tjandra, dan bicara jika kediaman orangtua dari Siren, di villa tak jauh dari tepi pantai.
"Kita pasti akan bertemu Damar. Dua Orang Intel sudah berhasil Masuk Sebagai Tamu undangan penting, Siren akan menikah Kita harus lebih sampai sebelum acara dimulai."
Bagaimanapun Bram yakin, jika Damar selamat maka putranya akan berada disana, setidaknya menyelamatkan Siren, sekaligus bernego untuk menjauhi putranya.
Bram mendapat telepon, dari intel yang menyaruh bernama aleta, Ia masuk ke pemukiman villa yang ketat sangatlah tidak mudah. Sehingga pagi besok adalah hari yang Tepat. Bram sudah membawa undangan Private dan nama sudah tertera dibantu oleh Aleta, agar Bram bisa menciduk Daru yang di telah mencelakai putranya.
Merasa Bernafas kembali, mendapati anaknya masih baik dan sehat. Bram merasa bahagia dan tak sabar ingin bertemu putranya dengan keadaan sempurna.
Pagi hari pukul delapan pagi, di kediaman Villa.
"Maaf Acara Di tunda tuan, Pengantin Wanita masih belum Bersiap." ucap Pengawal di pintu utama.
Daru kala itu kebingungan. Kenapa Siren selama itu dia belum siap di hias pengantin. Sementara di ruangan lain.
"Pa Len ... Dia Kekasih ku yang hadir. Biarkan Dia masuk." ucap Aleta sang intel dari arah luar.
Penjaga undangan pun tersenyum karena ia bisa masuk, tapi jika ia meminta tak ingin dengan cara berpura pura. Bahkan penjaga itu tau, wanita dengan rambut bondol di sebrang sana adalah intel penting di area Villa pantai.
'Apa Katanya kekasih nona Aleta yang Seperti Pria mencari buronan.' Bram melirik ke arah mata Aleta, merasa terkejut.
"Tenang saja Tuan Bram, saya hanya bergurau agar tuan bisa masuk. Dan langsung Lah menuju lantai empat sebelah kiri. Ingat harus sesuai rencana!" bisik Aleta.
Setengah jam berlalu Bram pun menarik seseorang, terlihat nama di sebuah baju bernama Tor.
"Eeh... Apa - Apaan ini?" Tor melirik dan terkejut jika tuan Bram, telah dihadapan nya.
"Lepaskan dulu Tuan Bram, saya akan jelaskan!"
__ADS_1
"Penjelasan seperti apa? katakan dimana mereka semua, aku mencari mereka demi putraku kembali!" tegas Bram.
Tor segera menjelaskan dengan gugup! Bram pun masuk ke dalam ruangan rahasia. Di mana Tor, menjelaskan dan juga Bram meminta bantuannya.
"Baiklah, berjanjilah jangan ingkar. Jika aku di pecat oleh tuan Daru, saya bisa Bekerja padamu. Saya akan setia Tuan?" ucapnya mengeluh.
Sementara Bram tersenyum, "Ha..jadi kau Melakukan semua karena takut kehilangan mata pencaharian. Bodoh."
"Bukan begitu Tuan, saya Perantau dan Tidak sekaya Tuan."
Lalu Bram menepuk kepala Tor dan Berkata,
"Bisa cepat tidak lakukan dulu. Tugas bertemu dengan Daru dan ibu Nir!"
"Bisa Tuan."
Tor asisten Daru di villa pun, menurut dan memberi intruksi pada seorang pengawal pintu utama.
"Kau kenapa masuk kesini pak? anda pasti salah ruangan. Pergilah ke arah sebelah, pesta dan makanan disana banyak!"
Bruugh.
Bram dengan kesal, meninju pria muda seumuran putranya, dengan kesal Bram membuat pria itu lemas..
"Kau tahu, di mana putraku! Kau sakiti Damar, maka akan banyak kesakitan lebih dalam."
Da-mar. Daru syok! kala Damar yang telah ia suruh, lewat orang suruhannya, masuk ke tepi jurang, dan dia adalah putra pria paruh baya di depannya ini. Ibu Nir, yang melihat Daru di pukuli ia meminta bantuan keluar, sebagai ibu asuh Daru.
Keributan acara itu, membuat Daru dan beberapa orang di bawa ke kantor polisi. Adanya Bram dan orangnya benar benar menyusuri berapa ruangan, dan sekitar berpencar apakah ada Damar. Namun disana, tidak ada mempelai pengantin wanita bernama Siren, yang dikatakan Aleta, dia kemungkinan kabur satu jam sebelum pernikahan berlangsung.
Bram pun putus asa, ia berusaha sekali mencari keberadaan Damar, hal itu membuat Bram berteriak mencari keberadaan Damar, yang kala itu terlihat sebuah jurang dengan pepohonan bebatuan.
__ADS_1
Damar ... teriak Bram, dan beberapa orang bantuan. Namun benar, jika Bram mencari Damar seharian, seorang intel mengabarkan ada dua orang pria terdampar, namun yang satu luka parah di bagian kepala, dan satu lagi pria sedikit tua tak mampu berjalan, karena sebuah kakinya cidera.
"Dimana dia?"
"Sepuluh kilo saat kita turun pak Bram."
"Salah satunya, dia pasti Damar putra saya. Dan satu lagi ia adalah asisten kaki tangan saya, ayo cepat temui." ujar Bram yang sudah tidak peduli lagi, mencari keberadaan Siren dan keluarga Tjandra, kali ini Bram fokus pada Damar yang ditemukan, dan hukum pada Daru yang telah mencelakai putranya itu.
***
BEBERAPA BULAN KEMUDIAN.
Hari berganti bulan, kondisi Damar semakin baik dan pulih. Meski kali ini ingatan Damar sedikit banyak memori yang hilang, itu adalah sebuah berita bagus yang mungkin Bram inginkan agar putranya melupakan Siren.
Bahkan kali ini perusahaan kembali dilakoni Damar, ia tumbuh menjadi pribadi penurut dengan berbagai banyak bidang usaha milik Bram, dengan pencapaian meningkat. Hingga kali ini Bram, mempercayai sekertaris bernama Mikha, yang mampu membuat Bram yakin, putranya akan senang dan menyukai Mikha, putri dari rekan bisnisnya. Tentunya ia dari keluarga konglomerat dan pemerintahan yang namanya jelas sangat baik.
Mikha kepercayaan dari paman Bram, ia amat terkejut ketika Tuan Damar melihatnya. Damar menatap dia, bagai singa yang lapar penuh amarah, ketika nama kontrak kerja karyawan baru bernama Siren, entah kenapa setiap ada nama Siren, Damar akan seperti orang gila yang ingin marah tapi tertahan, Mikha memaklumi karena proses Damar pengobatan tidaklah mudah. Amnesia sementara dengan banyak tekanan emosi.
"Maaf saya salah bicara Pak?" Mikha pun menunduk tak berani menatap.
"Kita cari tempat makan dulu ditempat lain jangan ditempat ini, nama aneh bernama Siren cafe."
Kegiatan apapun, saat ini Mikha selalu mengabarkan pada paman Bram, tak lupa setiap pergi bertemu klien, Mikha selalu membawa obat Damar kapanpun di butuhkan.
"Ayo lebih cepat kau jalan!" teriak Damar.
Membuat Mikha senyum menghela nafas, semoga saja ia mampu membuat Damar kembali seperti dahulu, dan ingatannya pulih, meski paman Bram mengatakan tidak perlu.
'Sebenarnya kau lewati apa sih Damar? aku jadi ingin membantumu.' benak Mikha, berjalan dibelakang Damar.
TBC.
__ADS_1