
Beberapa mertua datang, hingga kerabat lain. Bahkan orang pintar, membuat kekaguman, dimana banyak hal sebuah alat canggih, di pasangkan ke infus Siren. Bahkan paman Alex mencoba membuat sistem infus memanggil nyawa seseorang di alam bawah sadarnya segera kembali, hingga Alex menyatakan pada Damar. Jika Siren sudah waktunya dicopot dari alat infus, dimana Damar tidak percaya.
Satu bulan, dua bulan dan hampir tiga bulan Damar akan pasrah, melihat Siren yang masih koma.
Ayah Siren, selalu mendonorkan disaat terpenting dokter membutuhkan. Bram dan besannya juga, ibu ningrum pak Ning selalu bergantian berjaga, melihat kondisi memprihatinkan. Terlebih kandungan Siren yang memasuki hampir tujuh sepekan lagi.
"Tuan Damar apa bisa ke ruangan saya?" ucap dokter.
Hingga tepatlah Damar yang tadinya sedang bekerja dari ruangan rumah sakit, ia berada di ruangan dokter.
"Baik dok, bagaimana dengan istri saya?"
"Kami sudah melakukan yang terbaik, tidak ada jalan kami harus melakukan caesar. Bayi dalam kandungan nona Siren, harus segera dikeluarkan, vitamin cairan tidak dapat bertahan lebih dari tiga bulan, karena akan berisiko pada bayi nanti. Meski prematur kami berusaha agar menyelamatkan bayi anda. Jika tidak ia akan sulit bernafas dalam keadaan seperti ini. Tuan Damar anda harus bersiap sedia, jika kemungkinan kami hanya bisa menyelamatkan bayi anda. Ini adalah anugerah sungguh keajaiban janin dalam kandungan nona Siren yang masih bisa bertahan dalam keadaan koma."
"Beri saya waktu untuk berfikir dua jam ini dokter, saya akan merundingkan."
"Baik pak, terimakasih atas kelapangan anda. Saya minta maaf!" ujar dokter.
Damar pun menangis menatap istrinya, terlihat Merli didepan pintu masih menangis. Damar menghampiri dan berusaha menjenguk Zie.
"Apa kabar terbaik untuk Zie! Mer, mengapa ia juga belum siuman?"
Merli pun memeluk Damar selaku saudara.
"Apa harus seperti ini, apa mereka memang mempunyai ikatan batin dan berjodoh di dunia berbeda, bagaimana aku bisa berpisah, aku menyesal telah mengabaikan dan selalu sibuk dengan kegiatan sosialita ku bersama kawan dan teman lainnya Kak Damar." ucap Merli dalam pelukan.
"Bersabarlah, maaf jika Zie tak mendonorkan saat itu, mungkin ia akan selamat. Maaf karena saat itu aku tak di samping Siren, sehingga aku menyusahkan suamimu Merli. Harusnya aku mencegah Zie mendonorkan golongan langka itu."
***
DUNIA BERBEDA DISAAT SEBUAH PINTU AKAN CAHAYA.
"Aku dimana ini, mengapa sulit tergerak kaki dan tanganku."
Tak lama seseorang wanita datang dengan sayap.
"Siren kamu kah itu?"
__ADS_1
"Hai Zie, pergilah ke pintu itu jangan menungguku! ada orang terpenting yang menunggumu. Maaf .. aku minta maaf telah menyusahkan mu. Kamu sudah melakukan yang terbaik untuk ku, darahmu sudah menyatu di nadiku, jangan biarkan orang terpenting menangis karenamu tak kembali.
pergilah akan ada kebahagian menunggumu di pintu itu!"
"Siren, Siren ... bagaimana dengan kau, Damar pasti sedih jika kau tidak ikut?" teriak Zie.
Dan ketika Zie meraih tangan Siren. Suatu cahaya menyilaukan dan pintu terbuka lebar, sehingga ia merasa terpental dan kembali dalam satu ruangan gelap. Cahaya itu, wanita itu telah menghilang dalam sekejap.
Hingga dimana Zie masih sangat berharap dan tak ikhlas akan cinta pertama, ia tersadar akan dimana momen indah. Menggadaikan cinta nya dan menikah dengan ikatan tanpa cinta, pilihan abi yaitu ayahnya. Pernikahan bisnis menjaga nama baik keluarga. Meski sudah memiliki anak, tapi rasa cinta tumbuh tak sedalam bersama Siren.
Tidak .. Siren!! Dan Zie membuka mata.
"Dok pasien telah siuman dan sadar."
"Baiklah segera panggil istrinya, saya akan mengecek pasien." ucap dokter.
"Mohon maaf, apa istri tuan Zie bernama Siren." ucap seorang suster.
"Ada apa dok, apa suami saya sudah siuman. Saya istrinya. Siren sedang dalam operasi."
"Baiklah, nyonya masuklah!"
Puluhan menit kemudian, Zie membuka mata dan menatap pelan. Pertama yang ia lihat adalah wajah Merli istrinya.
"Hai, tuan hatiku kamu akhirnya sadar." ucap Merli mencium tangan Zie,
"Maafkan aku telah mengabaikan mu. Maafkan aku terlalu sibuk akan segala urusanku, aku minta maaf honey."
"Merli, maafkan aku telah membuatmu khawatir, bagaimana dengan Siren?"
"Dasar bodoh, tuan hatiku tak menanyakan bagaimana perasaan istrimu ini."
"Maaf Merli aku khawatir dia tidak selamat, saat itu aku disambut tangan dan di dorong untuk masuk ke sebuah pintu dan dia menghilang. Dia hanya bicara agar aku untuk pergi, karena orang terpenting telah menungguku, kebahagian sinarku telah menunggu." jawab Zie pelan.
"Benarkah, honey. Siren berbicara seperti itu, sudahlah sembuhkan lah dirimu. Jika sudah kuat, kita akan menjenguk keruangan Siren, ia pasti akan baik baik saja."
Meski batin Merli, merasa gelisah jika pertanda Zie adalah memang benar Siren tidak akan selamat, mengingat banyak selang dan peralatan medis yang menempel.
__ADS_1
Satu jam kemudian, Damar telah menahan rasa khawatir dan menemani Siren diruang operasi, ia pertama kalinya mendengar suara tangisan bayi, entah perasaan apa. Apa ia harus bahagia, tapi ia sedih akan istrinya yang masih koma, terlihat selang infus masih menempel, di hidung dan mulutnya.
"Selamat tuan Damar, bayi anda laki laki, tapi kami masih harus membersihkan dan membawanya di ruang incubator untuk perawatan intensif."
Sehingga selesai pun Damar keluar, memeluk sang papa.
Bram menenangkan dan ia merasa sudah putus harapan, jika akan kehilangan Siren, tak lama ia melihat Zie menghampiri dan terlihat sudah lebih baik, ia di dorong kursi roda oleh Merli.
"Zie, kau sudah lebih baik?" ucap Damar.
"Yes, Damar aku sudah lebih baik. Bagaimana Siren, dan selamat atas anak laki - laki pertama mu." jawab Zie.
"Terimakasih."
Ketika dokter membuka pintu karena telah selesai, suster pun menghampiri.
"Selamat Tuan Bram, cucu anda selamat namun perlu dalam perawatan lebih dalam, tuan Damar kami harus memberikan lebih dalam untuk nyonya Siren, mari ikut saya keruangan. Saya membutuhkan anda, untuk hal ini dengan persetujuan!" ucap dokter.
"Dokter, ruang tindakan pasien ibu tak berdenyut. Monitor hemodinamik tak terlihat." ucap suster, dan dokter pun kembali masuk keruangan operasi, membuat Damar terdiam kaku tak jadi ke ruangan dokter.
"Dok saya ingin lihat istri saya, maaf tuan Damar kami akan berusaha semaksimal mungkin. Silahkan menunggu diluar!"
Sehingga Bram menahan dan tangisan pun pecah, Merli pun ikut syok apa benar akan berakhir, Siren tak selamat.
Ia pun memeluk Zie di kursi roda dengan menunduk dan duduk, rasanya jika ia kehilangan suaminya ia pun tak sanggup.
Sementara bulir - bulir air mata Zie tumpah dan berkata.
'Kamu harus kembali Siren, ada bayi yang menunggumu, lihatlah suami yang menyayangimu akan hancur disana.'
"Siren, jangan pergi aku membutuhkanmu, Dady bagaimana aku bisa menahan Siren Dady, ia sudah terlalu lama tidur. Bagaimana Damar menghadapinya."
Bram pun memeluk anak semata wayangnya.
"Bersabarlah putraku, terkadang kekayaan dan popularitas kita, dengan banyak nya alat canggih, sistem yang dibuat paman Alex pun tidak menjamin untuk membangkitkan nyawa seseorang. Dady minta maaf, tabahkan hatimu untuk lapang!" ujar Bram, seolah menatap memori mendiang Elea, dimana melahirkan Damar dengan banyak alat canggih, tetap saja tak bisa membuat orang yang ia cintai yang koma atau telah mati akan kembali hidup seutuhnya.
TBC.
__ADS_1