
Bram yang di dampingi pengawal, dan sudah terlanjur tua, ia tahu jika Mikha istri dari adiknya itu, tidak disukai oleh adik dan keponakan yang ia angkat. Maka dari itu ia memberikan Mikha berkas, untuk ia esok pergi dengan Ryo, terkait kasus Hari Hartanto dan membayar pengacara terkuat di tanah air. Dimana Mikha berhak, dan menjadi pewaris Hari jika ia tak ada, baik selama tak ada ia mewakilkan.
Esok Harinya.
Mikha yang telah penat, ia kembali memberikan sebuah bukti pada pengacara. Untuk bisa menemukan Lena yang kabur dan segalanya yang terselebung orang di belakangnya.
"Pak Rob, saya minta semua di tuntaskan. Saya ingin keadilan, bagaimana bisa abu suami saya berbeda dengan hasil dna. Saya mohon kejelasan!"
"Baik bu. Saya segera memproses Tersangka Lena, atas kejahatan di dua konflik. Saya akan hubungi ibu untuk perkembangan selanjutnya!"
"Empat ratus juta! Ini untuk transport. Saya lelah, akan kepolisian yang delay!" ujar Mikha, memberikan uang empat gepok.
"Bu, tidak perlu. Saya akan bekerja setelah semua selesai."
"Kartu black, ambil berapa yang bapak minta. Semua ada disini, saya ingin pembunuhan suami saya segera di hukum, tanpa pihak berwajib mengulur ngulur yang bersalah." ujar Mikha dan mereka selesai pamit.
Setelah kepergian pengacara. Mikha cukup bisa tenang. Sebuah bukti Lena yang berlaku curang dalam video Zona Rose. Mikha kini menuntutnya, atas ancaman Lena yang telah terlalu parah jika ia diamkan.
"Eri, kapan kita putar video rekaman Lena yang menjijikan itu? Kasus kecelakaan suamiku, itu jelas orang suruhan Lena."
"Setelah dashboard di temukan, kemungkinan malam ini benda itu di sembunyikan Lena. Kita akan buat Lena mendapat balasan setimpal."
Mikha pun sedikit merasa tenang, lagi lagi ia harus merasa kecewa. Jika semua terungkap, ada kemungkinan mas Hari, memang telah tiada.
"Mas, aku benar benar bingung. Mungkin benar, aku harus merelakanmu. Selama ini, aku mencarimu tapi tak ada titik terang." benak Mikha yang putus asa.
Hingga di mana, tiba saja Mikha yang pergi ke ruangan kantor berbeda dan terpisah dengan Eri. Ia harus segera merapihkan segala berkas yang benar saja sebuah catatan mencurigakan oleh karyawan mas Hari.
"Apa ini, data Puri. Ada apa dengannya. Kenapa bisa mereka menjalin satu panggilan dan chat sesering mungkin pada Lena, berkas ini siapa yang taruh."
Eri, memang mencari info dari seluruh orang yang pernah jahat, membuat Mikha celaka. Hingga di mana semua mulai terungkap perlahan demi perlahan. Bekerjasama dengan sebuah profider. Cukup mudah bagi Eri meminta dan melakukannya.
BRAAAGH!!
SUARA BENDA JATUH.
Mikha yang kaget, ia menoleh, mencari sumber suara jatuh. Hingga di mana, ia mencoba mencari tahu.
"Hello .. siapa di sana?" teriak Mikha, bergema.
Mikha berkali kali mencari tahu, tetap saja. Ia tak menemukan sebuah benda yang mencurigakan bahkan jatuh. Hingga di mana saat Mikha berjalan, ia melihat jendela yang terbuka lebar.
__ADS_1
Jendela itu gak biasanya terbuka? Apa Eri yang sengaja membuka. Tapi untuk apa, Mikha segera mencari tahu. Karena hari libur yang membuat Mikha banyak menyelesaikan seluruh masalah.
Ia tak ingin diam, Mikha tetap harus mencari tahu apa yang terjadi di balik motif Lena. Ia sadar, jika motif Lena yang berlebihan adalah bukan sekedar dendam di masa lalu.
Jika Lena kesal karena aku menikah dengan mantan suaminya. Tapi semua itu, bukankah aneh jika sikap Lena berlebihan padaku, setelah aku bahagia dengan pernikahan ini.
Mikha segera, melihat ke arah jendela. Entah dasar apa, ia ingin tahu. Namun begitu terkejut kala melihat titik darah dan seseorang yang terlihat terluka.
"Pak, anda siapa di sana?" panik Mikha, segera ia mencoba menghampiri.
Mikha mencari kunci cadangan, hingga di mana ia berputar mencari kunci cadangan. Jendela dari sudut arah dapur, terdapat pintu yang keluar ke arah balkon untuk mencari jalan keluar atau darurat. Sehingga pintu itu tak pernah terbuka.
"Aahhk!! ya ini dia. Kuncinya." batin.
Tak lama, Mikha segera berlalu. Lalu membuka pintu itu, namun tak ada orang yang ia lihat. Mikha berteriak, memanggil pria dari balik punggung tapi tetap saja tak ada. Hingga di mana, Mikha mencoba menutup pintu. Malah suara rintihan kesakitan.
Arrghhhh!! Toolong!! nada rintih kecil.
Mikha terdiam, ia kembali membuka pintu itu. Lalu dengan perlahan ia melepas sepatu yang ia kenakan. Karena sebuah lantai ruangan rahasia yang sangat licin.
"Hello. Siapa di sana?"
Mikha sedikit ngeri, kala menatap punggung baju abu abu dengan sebuah tangan diperban dan luka merah. Ada rasa mual dan sedikit bau, kala Mikha melihat dirinya dari samping. Sehingga Mikha mencoba menutup mulut dan hidungnya dengan penutup masker.
Mikha segera mendekat dan menatap ketika pria itu masih menunduk. Hingga di mana Mikha berjongkok dan membuat syok kala pria itu membuka mata sedikit yang bengap. Lalu wajah itu seperti mirip, dan bukan lagi mirip tapi itu adalah nyata masih bisa di kenali.
"Mas. Mas Hari, ini benar kamu mas?" teriak Mikha, dengan luka bakar masih dikenali, tapi satu tangan itu tak terlihat.
Aaaaaaakhh!! Teriak Histeris.
Tolong!!!!
TERIAKAN BU MIKHA MENGGEMA.
Teriakan Mikha, begitu histeris, melihat wajah yang memar dan merah di kelopak mata kiri dan tangan yang di perban terlihat tidak sempurna.
"Mas, kenapa kamu seperti ini. Aku akan meminta pertolongan. Kamu bertahanlah mas!" menepuk wajah dan menempelkan wajahnya pada pria yang sangat ia cintai. Mikha berusaha memeluk dan meminta Hari, bertahan.
Mikha sedikit ingin berlari, namun tetap saja ia sedikit pelan, karena dirinya yang hamil membuat Mikha tak bisa kencang dalam berjalan.
Tolong ... !!
__ADS_1
TERIAKAN MIKHA KEMBALI DALAM RUANGAN.
Mikha memencet tombol merah, hingga beberapa menit dua security datang.
"Bu, ada apa bu. Ada yang bisa saya bantu?"
"Panggil Ambulance, kamu Suri tolong bantu pak bos di balik pintu dapur. Kamu jalan sedikit ada seseorang yang duduk, tolong bantu saya!"
"Maksud ibu ..?"
"Cepat!!!" ketus Mikha dengan wajah panik dan marah, karena bukan saatnya menjelaskan.
"Cepat pergi ... cari bantuan jangan bertanya!!" teriak Mikha.
Nada kesal menyatu yang panik dan cemas naik satu oktaf. Membuat dua security terbirit berlari, hingga sampai salah arah.
Mikha gemetar menghubungi Eri, hingga di mana dengan cepat Eri berlari cepat dari gedung sebelah. Tubuh Mikha kini bergetar, kala dirinya melihat apa yang benar benar mengerikan.
"Sungguh kejam, kalian tidak punya hati nurani. Begitu membenciku, kenapa harus mas Hari, mengalami seperti ini!"
Hari sedikit sadar, ketika Mikha berteriak histeris dan menangis. Apalagi banyak berucap kata yang menyakitkan membuat hatinya sakit mendengar.
[ Ini bukan salahmu, Mikha sayang! ] lirih kecil Hari, dan menutup mata. Pingsan, karena kekurangan oksigen dan darah.
Eri yang tiba terkejut, ia segera menatap hal yang tak percaya. Entah harus marah akan perlakuan yang tega pada bosnya itu. Tapi mengingat kebaikan Hari sang pimpinan perusahaan kembali adalah hal bagus.
Belum lagi rasa bersalahnya pada Tuan Bram, Ia akan di maafkan, dan memberikannya kesempatan untuk menebus dirinya yang tak becus menjaga keluarga berkuasa.
***
DI RUMAH SAKIT.
Mikha dan Eri mendorong kursi roda pasein untuk sampai di ruang Ugd. Hal itu membuat banyak pertanyaan. Mengapa mas Hari bisa ada di balkon, atau sebenarnya suaminya telah di sekap dan di perlakukan keji oleh seseorang. Dan abu terbakar orang yang menolong sehingga alibi kasus berkelit.
"Mas, bertahanlah demi aku dan anak kita!" tangis Mikha histeris, masih mode menggenggam tangan dan bahu suaminya, saat ikut mendorong ranjang rumah sakit.
Hingga Hari masuk kedalam ruang Ugd dan segera di periksa. Mikha menatap Eri dan memerintahkan sesuatu.
"Eri, jangan beritahu keberadaan mas Hari saat ini, tetap cari semua informasi dan ruang cctv di seluruh ruangan. Beri beberapa pengawal untuk menjaga mas Hari jika ia pindah ke ruang vvip!"
Eri segera berlalu, namun dokter tiba saja keluar membawa wajah sedih tak ingin di bayangkan.
__ADS_1
"Ada apa dok. Bagaimana dengan suami saya?" tatap Mikha panik, masih memegang ponsel dengan layar terhubung nama Bram Hartanto.
Tbc.