
"Iya, Pah. Ada apa?"
"Papa ingin memindahkan seluruh S Konstruksi di bawah kepemimpinanmu. Papa sudah tua, jadi papa ingin menikmati masa tua dengan bermain bersama Damar, toh perusahaan dan penelitian milik Elea sudah di kerjakan oleh adikmu Bram, lantas kau urus juga lah kontruksi papa," putus Heru.
"Tapi Pah! Bram belum siap, perusahaan milik papa Reksa saja Bram masih terbengkalai, hanya sesekali pertemuan." jawab Bram yang merasa tidak enak. Padahal dia bukan siapa-siapa Heru karena bagaimanapun Heru, adalah mantan mertua jika kelak nanti Bram menikah lagi, tidak ada yang tahu ia tidak mungkin sendiri terus menerus.
"Kamu lebih dari siap, Bram. Jangan merasa sungkan, perusahaan papa itu terbentuk juga atas andil papa Reksa. Dia sendiri juga membangun perusahaan dan berkembang sangat pesat. Jadi dia mempercayakan kontrol Konstruksi pada saya," jelas Heru.
Ini fakta yang baru saja dia ketahui, ternyata papanya memiliki banyak usaha.
"Bram akan menerimanya, Pah. Bram akan mengontrol perusahaan, tapi tetap atas nama pah Hendaru, bagaimana pah?"
"Kenapa seperti itu?" tanya Heru, mengernyit tidak mengerti, kenapa Bram tetap menetap pakai nama panjangannya.
"Perusahaan Konstruksi adalah perusahaan besar, Bram tidak yakin jika para petinggi dan pemegang saham akan percaya padaku," jawab Bram dengan tenang. Ada banyak rencana yang terangkai di dalam benaknya.
Hanya saja, biar cukup dirinya saja yang tahu mengenai hal itu.
"Baiklah." Heru mengangguk paham, dia mengerti keresahan menantunya itu. Bagaimanapun meski tidak ada Elea, Heru masih anggap Bram adalah menantu terbaik meski dulu pernah menolak habis habisan.
__ADS_1
***
Di Berbeda Tempat.
"Serius kamu mau pakai Damar jadi senjata untuk membuat Jingga menderita?" Hari tidak habis pikir dengan pola pikir Bram.
Usai pak Heru pamit istirahat, keduanya mulai membahas hal-hal yang selama ini menjadi tujuan Bram.
Bram menggeleng sebagai respon atas tuduhan Hari, "Siapa yang bisa menyangkal kemiripan antara Bram dan Damar? Aku tidak akan menggunakan putraku sebagai senjata, Hari.
Meski bibir Bram melengkungkan senyum, tapi bagi Bram, senyum itu serupa iblis yang tengah menantikan seseorang memohon di bawah kakinya. Bram yakin, ada seseorang yang membuat istrinya yakni Elea menjadi drop, karena beberapa waktu sempat selamat dan bisa pemulihan. Tetapi dalam beberapa menit, kedatangan keluarga Elea, yang Bram tak tahu ia rasa, membuat Elea drop akan sebuah pembicaraan yang sedang Bram ingin tahu. Dan semua tertuju pada ibu Elea dan seorang wanita yang tak suka Bram dan Elea bahagia berkepanjangan.
"Kristal?"
Bram menggeleng. "Kristal sudah aku beri tugas lain," sanggahnya. Tetapi dia juga ingat jika tugas itu sudah tidak berarti lagi saat ini.
Ketika bertambah usia, sikap nonformal Bram minggir jauh. Pembawaannya lebih tenang menjurus misterius, jika masa mudanya meledak-ledak. Kini Bram terlihat kalem dengan mode yang bisa membunuh dalam diam.
"Ada seorang pemuda, dia tenang, cerdas, dan multitalent. Kamu akan suka saat melihat dia," tawar Hari, begitu mengingat seorang bocah yang selalu main di bengkelnya. Hari mengatakan demikian, sebab ketika komputernya mengalami error dan terkena malware. Pemuda tersebut bisa memperbaikinya, juga kecekatan pemuda tersebut menarik dan membuat sistem pertahanan untuk menyimpan data-data rahasia bengkel yang sempat berusaha dibongkar entah oleh siapa.
__ADS_1
"Ayo kita temui dia," ajak Bram nampak tidak terlalu antusias.
Hingga beberapa saat, perjalanan ditempuh. Bram dan Hari sampai juga. Di ruang sepi dalam sebuah bengkel mewah, seorang pemuda dengan wajah datar menatap pada layar komputer.
Meski jari-jarinya bergerak lincah dan cepat, tidak ada satu pun ekspresi yang muncul dalam wajah tersebut.
Angka-angka dan huruf abstrak berlarian dengan cepat pada layar komputer. Gerak jemarinya selaras dengan kejelian matanya saat menangkap virus yang dikirimkan untuk merusak sofware-nya.
Dalam sekali tekan, virus yang dikirimkan pada komputernya berbalik arah dengan kekuatan dua kali lebih cepat.
Semakin lama, dia semakin bosan karena tidak ada perlawanan yang menarik lagi dari perusahaan yang dia retas.
"Apa dia pemuda yang kamu bicarakan Hari?" tanya Bram.
"Bahkan sebuah system saja dia mampu mengalahkannya. Ada yang aneh, dia ajaib sepertimu Kak!" lirik Hari, membuat mata Bram mendelik.
TBC.
Sambil Tunggu Up! Mampir yuk ke temen litersi Author.
__ADS_1