Pengantar Box Jutawan

Pengantar Box Jutawan
MEMULAI MENGAJAR


__ADS_3

"Selamat datang Pak Bram. Ini adalah kelas yang nantinya Anda akan mengajar," ucap Olive dengan bahasa yang formal dan penuh senyuman serta keramahtamahan.


"Baiklah, utusan langit."


"Hey! Perhatikan bicaramu, panggil aku pak Ganda! Ingat ini di pelataran dunia mata mata."


Whooh! Ingin sekali tadi Bram, bilang jika tadi si Olive itu juga memperlihatkan gayanya yang tiba tiba hilang. Dengan kilat, sekejap sudah di ruangan berbeda.


"Ini jam mata pelajaran, senin kamis dan Jumat untuk masing masing bahasa. Di tiap jam 8 pagi sampai 3sore!"


"Tiga hari?"


"Yah! Sisanya kau boleh pulang, bagaimanapun bisnis tetap harus berjalan. Ingat peraturan yang aku bilang waktu itu!" kecamnya.


"Ah, baiklah. Aku tidak pikun." balas Bram.


Huuuft!! Bram, berbalik badan karena kelas yang dimaksudkan Olive tepat berada di belakangnya. Jantungnya sempat ingin copot, mengingat dirinya dan Olive datang dengan cara magic takut ada yang melihatnya. Setelah melihat kondisi kelas kosong belum ada yang datang, barulah Bram bernapas lega.


"Di sinilah Anda harus menjalankan tugas sebagai pemilik Takdir Langit," sambung Olive kembali, tanpa menurunkan senyuman yang jarang sekali Bram lihat. Bahkan bisa dikatakan kali pertama dirinya melihat Olive tersenyum ramah.

__ADS_1


"Jadi di sini aku akan mengajar? Lalu, pelajaran apa yang harus aku ajarkan ke mereka?" balik tanya Bram, yang sudah mendapatkan ketenangannya kembali, tapi tetap merasa bingung.


Bingung? Sudah jelas, sebab dirinya saja hanya mengenyam pendidikan di luar menguasai bahasa jepang. Itupun seluruh pelajarannya telah dia lupakan karena tak lagi peduli dengan pendidikan.


Olive tersenyum lebar sambil menunjukkan deretan giginya yang putih, "Itu terserah Bapak. Saya tidak peduli," gumamnya menahan kalimat tersebut di ujung giginya.


"Selesaikan misinya dan jangan pernah berpikir untuk mati. Paham?!" bentaknya kemudian, sekaligus mengakhiri perbincangan yang tak pernah ada ujungnya itu.


Setelah puas membentak, Olive pun segera melenggang pergi dari sana, meninggalkan Bram di depan kelas yang belum terdapat anak murid itu.


Melihat Olive dengan tatapan tajam seperti tadi, sedikitnya membuat bulu kuduk dirinya berdiri. Bram bisa merasakan aura kemarahan yang membuncah dari pria si Utusan Langit itu.


Setelah Olive menghilang dari pandangan, barulah Bram merasa takut kembali. Bukan hanya takut, tapi bingung dan cemas juga. Bingung harus melalukan apa saat jam pelajaran dimulai nanti?


Cemas karena pastinya suasana yang tercipta akan sangat canggung, terlebih lagi dirinya bukan orang yang mudah bergaul. Semasa hidupnya, Bram lebih menutup diri dari yang lain. Sehingga dia tidak memiliki banyak teman dekat karena sifatnya itulah.


Mereka yang masih mau dekat semata-mata hanya untuk harta dan Bram jelas-jelas mengetahui hal tersebut. Itulah alasan mengapa dirinya menjual seluruh aset milik kedua orang tuanya karena dirinya tidak ingin mengeluarkan banyak uang, hanya demi para penjilat itu. Meninggalkan rumah, dan berbisnis mencotoh mendiang sang ibu yang bisa sukses, keluar tanpa dengan peninggalan satu apapun.


Kriiing!!

__ADS_1


Bel pun berbunyi. Murid-murid segera memasuki kelas masing-masing tanpa terkecuali kelas yang di mana Bram, sudah ada di dalamnya.


Murid-murid pun sedikit terkejut ketika mengetahui guru mereka sudah berada di kelas, apa lagi gurunya kali ini baru mereka lihat.


"Haruskah aku melakukan ini?" batin Bram, yang merasa kikuk plus takut saat dirinya harus berdiri di hadapan murid-murid menengah pertama.


Merasa kikuk karena tidak tahu harus memulai dari mana? Dirinya sama sekali tidak memiliki pengalaman menjadi guru, bahkan dalam khayalannya sekalipun.


Klik! Ponsel bernada.


[ Lakukan tugas mu Bram! Sapa seluruh murid, menghela nafas dan senyum lebar. Bilang bisa! Pencet ibu jari, sebuah system akan membantumu! ] pesan System, tiba tiba saja ponsel pintarnya kembali hidup.


"Siang pak." ujar seseorang membuat mata Bram, menoleh ke arah suara itu begitu saja.


Tbc.


Dukung Like jejaknya ya all! Happy Reading.


Mampir Juga Genre Romance : Istri Genit Mas Faaz.

__ADS_1


__ADS_2