Pengantar Box Jutawan

Pengantar Box Jutawan
PENJELASAN BALAS BUDI


__ADS_3

Esok Harinya.


Mikha nampak biasa saja, dimana ia ingin suaminya bicara padanya, soal Sun System Anti Aging. Dimana ia masih melihat suaminya itu, berkutat dalam laptop dan ponselnya, sementara Mikha tak jauh memompa asi, kala sang baby sedang tidur di ayunan elektrik bayi.


Tlith!


Nada dering ponsel Hari, membuat ia berlalu menghubungi seseorang dalam beberapa puluh menit. Sampai mengakhirinya kata helaan Hari sulit diartikan menatap wajah istrinya.


"Mama sakit, aku harus pergi besok. Tapi, jika kamu dan anak anak ikut. Bagaimana apa sudah boleh naik pesawat?" tanya Hari.


"Mas sebenarnya, Mama Inggrid sakit apa? bukannya sudah sembuh dinyatakan sehat?"


Mikha di bilik kamar, memeluk sang suami. Menanyakan penderitaan sang mama, yang telah lama di rumah sakit. Meski begitu berat, Hari kini memberitahukan.


"Mas tak begitu tahu detailnya mama! sayang. Tapi yang jelas mama Inggrid menyembunyikan penyakitnya telah lama, hingga kakak kini amat syok dan tak mau jika dokter berbicara ia komplikasi lagi." jelas Hari.


"Aku sedikit prihatin pada mama mas, tapi...? Aku berharap mas dan semua tetap sabar. Percaya dan ikhlas, aku melihat wajah dan tubuh mama memang turun drastis ..." terdiam Mikha.


"Ya sayang, mas tahu. Meski begitu, kakak Bram tidak akan mau dan mengerti."


Hari pun menceritakan awal mula, kakak dari sang papa sakit. Ia begitu mengkhawatirkan kondisinya. Meski begitu, Hari saat itu tidak tahu apa yang harus di lakukan, sehingga penyakit seperti itu terlihat turun temurun.


Sehingga Mikha mendengarkan ketika mas Hari menceritakan kisah sang mama. Masih dalam mode menimang goyangkan ranjang kasur bayinya.


"Alex Hartanto. Putra kita yang akan menggantikan aku, semoga dia selalu bisa menjaga ibunya kelak jika tak ada aku."


"Mas, jangan bicara ngaur ya!" kesal Mikha.

__ADS_1


'Kamu tahu sayang, saat itu mas pikir sedang tertidur. Hingga sampai rumah sakit kala melihat tiba datang dan kami membawanya itupun, aku diceritakan sejak kecil.'


"Memang mama Inggrid sakit apa awalnya, aku boleh tahu mas?"


"Saat itu sebelum kejadian, mama dan aku pergi ke paris. Tinggalin ayah kami, dimana kakak Bram menjadi pelayan resto, hingga aku tidak tahu ia dihina. Sementara aku, di manja dipenuhi kebutuhan. Tapi saat mama meninggalkan papa, di saat ia sakit. Benar benar karena uang, mama membuat kesalahan. Itulah mengapa, kakak Bram murka pada kami, kami di usir selama setahun kembali, kakak Bram memaafkan kami. Itulah kenapa aku lebih menurut jika dengan kakak Bram, asal kamu tahu sayang. Mama membuat ulah, akulah yang bersedia menjadi apapun itu dalam penelitian sistemnya, asalkan jangan mama. Imbal baliknya, kakak Bram melupakan, dan memberikan kekayaan tanpa batas setelah ia sukses."


"Mas, lalu setelah hari itu apa yang terjadi?"


"Mama struk, karena kecelakaan di rumah sakit. Niat hati ingin mencelakai kakak Bram, tapi kena sendiri."


Hari terdiam, jika ia ingat aksi kejahatan sang mama. Sehingga sebagai gantinya, meski ia menjadi mirip seperti kelinci percobaan, ia akan patuh pada sang kakak. Semata kebahagiaan anak istri dan ibunya yang utama tidak pernah di sakiti dan di telantarkan.


Dahulu, Hari ingat kala di rumah sakit, terlihat dokter memberikan sebuah alat pacu jantung. Namun sia sia selama berapa puluh menit dokter pun terhenti menyelesaikan pemeriksaan terhadap pasien.


Hari saat itu menatap dari bilik kaca bening, air matanya semakin deras. Tubuhnya lemah tak berdaya, mata semakin sembab dan lingkar gelap terlihat jelas. Pola makan yang memang sedikit tak teratur dan kurang tidur ia akui.


Hari, semakin sedih menatap sendu wajah Papa. Ia menyangga peluk tubuh Papa yang hampir hilang kendali, lemas tak berdaya duduk di kursi luar kamar perawatan. Entah harus bahagia atau sedih, karena semua itu bercampur rasa, terlebih beberapa hari akan menjelang pernikahan tante Mir namun dibaluti dengan duka. Ia amat terluka dan prihatin memahami perasaan luka dan duka yang Papa alami, karena ulah sang mama.


Hari Hartanto mencium kening papa, tubuhnya tergontai lemas duduk dengan tatapan kosong. Wajah pucat pasi karena ia berlarut dengan menangis.


Dokter memanggil keluarga pasien telah siuman dari masa koma nya. Ia melaju langkah dan mendekat pada sosok yang dekat.


Papa .. pasti sembuh, Hari sudah siapkan operasi terbaik dan Papa akan sembuh. Ucap nya. Akan tetapi nyawa Hartanto saat itu tidak tertolong, dimana Hari harus ikhlas. Apalagi saat itu ulah sang mama.


Dan tepat beberapa hari kemudian, sang mama jatuh sakit dan struk berkepanjangan. Dimana senjata makan tuan, membuat Bram yang murka menginginkan mereka pergi jauh. Akan tetapi Hari, meminta Bram memaafkan, dengan catatan Hari akan merubah sang mama menjadi lebih baik.


Wajah Papa Hartanto hanya tersenyum wajahnya yang pucat menampakan cahaya senyum yang berbinar aura kebahagiaan. Sang papa segera memajukan gerakan tubuh tapi amat sulit. Dengan suara yang tersenggal dan nafas yang sulit ia memaksa bicara.

__ADS_1


"Hari, berbahagialah dan nurut dengan kakakmu Bram, kelak titip amanah kalian sama anak anak papa, rukun dan saling lah kalian berdua!"


"Baik pah, Hari pasti akan jaga dan saling menjaga." ujar Hari, hingga kini ia menepati janjinya.


Tak lama, sebuah monitor berubah menjadi garis datar kesamping, Hari memencet tombol darurat. Tak berselang lama papa kembali menangis dengan panik. Hari tak sabar dan sedih ingin rasanya ia melindungi selalu sang papa ketika kakak satu satunya telah pergi. Namun begitulah, dengan masih ada nadi nafas, hingga kini masih dalam kritisnya.


"Hari, sayang, ayo kita tunggu keluar!" titah Seseorang yang saat itu merasakan sakit di jantung, tapi tak menampilkan. Hingga tiba datang ikut menjenguk.


Terlintas dokter kembali dan akan berusaha sebaik mungkin. Tak berselang lama dokter dan beberapa tim medis kembali.


Keluarga besar Hartanto, pada masa dan zamannya. Ia menatap wanita paruh baya yang benar amat bersedih, Ia sebagai pria tak pernah menitikan air mata dihadapan wanita dan pria. Tapi ini pertama kalinya ia rapuh ikut hancur begitu saja, melihat ketegaran sang papa tapi hatinya amat rapuh. Jika tau ibu itu kritis, maka itu mengingatkan luka lama saat Hari kehilangan sang papa. Maka dengan Mama masih kembali kritis, Papa merasa bersyukur jika Mama benar masih bisa di selamatkan, dan entah apa jadinya jika tak lagi bersama.


"Jadi itulah ceritanya sayang, bagaimana?"


"Aku turut bersedih, aku minta maaf kamu jadi mengingat masa sedih itu."


Hari, pun menceritakan kala saat itu, dimana ia dan tanggal sama seperti dirinya di lahiran, dimana sang ayah wafat dalam keadaan tiba tiba.


Di pemakaman Chemetery.


Hari, masih duduk termenung di batu nissan, yang sudah rapih dengan alas alu lalang tanaman rapih. Dua jam berlalu semua pelayat telah kembali pulang dan mulai sepi. Ia memakamkan sang papa tepat di samping sang nenek dan bibi. Karena mendiang telah menyiapkan pemakaman untuknya kelak, ia menitipkan surat sebelum pergi dengan begitu hancur pilu.


Tak menyangka sudah terlalu lama papa Hartanto pandai menyembunyikan rasa sakit ini dan harus tahu kehilangan adalah hal menyakitkan, dimana mereka sembunyikan rasa sakitnya pada Bram dan Hari saat itu juga.


Dua hari kemudian Hari, menatap rumah telah dihiasi pernik untuk pernikahan Mir, sang anak angkat. Padahal sang bibi, meski akad dirumah sebelah yang ditinggalinya berduka, tetap saja undangan telah tersebar. Tapi tak jauh beda karena dua rumah satu pekarangan ini hampir sama hanya dibatasi beberapa jarak dua mobil. Ia turun dari tangga entah ia harus bahagia atau sedih, kini ketakutan itu semakin takut.


Dan itulah kisah awal mula ibu, dan sang kakak yang bisa sukses dibalik itu semua ada banyak hal kepahitan, bagi ingatan Hari saat ini.

__ADS_1


Hari pun berjanji pada Mikha, jika ia akan membahagiakan Mikha dan keluarga kecilnya. Dimanapun dan Kemanapun ia berada, selalu bersama tak pernah jauh sedetikpun.


TBC


__ADS_2