
Beberapa jam kemudian.
Damar, sudah bercengkrama dengan sahabat Dani, Deni, Zei. Sementara Bram berkumpul dengan keluarga besar, orang tua siren pun hadir. Bahkan seluruh keluarga hadir tak satu pun yang tertinggal absen, dengan begitu meriah.
Kara, mari kesini! lihatlah Tante Nara sangat cantik, dengan tema peach blossom dan biru langit, jika padam gaun itu pasti akan menyala. Siren, Kara, Mikha telah berfoto ria, merangkul dan tertawa lepas, sebelum acara pesta dimulai nanti malam.
"Paman Kenan, selamat semoga kalian berbahagia. Tante Nara good, aku kagum padamu." ucap Siren.
"Thanks, Siren aku amat banyak berterimakasih padamu." Nara pun merangkul memeluk Siren.
Oh, ya cake spesial buatan tangan ku, jangan lupa dimakan. Tante Nara jangan lupa di potong seperti aku bisik tadi.
Wah, makasih ya Siren, Paman jadi enak, kalau boleh buat tiap hari kirim ke kami ya!!
Eh, amit deh ke enak kan, nanti aku kasih resep biar Tante Nara yang buat paman, oh ya tante aura nya beda lho. Rencana bulan madu gimana?! bisik nya membuat Nara malu.
"Apa sih Siren, bikin aku malu aja." jawab Nara sementara paman Kenan, memerah.
Pasti Tante Nara duluan yang gahar Siren, bisik Mikha kala itu.
Hahaha .. ia kaya gak tau aja. Lain kali paman peka dong, sekali kali nyosor gitu, harus di dorong aja sih kaya gerobak.
Eh, kamu meledek paman lebih tua dari kamu lho Siren.
Hehe .. semua tertawa dan perdebatan pun semakin ekstrim, mereka bercerita dan tertawa sehingga photographer yang memotret pun ikut bahagia tertawa pecah.
"Damar, tidak salah tiga wanita disana memakai baju feminim sekali kembaran ya, eekh tapi istrimu lebih cantik setelah gaun dirombak kemarin ya? lalu Mikha, Kara ikut di rombak juga bawahnya, aku lihat story Mikha di sosmed.
"Demi bumil akan selalu sama."
"Heuump, sudah dua jam belum Dani?"
__ADS_1
"Kenapa memangnya, Bro."
Dani pun melirik Deni, sepertinya masih setengah jam lagi ada apa memangnya.
"Aku hanya memastikan agar istriku berganti gaun pesta, yang ku beli kemarin saat di butik. Dua jam cukup memakai gaun tidur itu, aku merasa gerah ketika ia memakai itu, apalagi di depan paman."
"Ya ampun, Damar masih saja cemburuan rupanya ya, itu bukan gaun tidur, bridesmaid ala trend masa kini."
"What ever .. alasan apapun aku hanya menginginkan istriku ganti dengan gaun yang ku beli, makan malam menyambut pesta ini dan berdansa. Aku tak ingin banyak pria lain menatap istriku nanti." cetusnya.
"Hoh, dasar pria cemburu akut." ucap Dani.
"What ever you say. Tuan Damar terlalu bahkan dia mengekang kecantikan istrinya terbuka." tambah Zei, meledek.
Eh, bukan begitu aku hanya ingin...? belum Damar selesai bicara, sahabatnya sudah meninggalkan nya.
"Dasar sahabat mata jelalatan, masih saja ingin menatap wanita bersuami, suaminya di depan dan terang terang lagi. Awas kalian!" ucap Damar memicik bibir kesal.
Tak Begitu Lama.
"Tentu sayang, mengambil gaun mu sudah ku siapkan."
"Baiklah hubby, kita sama - sama merapihkan, aku akan menambah dasi pesta dan memastikan kamu perfect di mataku, jangan lah merajuk lagi, aku padamu, please!" Siren membentuk tanda love jari tangannya.
"Tentu sayang, aku hanya risih jika melihatmu memakai gaun itu, gaun itu mirip seperti gaun tidur."
Hubby, kamu aneh sekali, apa pikiran mu sedang menginginkan. Sehingga menatap kostum ku seperti itu, Siren melirik mata suaminya, namun terjangan kecupan kilat menyambar dari bibir Damar.
"Muach, sepertinya sayang."
Dua jam berlalu acara pesta dimulai, Paman dan Nara melempar bucket bunga. Sementara Siren dan Damar hanya duduk dimeja kebesaran tamu, terlihat Mikha yang antusias.
__ADS_1
"Lihatlah, Mikha begitu semangat apa dia sudah punya pacar sehingga seperti itu?"
ucap Dani yang satu meja dengan Damar.
Iya, Mikha memang sudah, juga Kara akan bertunangan. Tak lama Siren diam dan melirik suaminya, serta menatap Deni dan Dani yang terkejut karena ucapan itu lepas begitu saja.
Batin Damar, Mikha adalah iparnya juga. Hanya saja pernikahan dengan paman Hari, benar benar tidak diketahui publik karena ego Mikha yang menjadi model, bahkan kehidupan mereka sedang tidak baik baik saja.
Tak lama, bucket jatuh pada Kara, semua mata bersorak dan acara selanjutnya adalah dansa. Damar sudah lebih dulu siaga, dan memegang peluk erat pinggang istrinya agar tak jauh dari hadapannya.
Sementara Dady Bram sudah lebih dulu pulang, dan bergegas ke mansion keluarga besar, sehingga selarut malam apapun Siren dan Damar bebas pulang.
"Sayang, apa kamu menyesal menikah muda denganku?"
"Tidak hubby, aku merasa sangat dilindungi olehmu. Juga ibu ayah tak khawatir karena kamu menjagaku."
Damar pun memeluk Siren dari belakang dan memegang perut nya yang kini beranjak tiga bulan meski belum terlihat.
Cie..., mesra terus nih, seterusnya ya, hati hati Siren pee- kaa- eer. Kalau nanti datang ? kalian mesra bucin terus bikin pasangan lain iri, ucap Mikha lewat, hanya dialah yang menunggu suaminya Hari, tapi tak nampak.
Apa itu pe-ka-eer sayang? ucap Damar berbisik pada istrinya, sementara Siren tersenyum tak menjawab karena malu.
"Hai, Mikha, kamu ini ada ada aja, kamu sibuk dengan ponsel sedang menunggu ya?" ucap Siren, agar Damar tak menanyakan apa itu.
Heum .. itu Siren, aku harap kalian jangan terkejut ya, siapa yang datang aku ajak seseorang, dan sepertinya di undang juga, karena dia yang datang, adalah anak kerabat dari orangtua paman Kenan. Terutama suami mu ini Siren, jika ia melihat semoga tak salah paham.
"Memang siapa yang datang?" ucap Damar.
"Kenapa juga, aku harus salah paham." tambah Damar kesal, menatap Mikha yang menyebalkan.
Siren menatap suaminya, karena jujur, ia juga tidak tahu, apa yang di ucapkan Mikha menuju arah pintu.
__ADS_1
TBC.
Terimakasih Sudah Selalu Dukung Kisah Bram yang berlanjut ke anak anaknya All.